BPBD Banten tegaskan fokus utama mitigasi Gunung Anak Krakatau Level IV adalah ancaman tsunami, bukan abu vulkanik, dengan golden time evakuasi 40 menit.
Serang, StartNew – Pemerintah Provinsi Banten mengalihkan fokus utama mitigasi hilir dari sekadar erupsi abu vulkanik menjadi kewaspadaan terhadap potensi tsunami, menyusul peningkatan aktivitas Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda yang kini berstatus Level IV (Awas).
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Banten Lutfi Mujahidin mengatakan dampak semburan material gunung api tidak akan mencapai permukiman warga di daratan Banten, melainkan ancaman gelombang tinggi yang dipicu oleh aktivitas bawah laut.
“Fokus kami bukan gunung meletus, tapi tsunami. Kalau meletus, cuma abu yang ke sini,” kata Lutfi Mujahidin, Kamis (9/7/2026).
Menurut Lutfi, indikator potensi tsunami menjadi satu-satunya penentu bagi pihak berwewenang untuk mengeluarkan perintah pengungsian massal bagi warga pesisir. Aktivitas vulkanik di atas permukaan laut tidak serta-merta memicu evakuasi jika tidak disertai guncangan tektonik atau runtuhan material yang signifikan ke dalam laut.
“Tergantung. Kalau cuma erupsi di atas, apakah itu menimbulkan gempa atau tidak? Kalau tidak menimbulkan tsunami, ya tidak apa-apa,” tuturnya.
Berdasarkan perhitungan teknik mitigasi, masyarakat di sepanjang pesisir Selat Sunda hanya memiliki waktu sekitar 40 menit untuk menyelamatkan diri ke dataran tinggi setelah tanda-tanda tsunami terdeteksi. Waktu yang terbatas ini menuntut respons cepat seluruh elemen masyarakat dan petugas di lapangan agar tidak terjadi keterlambatan penanganan.
“Dari letusan gunung ada waktu 40 menit. Jadi, ketika meletus dan ada potensi tsunami, waktunya 40 menit. Kalau masyarakat tidak paham, mereka bisa santai saja. Jadi, kalau air laut sudah surut, jangan diam-diam saja,” kata Lutfi.
Guna memastikan rantai informasi berjalan tanpa hambatan, BPBD Banten memperketat koordinasi real-time dengan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG). Langkah ini juga diperkuat dengan melatih personel Badan Penyelamat Wisata Tirta (Balawista) sebagai garda terdepan dalam memandu proses evakuasi mandiri wisatawan dan warga lokal.
“Secara informasi kita mengikuti PVMBG. Kemudian, kita sudah memberikan edukasi evakuasi secara mandiri. Kepada Balawista juga sudah kita lakukan pelatihan pertolongan,” ujarnya.
Pemerintah daerah mengimbau warga tidak menyebarkan spekulasi yang memicu kepanikan massal, melainkan fokus pada pengenalan rambu-rambu kebencanaan yang telah terpasang di sepanjang jalur rawan.
“Jangan panik, jangan takut. Yang penting, kalau berada di wilayah bencana, kenali jalur evakuasi yang sudah dipasang, ikuti jalur evakuasi dan menuju ke titik kumpul,” kata Lutfi.
Reporter: Sir





Discussion about this post