• Media Kit
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
Senin, Mei 25, 2026
  • Login
Start News
  • Home
  • Newsline
  • Madina
  • Sumut
  • Nasional
  • Kabar Desa
  • Figur
  • Hiburan
  • Start TV
  • Start FM
No Result
View All Result
  • Home
  • Newsline
  • Madina
  • Sumut
  • Nasional
  • Kabar Desa
  • Figur
  • Hiburan
  • Start TV
  • Start FM
No Result
View All Result
No Result
View All Result

Estetika Kota Melawan Isi Perut, Menimbang Kebijakan Penggusuran Lapak UMKM

by Redaksi
Selasa, 7 April 2026
0 0
0
Estetika Kota Melawan Isi Perut, Menimbang Kebijakan Penggusuran Lapak UMKM

Ilustrasi.

ADVERTISEMENT

PANYABUNGAN bersolek dengan cara yang cukup menyakitkan bagi sebagian warganya. Senin (6/4/2026) kemarin, sepanjang Jalan Willem Iskandar di kawasan Aek 8 menjadi saksi bisu ketegasan Satuan Polisi Pamong Praja Kabupaten Mandailing Natal (Madina) dalam merapikan wajah ibu kota.

Dengan alasan penegakan fungsi fasilitas umum dan estetika kota, deretan lapak semi-permanen yang selama ini menjadi pusat denyut ekonomi sore hari diratakan dengan tanah. Namun, di balik tumpukan kayu dan parit yang kini melompong, terselip sebuah pertanyaan mendasar. Apakah keindahan kota harus selalu dibayar dengan matinya ekonomi rakyat kecil?

Tindakan pembongkaran lapak itu memang memiliki dasar hukum yang kuat, karena trotoar adalah hak pejalan kaki dan parit adalah saluran air. Namun, kebijakan yang hanya mengandalkan otot penertiban tanpa dibarengi otak pemberdayaan adalah langkah yang timpang.

Kawasan Aek 8 bukan sekadar deretan lapak kayu, melainkan ekosistem sosial dan ekonomi yang telah menjadi ikon bagi warga Panyabungan. Membongkarnya tanpa menyediakan alternatif instan, itu sama saja memutus urat nadi kehidupan para pelaku UMKM yang baru saja mencoba bangkit.

Target estetika yang dikejar pemerintah daerah terasa sangat dangkal jika hanya bertujuan mengejar kecantikan visual semata. Sementara kesejahteraan warganya diabaikan dalam prosesnya.

Membongkar itu perkara mudah, Bos. Namun, menata agar semua pihak menang yang jadi tantangan sesungguhnya. Sebagai solusi, pemerintah daerah seharusnya tidak berhenti pada kata “larangan”, melainkan bergeser ke arah “standardisasi”.

Alih-alih melarang total, kawasan tersebut bisa diubah menjadi zona kuliner resmi atau street food zone dengan aturan yang ketat. Pemerintah dapat mewajibkan penggunaan gerobak yang seragam dan bersifat knock-down atau bongkar pasang, sehingga lapak hanya berdiri pada jam tertentu dan trotoar kembali bersih di luar jam operasional tersebut. Dengan cara ini, fungsi fasilitas umum tetap terjaga tanpa harus mengusir pedagang.

Jika trotoar memang harus steril sepenuhnya, maka pemerintah berkewajiban segera menyediakan lahan relokasi yang terpadu atau semacam pujasera di lokasi yang tidak jauh dari titik semula. Lokasi baru ini harus memiliki tingkat keramaian yang setara agar pedagang tidak “mati suri” di tempat baru.

Selain itu, pemerintah bisa menerapkan sistem retribusi yang transparan bagi para pedagang untuk membiayai petugas kebersihan khusus dan pemeliharaan drainase. Dengan begitu, para pelaku UMKM tidak lagi dipandang sebagai pengganggu estetika, melainkan mitra pemerintah dalam mengelola ketertiban dan kebersihan kota.

Ketegasan aparat dalam menjaga kedisiplinan memang patut diapresiasi. Namun, wajah kota yang cantik tidak akan ada artinya jika di sudut-sudut jalan warganya meratapi nasib karena kehilangan mata pencaharian.

Jangan sampai Panyabungan menjadi kota yang indah dipandang dari kejauhan. Namun, terasa dingin dan pahit bagi rakyat kecil yang mencoba bertahan hidup di dalamnya. Menata kota harus dilakukan dengan hati agar kebersihan yang dihasilkan tidak menyisakan luka sosial yang mendalam.

Melihat pola penertiban yang akan terus berlanjut selama dua pekan kedepan ini, menurut Anda, apakah sebaiknya para pedagang mulai berinisiatif mengajukan konsep pasar sore yang tertata secara mandiri kepada pemerintah sebelum penggusuran berikutnya terjadi?

Penulis: Saparuddin Siregar | Pemimpin Redaksi StartNews.co.id

Tags: Estetika KotaIsi PerutKebijakanLapak UMKMMelawanPenggusuran
ShareTweet
Next Post
Sumut Pelopori Sistem Pendaftaran Bisnis SDGs Pertama di Indonesia

Sumut Pelopori Sistem Pendaftaran Bisnis SDGs Pertama di Indonesia

Discussion about this post

Recommended

Dua Tahun Lahan Pertanian Terandam Banjir Kiriman dari Bandara AH Nasution

Dua Tahun Lahan Pertanian Terandam Banjir Kiriman dari Bandara AH Nasution

2 tahun ago
Siang Tadi Si Jago Merah Melahap Tiga Ruangan SD Negeri 225 Muarapotan

Siang Tadi Si Jago Merah Melahap Tiga Ruangan SD Negeri 225 Muarapotan

11 bulan ago

Popular News

  • Pemkab Madina Kembali Gelar Pelantikan Pejabat Hari Ini

    Daftar Nama 166 Pejabat Pemkab Madina yang Dilantik Hari Ini

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Jamin Kecukupan Penumpang Pesawat, Kepala Daerah se-Tabagsel Sepakat Hidupkan Dua Bandara

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pemkab Madina Kembali Gelar Pelantikan Pejabat Hari Ini

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Madina Dicoret dari Daftar Penerima Dana Bencana Rp10 Triliun

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mengenal Hipotensi dan Hipertensi, Bagaimana Pencegahan dan Pengendaliannya?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Contact
  • Home
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi

© 2026

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

error: Copyright Start News Group
No Result
View All Result
  • Home
  • Madina
  • Sumut
  • Newsline
  • Nasional
  • Newsline
  • Kabar Desa
  • Opini
  • Figur
  • Komunitas

© 2026