ASAP kretek mengepul tipis di sudut sebuah lopo kopi di pusat kota Panyabungan. Matahari baru saja meninggi, tetapi obrolan di meja sudut itu sudah memanas. Empat wartawan yang baru saja selesai meliput agenda di kantor bupati sibuk mengaduk kopi masing-masing, siap membedah carut-marut keuangan daerah.
“Pening kali awak dengar curhatan Bupati H. Saipullah Nasution pas terima audiensi pengurus PWI Madina semalam. Blak-blakan kali dia bilang keuangan Pemkab lagi tak baik-baik saja akibat lonjakan beban anggaran tahun 2026 ini,” kata Ucok sambil menyesap kopi hitamnya pelan.
Ucok ini redaktur senior yang kritis, berwawasan luas, selalu melihat gambaran besar dari sebuah kebijakan, serta bicaranya tenang namun menohok.
“Macam mana tak oleng, gaji PPPK penuh waktu sama paruh waktu aja nyedot kas daerah habis-habisan tahun ini sampai menguras kas kita. Udah gitu, dana Transfer ke Daerah (TKD) dari pusat pun nyangkut belum balik ke kas daerah. Ditambah lagi situasi pasca-bencana kemarin yang belum mendapat kucuran bantuan dari pemerintah pusat, makin pusinglah kepala daerah itu,” sahut Togar, wartawan lapangan yang selalu meledak-ledak, ceplas-ceplos, vokal, dan paling cepat gemas melihat kelambanan birokrasi pemerintah.
“Betul itu, kasihan juga kita lihat kondisinya karena membuat ruang fiskal daerah kita jadi sempit kali. Imbas krisis anggaran ini, ya langsung menerpa masyarakat. Sejumlah program strategis dan pembenahan infrastruktur di Madina jadi terhambat,” timpal Butet, wartawan investigasi yang empatis, fokus pada isu-isu sosial, dampak kebijakan terhadap masyarakat kecil, dan selalu mencari sisi humanis.
“Jangankan membenahi yang lain, Pak Bupati kemarin mencontohkan rencana pembangunan sekolah rakyat aja sampai sekarang masih terkendala pengadaan lahan. Belum lagi urusan infrastruktur vital kita,” tambah Ucok memaparkan fakta dari catatan liputannya.
“Ah, kalau itu jangan kau tanya lagi. Tengoklah Jalinsum ruas Jembatan Merah, Batangnatal, sampai Simpang Gambir. Hancur lebur! Padahal, statusnya jalan provinsi. Pak Bupati mengaku sudah berulang kali menyurati Gubernur Sumatera Utara terkait akses vital yang rusak itu, tapi belum membuahkan hasil, macem dianggap angin lalu aja,” gerutu Togar yang sehari-hari melintasi jalur tersebut.
“Makanya, karena tak bisa cuma pasrah nunggu uang pusat atau provinsi jatuh dari langit, Pemkab Madina sekarang harus agresif mencari alternatif pendanaan dan optimalisasi aset,” potong Poltak sambil mencocol pisang goreng hangat ke dalam kopinya.
Poltak memang wartawan santai yang humoris, suka berseloroh, tapi celetukannya sering merangkum inti masalah dengan sangat jeli.
“Iya, kulihat di sektor ekonomi mereka tengah mempercepat perizinan empat titik Wilayah Pertambangan Rakyat (WPR) di Kecamatan Muara Batang Gadis dan Batangnatal. Demi mempercepatnya, Pemkab sampai menggandeng pihak ketiga yang siap menyokong pengurusan AMDAL,” sahut Butet yang menaruh perhatian pada kelestarian lingkungan sekitar tambang.
“Bukan cuma WPR itu yang kencang gerakannya. Ada lagi strategi penyelamatan aset daerah yang terbengkalai. Kelen tahu bangunan lama RSUD Panyabungan? Fasilitas itu nantinya mau disulap jadi pusat rehabilitasi narkoba menyusul maraknya peredaran gelap yang mulai menyasar anak-anak. Di situ juga nanti dibuat ruang kantor BUMD dan area komersial yang disewakan demi mendulang Pendapatan Asli Daerah (PAD),” urai Togar panjang lebar dengan mata berbinar antusias.
“Cocok kali itu! Dengan begitu, aset daerah bisa lebih produktif sekaligus membantu penanganan masalah sosial. Makanya di akhir pertemuan, bupati mengapresiasi pers sebagai mitra untuk menjembatani transparansi kondisi daerah yang sedang sulit ini kepada publik,” jelas Ucok menyimpulkan esensi editorial mereka.
“Merespons hal itu, Ketua PWI Madina kita, Bang Zamharir Rangkuti, langsung berkomitmen untuk terus bersinergi dengan pemerintah daerah dalam menyampaikan informasi yang akurat, berimbang, dan edukatif kepada masyarakat. Malah PWI mengusulkan program literasi media bagi pelajar di Madina,” kata Butet tersenyum bangga.
“Setuju kali awak! Literasi media itu penting biar anak muda tak gampang termakan hoaks di masa sulit begini. Tapi, yang lebih penting sekarang, literasi dompetku yang lagi kritis. Jadi, siapa yang bayar kopi pahit kita pagi ini?” seloroh Poltak yang langsung disambut tawa berderai dari ketiga rekannya memecah ketegangan di dalam warung kopi. (*)





Discussion about this post