AKHIRNYA, setelah nunggu hampir setengah tahun macam nunggu kepastian jodoh, ada juga kabar segar buat kawan-kawan petani kita di Desa Sayurmatua, Kecamatan Nagajuang. Bayangkan saja, sawah 17 hektare tertimbun lumpur dan pasir sejak akhir November tahun lalu, baru sekarang alat beratnya nongol.
Pemkab Madina lewat Wakil Bupati Atika Azmi sudah pasang target. Dia bilang tanggal 28 Mei 2026 urusan ini sudah harus tuntas.. tas..! Artinya, dari sekarang cuma punya waktu sekitar 24 hari lagi. Benar-benar kejar tayang ini namanya.
Kita tentu mau kasih jempol buat langkah Bu Wakil Bupati yang langsung turun ke lapangan. Nggak cuma datang bawa janji, tapi ada sembako 58 paket dan bibit tanaman yang dibawa, ya katakanlah sebagai obat penawar letih buat para petani.
Melibatkan TNI dan orang pintar dari USU juga ide yang paten, biar hasilnya nggak asal-asalan dan saluran irigasi yang rusak itu benar-benar balik normal. Kita apresiasi semangat gercep di sisa waktu 24 hari ini. Apalagi katanya bakal dicek tiap minggu. Baguslah, biar yang kerja di lapangan nggak berleha-leha.
Tapi, ya itu. Kalau boleh kita mengkritik sedikit, maaf ya, kok lama kali geraknya? Alasan kalau Madina cuma masuk kategori ‘kerusakan ringan’ dibanding daerah lain, itu rasanya kurang pas di telinga petani. Bagi mereka yang perutnya sudah kosong satu musim tanam, nggak ada istilah rusak ringan.
Enam bulan nunggu urusan administrasi itu waktu yang sangat lama buat orang yang hidupnya dari sawah. Masa depan ekonomi keluarga mereka taruhannya, bukan cuma sekadar angka-angka di atas kertas laporan bencana.
Sekarang, yang paling penting adalah membuktikan omongan itu di lapangan. Alat berat sudah turun, personel sudah siap, tinggal pembuktiannya saja. Jangan sampai nanti di tanggal 28 Mei, eh malah ada alasan alat rusak atau cuaca nggak mendukung lagi.
Masyarakat juga perlu diingatkan, jangan sampai nanti pas sawahnya sudah cantik lagi, malah berantam gara-gara batas tanah yang bergeser. Komunikasi antara warga dan petugas harus tetap lancar biar nggak ada drama “ini sawahku, itu sawahmu” di kemudian hari.
Intinya, kita kawal terus janji 24 hari ini. Petani Sayurmatua sudah cukup sabar nunggu selama satu musim tanam lewat begitu saja. Harapan kita cuma satu, sebelum musim tanam berikutnya lewat lagi, itu sawah sudah harus siap dicangkul dan ditanami.
Jangan sampai kehadiran negara cuma terasa pas bagi-bagi sembako saja, tapi harus sampai tuntas urusan produksinya. Mari kita tengok sama-sama, sanggup nggak Pemkab Madina beresin ini tepat waktu? (*)




Discussion about this post