GAWAI di tangan saya berdenting berkali-kali pagi itu, membawa kabar tentang sebuah utas viral dari akun @supermoney75 yang mendadak menjadi hakim bagi ribuan alumni Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN). Sebagai seorang pengajar di bidang Media dan Komunikasi di STAIN MADINA, saya melihat fenomena ini bukan sekadar keluhan pemberi kerja, melainkan sebuah bentuk stigmatisasi digital yang berbahaya. Narasi yang dibangun begitu simplistik: seolah-olah selembar ijazah dari UIN atau STAIN secara otomatis menjadi indikator rendahnya kompetensi dan tingginya ego finansial, sebuah generalisasi yang mengabaikan ribuan variabel lain dalam dunia kerja yang kompleks.
Dalam kacamata studi media, apa yang dilakukan oleh akun tersebut adalah bentuk anecdotal evidence yaitu mengambil satu atau dua pengalaman buruk lalu membungkusnya menjadi kebenaran universal. Kita harus jeli melihat bahwa ruang digital seringkali memperkuat suara-suara yang sinis karena mereka lebih mudah memicu keterlibatan (engagement). Namun, sebagai pendidik, saya tahu persis apa yang terjadi di balik dinding-dinding kelas kami di Mandailing Natal. Di sana, mahasiswa tidak hanya bergelut dengan teori komunikasi, tetapi juga ditempa dengan ketahanan mental dan integritas moral yang seringkali tidak terukur oleh tes teknis yang kaku di meja rekrutmen.
Transformasi kelembagaan dari STAIN menuju UIN di berbagai daerah sebenarnya adalah respons nyata terhadap tuntutan zaman untuk mengintegrasikan ilmu agama dengan sains dan teknologi. Kami tidak lagi hanya mencetak ahli ibadah, tetapi juga komunikator, peneliti, dan praktisi media yang memiliki landasan etika kuat. Menyebut lulusan kami memiliki “skill yang tidak jelas” adalah penghinaan terhadap kurikulum yang terus kami mutakhirkan sesuai standar nasional. Jika ada satu atau dua lulusan yang belum memenuhi ekspektasi, bukankah itu fenomena yang juga terjadi pada kampus umum ternama sekalipun? Mengapa hanya label “UIN” yang kemudian dijadikan sasaran tembak?
Mengenai tudingan ekspektasi gaji yang “nggak kira-kira”, saya melihatnya dari sudut pandang yang berbeda. Mahasiswa kami diajarkan untuk memiliki harga diri dan memahami nilai dari investasi pendidikan yang telah mereka tempuh dengan penuh peluh. Di tengah tekanan ekonomi tahun 2026 ini, wajar jika seorang lulusan menuntut upah yang layak untuk kehidupan yang bermartabat. Seringkali, masalahnya bukan pada “minta gaji tinggi”, melainkan pada pemberi kerja yang masih terjebak pada pola pikir mencari tenaga kerja murah dengan beban kerja yang melampaui batas kewajaran.
Di STAIN Madina, saya menyaksikan sendiri bagaimana mahasiswa dari pelosok daerah berjuang melawan keterbatasan akses untuk menguasai teknologi media terbaru. Mereka adalah para petarung literasi yang memiliki kemampuan adaptasi luar biasa. Narasi yang menyebut “75% pelamar dari UIN tidak ada yang nyatol” seharusnya menjadi bahan evaluasi dua arah. Apakah proses rekrutmen tersebut sudah cukup inklusif? Ataukah ada bias institusional yang secara tidak sadar sudah menutup pintu bagi mereka yang memiliki latar belakang pendidikan agama sebelum mereka sempat membuktikan kemampuan teknisnya?
Penting bagi publik untuk memahami bahwa lulusan komunikasi di lingkungan PTKIN memiliki keunggulan dalam soft skills yang kini sangat langka: kecerdasan emosional dan kearifan lokal. Di dunia media yang makin bising dengan hoaks dan ujaran kebencian, kemampuan komunikasi yang berbasis pada etika religius menjadi oase yang sangat dibutuhkan. Kami mendidik mereka untuk menjadi jembatan informasi, bukan sekadar operator mesin atau pembuat konten tanpa jiwa. Kompetensi seperti ini mungkin tidak langsung terlihat dalam satu kali wawancara, namun akan sangat terasa dampaknya dalam jangka panjang bagi budaya organisasi.
Dunia kerja seharusnya menjadi medan pertempuran kompetensi, bukan ajang diskriminasi label. Saya sering berdiskusi dengan mahasiswa di kelas tentang bagaimana membangun portofolio yang kuat untuk melawan stigma ini. Kami sadar bahwa tantangan di luar sana berat, namun narasi yang menyudutkan satu institusi secara kolektif hanya akan memperlebar jurang pemisah antara dunia pendidikan dan industri. Alih-alih merendahkan di media sosial, kolaborasi dan dialog antara kampus dan praktisi usaha jauh lebih bermartabat untuk dilakukan.
Sebagai penutup, saya ingin berpesan kepada para mahasiswa dan alumni PTKIN, khususnya di STAIN Madina, jangan biarkan satu utas di media sosial mematahkan semangat kalian. Buktikan dengan karya, tunjukkan dengan integritas, dan tetaplah rendah hati namun tegas dalam prinsip. Stigma adalah tembok yang dibangun oleh ketidaktahuan, dan tugas kita adalah meruntuhkannya dengan prestasi yang nyata. Kita tidak sedang mencetak pengangguran bermimpi tinggi, kita sedang menyiapkan pemimpin masa depan yang memiliki kecerdasan intelektual sekaligus kemuliaan akhlak. (*)
Penulis: Ahmad Salman Farid, M.Sos | Dosen Media dan Komunikasi STAIN Madina





Discussion about this post