Jakarta, StartNews Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Mendes PDTT) Abdul Halim Iskandar mengungkapkan pemuka agama dan para santri yang ada di desa berperan signifikan dalam memperkuat nilai-nilai kesalehan sosialdalam masyarakat.
Itu sebabnya, pemuka agama dan para santri harus selalu dilibatkan guna mendorong transparansi dan partisipasi masyarakat dalam pembangunan di tingkat desa.
“Tokoh agama harusnya diposisikan sebagai figur yang ikut mendorong transparansi dam partisipasi pembangunan di desa,” ujar menteri yang akrab disapa Gus Halim ini saat saat memberi arahan dalam Training of Trainers Pelopor Pembangunan Desa di Best Western Kemayoran, Jakarta, Rabu (22/11/2023).
Menurut Gus Halim, hampir semua desa menempatkan tokoh agama sebagai pelengkap. Padahal, mereka inilah yang seharusnya memberi warna masyarakat.
“Faktor yang paling menggelisahkan. Karena tokoh agama tidak paham tentang pembangunan desa, karena hanya urusi umat dan tempat ibadah, padahal ini penting,” kata Gus Halim.
Jika ini dibiarkan, kata Gus Halim, akan terjadi marjinalisasi agama, padahal Indonesia negara Pancasila yang ruhnya adalah agama.
Menurut Gus Halim, Training of Trainers Pelopor Pembangunan Desa adalah bagian dari upaya Kemendes untuk melibatkan semua kaum agamawan lewat pelopor pembangunan desa agar turut mengentaskan kemiskinan yang ada di desa.
Gus Halim berharap pelopor pembangunan desa ini nanti dipadukan dengan tokoh agama hingga tokoh adat yang berkolaborasi untuk menjadi bagian penting dari proses pembangunan.
“Saya ingin kader pelopor pembangunan desa ini yang nantinya jadi tokoh agama bisa memposisikan diri dalam proses pembangunan desa,” katanya.
Pelopor pembangunan desa nantinya bertugas memperjuangkan kesejahteraan masyarakat dengan berbasis pada pencapaian 18 tujuan dalam SDGs Desa.
Menurut dia, SDGs Desa merupakan perencanaan pembangunan desa berbasis masalah dan kebutuhan dengan data yang valid dan update.
“Jika 18 Goals SDGs Desa tertangani dengan bagus, maka 84 persen pembangunan di Indonesia yang berbasis SDGs akan selesai dan itulah yang disebut Indonesia Emas 2045,” kata profesor kehormatan Unesa ini.
Reporter: Rls




Discussion about this post