Panyabungan, StartNews Ketua PD Muslimah Gerakan Pemuda Islam (GPI) Mandailing Natal (Madina) Dr. Melda Diana Nasution menilai Valentine Days (Hari Kasih Sayang) yang belakangan marak dirayakan kalangan anak muda merupakan wujud penjajahan ekstrem terhadap kaum muda dan mengorbankan kaum perempuan.
Banyak remaja salah kaprah memaknai Valentine Days, sehingga terjerumus pada perilaku yang jauh dari norma agama dan susila, kata Dr. Melda Diana Nasution dalam rilisnya yang diterima StartNews, Selasa (14/2/2023).
Itu sebabnya, dia pun mengajak generasi muda, khususnya di Madina, untuk tidak ikut-ikutan merayakan tradisi paganisme berkedok kasih sayang. Kami minta generasi muda Madina menolak budaya pagan ini, karena tidak menggambarkan budaya masyarakat yang religius, tambahnya.
Dosen di STAIN Madina ini meminta pemerintah, dalam hal ini Satpol PP dan kepolisian, untuk mencegah perayaan yang akrab dengan seks bebas di Madina, Sumut.
Kami minta Satpol PP dan pihak kepolisian menggelar razia hotel dan tempat-tempat hiburan untuk menghindari perayaan Valentine yang mengarah ke maksiat, sebutnya.
Melda menerangkan, berbagai kasih sayang tidak harus menunggu Hari Valentine. Apalagi sampai melakukan seks di luar nikah, terangnya.
Selaku perempuan dan bagian dari generasi Islam, Muslimah GPI Madina tidak ingin Madina sebagai Kota Santri dikotori prostitusi terselubung dengan kedok Hari Kasih Sayang, tuturnya.
Di banyak tempat di dunia, berbagai kalangan merayakan Valentine Days setiap tanggal 14 Februari. Permen, bunga, dan kado saling ditukarkan di antara para kekasih. Semua atas nama Valentine.
Menurut klaim Gereja Kristen, keputusan menempatkan Hari Valentine pada pertengahan Februari adalah upaya mengkristenkan perayaan Lupercalia milik masyarakat Pagan.
Reporter: Rls





Discussion about this post