Menilik riuhnya Desa Tambangan Tonga saat para ayah melintasi sekat tradisi demi mengantar buah hati di hari pertama sekolah melalui gerakan GAMAS.
Tambangan, StartNews – Langkah kaki Ikror Amin Lubis mendadak terhenti tepat di depan gerbang sekolah dasar di Desa Tambangan Tonga, Kecamatan Tambangan, Kabupaten Mandailing Natal (Madina), Sumatera Utara, Senin (13/7/2026) pagi. Genggaman erat jemari putra-putrinya perlahan dia lepaskan, menyisakan kehangatan yang tak biasa di tengah kabut pagi perbukitan Tano Mandailing.
Pagi itu, Ikror tidak sedang terburu-buru menuju tempat kerjanya, melainkan berdiri tegak mengawal langkah pertama sang anak memasuki gerbang masa depan.

Pemandangan di sejumlah desa di Kecamatan Tambangan hari itu tampak berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Sudut-sudut jalan desa tidak lagi didominasi oleh deretan ibu-ibu yang menggendong tas sekolah anak.
Kali ini, para lelaki berwajah legam dengan jaket tebal dan sisa-sisa aroma kopi pagi tampak berjalan beriringan, menuntun anak-anak mereka dengan canggung namun penuh kebanggaan. Gerakan Ayah Mengantar Anak di Hari Pertama Sekolah (GAMAS) telah mengubah lanskap sosial di desa ini dalam semalam.
Selama ini, budaya patriarki di pelosok daerah sering menempatkan ayah dalam kotak hitam yang kaku. Sosok yang hanya bertanggung jawab pada urusan dompet dan nafkah. Sementara ruang emosional anak sepenuhnya diserahkan kepada ibu.

Kehadiran seorang ayah di gerbang sekolah pada hari pertama sering dianggap sebagai pemandangan yang aneh, bahkan tabu bagi sebagian kalangan yang menganut pemahaman kuno.
Namun, GAMAS hadir bukan sekadar sebagai seremonial kalender pendidikan. Gerakan ini menjadi momentum dekonstruksi peran maskulinitas di tingkat tapak. Para ayah di Tambangan membuktikan bahwa ketegasan dan ketangguhan mereka di tempat kerja sama sekali tidak berkurang ketika mereka harus merapikan kerah baju sang anak atau memberikan pelukan penyemangat di depan kelas.

“Selama ini saya pikir tugas saya cuma cari uang di ladang dan mendidik dengan cara yang keras. Tapi, saat melihat matanya berbinar ketika saya gandeng tangannya sampai ke meja kelas tadi, saya sadar ada ruang di hati anak saya yang hanya bisa diisi oleh kehadiran ayahnya sendiri. Saya menyesal kenapa tidak melakukan ini sejak anak pertama,” ujar seorang ayah dengan suara yang mendadak bergetar halus.
GAMAS memperlihatkan dampak psikologis dari kehadiran figur ayah di hari pertama sekolah mengakar kuat pada pembentukan karakter anak. Kehadiran fisik dan emosional seorang ayah di momen transisi ini menanamkan rasa aman yang berlapis. Anak tidak merasa berjalan sendiri menghadapi dunia baru yang asing. Mereka merasa didukung oleh pilar utama dalam hidup mereka.

Secara ilmiah, keterlibatan aktif ayah sejak dini berkorelasi positif dengan tingkat percaya diri, kemampuan adaptasi sosial, hingga motivasi belajar anak pada masa depan. Langkah kecil para ayah di Tambangan Tonga yang tertangkap oleh lensa-lensa kamera hari itu menjadi investasi jangka panjang yang tak ternilai harganya.
Setiap jepretan foto yang mengabadikan tawa malu-malu sang anak dan senyum bangga sang ayah menjadi bukti otentik bahwa perubahan besar selalu dimulai dari unit terkecil, yaitu keluarga.

Potret dari desa-desa di Tambangan ini menyuarakan pesan yang jernih ke seluruh penjuru negeri. Ketika para ayah bersedia meluangkan waktu, merendahkan hati untuk mendampingi, dan memberikan pelukan terbaiknya di gerbang sekolah, mereka sedang membangun fondasi generasi yang tangguh.
Hari ini, dari sebuah desa di Kecamatan Tambangan, Madina, sebuah manifesto baru telah dituliskan. Slogan bukan lagi sekadar pemanis spanduk, melainkan sebuah realitas yang hidup: Ayah Mengantar, Anak Semangat, Indonesia Hebat.
Reporter: Sir





Discussion about this post