SUASANA warung kopi di sudut Jalan Lintas Timur Panyabungan siang itu riuh rendah. Asap rokok berbaur dengan uap kopi Mandailing yang baru diseduh. Di sudut meja paling ujung, perdebatan sudah memanas, bahkan sebelum kopi di gelas habis separuh.
“Pening kepalaku nengok kelakuan aparat kita hari ini, lae. Setoran belum nutup, eh kena stop pula awak di jalan sama Satpol PP gabung Dishub. Bukan nanya STNK atau buku kir, malah diceramahi!” gerutu Bang Ucok, memukul meja pelan sambil menyeruput kopi hitamnya kasar.
Bang Ucok tergolong sopir angkot yang blak-blakan, pragmatis, suaranya lantang, dan selalu memikirkan setoran. Menganggap aturan sering kali tidak berpihak pada rakyat kecil.
“Lho, baguslah itu. Berarti Dishub sama Satpol PP Madina udah main halus sekarang, humanis ceritanya. Gak main tilang aja kerjanya, kan?” kekeh Makmur, meniupkan asap rokoknya ke udara dengan santai.
Makmur kerap bersikap sinis, ceplas-ceplos, dan mewakili suara masyarakat umum yang sering kali skeptis terhadap kebijakan pemerintah.
“Humanis dari mananya? Hari Kamis kemarin itu, disuruhnya awak jangan nyetir lebih dari empat jam berturut-turut demi kesehatan. Mak jang! Kalau awak banyak istirahat, siapa yang mau bayar uang sekolah anakku? Terus, disuruhnya pula awak ngelarang anak sekolah sama santri merokok di dalam angkot. Matilah awak di-bully anak-anak itu nanti kalau berani negur!” sungut Bang Ucok lagi, wajahnya masam.
“Nah, kalau soal larangan anak sekolah atau santri merokok di angkot itu, aku setuju kali seratus persen! Memang udah kelewatan sekarang. Bebas kali anak-anak kita ngebul di ruang publik,” potong Pak Harahap, membenarkan langkah pemerintah.
Pak Harahap, seorang guru yang tenang, analitis, dan idealis. Sangat peduli pada moral dan etika pelajar, serta memandang aturan dari sudut pandang edukasi.
“Baguslah Kasatpol PP, Pak Yuri Andri itu, punya perhatian ke situ. Angkot itu kan ruang publik. Kasihan penumpang lain, sudah sumpek, dihirupnya pula polusi asap rokok. Memang butuh diedukasi sopir-sopir macam kau ini, Cok,” kata Pak Harahap.
“Betul itu, Pak Guru. Edukasi soal kenyamanan sama keselamatan nyawa penumpang itu memang paten. Katanya ini juga gerakan masif serentak se-Sumatera Utara. Tapi, coba kita pikir pakai kacamata yang lebih lebar, ya,” sela Bang Rangkuti, menutup layar hape yang sejak tadi diplototinya dan menatap tajam ke arah ketiga temannya.
Bang Rangkuti ini wartawan senior yang berpikir tajam, kritis, dan memiliki wawasan luas soal kebijakan daerah. Selalu melihat gambaran besar dari sebuah isu dan tidak segan mengkritik ketimpangan penegakan aturan.
“Maksud abang cemana? Gak penting rupanya razia ini?” tanya Makmur, mulai tertarik dan mencondongkan badannya ke depan.
“Bukan gak penting, Mur. Keselamatan transportasi darat itu wajib. Kita hargai pendekatan edukatif mereka yang tak lagi represif. Tapi, coba kalian tengok tugas Satpol PP Madina sebagai koordinator PPNS dan penegak Perda. Apa iya mengurusi durasi jam kerja sopir angkot ini jadi skala prioritas yang paling mendesak sekarang?” tanya Bang Rangkuti dengan nada baritonnya yang khas.
“Iya juga, ya. Terus apa yang lebih penting, Bang?” sahut Bang Ucok, merasa mendapat dukungan.
“Masih banyak PR penegakan Perda yang jauh lebih penting dan dibiarkan mangkrak! Coba kalian tengok galian C ilegal, sengketa lahan, tambang-tambang liar yang merusak hutan kita, sampai penertiban pasar yang masih semrawut tiap hari. Itu kan urusan ketenteraman dan ketertiban umum juga! Kenapa yang rajin ditertibkan malah sopir angkot yang cari makan recehan?” kritik Bang Rangkuti, matanya memancarkan ketidakpuasan seorang jurnalis kawakan.
“Cocok! Itu baru mantap kau bilang, Bang! Jangan tajam ke bawah tumpul ke atas. Awak yang cari sewa seribu dua ribu diawasi macam pesakitan. Giliran bos-bos besar yang jelas-jelas langgar Perda, kok pada mingkem semua aparat kita?” seru Bang Ucok bersemangat.
“Ya, kita apresiasilah niat Pemkab Madina bikin ekosistem transportasi publik di Panyabungan jadi aman dan sehat. Tapi, Bang Rangkuti betul juga. Jangan sampai razia humanis ini cuma jadi panggung etalase, seolah-olah penegakan Perda sudah berjalan maksimal. Padahal, masalah inti yang bikin Madina ini tergerus lingkungannya malah tak tersentuh,” tutup Pak Harahap sambil menggelengkan kepala pelan.
Suasana kembali hening sejenak, hanya menyisakan suara deru kendaraan di luar warung, seolah membenarkan bahwa pekerjaan rumah di Panyabungan masih teramat panjang. (*)




Discussion about this post