SUASANA Lopo Kopi Mandailing di kota Panyabungan pagi itu sudah riuh. Asap kretek mengepul beradu dengan uap kopi susu. Di meja sudut, empat pria tengah asyik membahas berita yang ditayangkan portal berita StartNews.co.id.
“Ngeri kali kulihat manuver kepala daerah kita se-Tabagsel ini, bah. Udah sepakat klen rupanya, ya, menjamin kursi pesawat biar nggak kosong bulan Juni nanti?” kata Bang Harahap, membuka pembicaraan sambil meletakkan cangkir kopinya ke tatakan.
Bang Harahap ini wartawan senior yang kritis, tajam, dan analitis. Selalu melihat gambaran besar dari sebuah isu, tidak mudah percaya janji manis, namun tetap mendukung kemajuan daerah. Dia menjadi pemantik diskusi di lopo (warung kopi).
“Oh, jelas itu, Bang! Pertemuan hari Jumat kemaren di Sidimpuan itu bukan main-main. Pak Bupati kita, H. Saipullah Nasution, langsung yang jadi inisiatornya. Komitmen kita jelas, suplai penumpang harus ada biar Bandara Aek Godang sama Bandara Abdul Haris Nasution terbang terus bulan depan,” jawab Pak Nasution dengan dada membusung.
Pak Nasution ini birokrat tulen. Selalu optimis, bicaranya sering diselipi istilah pemerintahan, dan selalu menjadi pembela kebijakan para kepala daerah.
“Mati lah awak kalau macam gitu ceritanya! Klen jamin-jamin pula penumpang pesawat, terus penumpang travelku cemana? Rute Panyabungan-Medan sama Panyabungan-Padang ini bisa sunyi senyap lah nanti! Udah sewa makin payah, klen suruh pula orang naik burung besi itu,” gerutu Ucok sambil mengembuskan asap rokoknya kuat-kuat.
Sebagai sopir travel, Ucok ini memang bicaranya blak-blakan, pragmatis, bersuara keras, dan sangat mengkhawatirkan periuk nasinya. Representasi masyarakat kecil yang melihat realitas daya beli di lapangan.
“Eh, jangan sempit kali pikiranmu, Cok! Paten itu kebijakan kepala daerah kita. Waktu itu uang, Bos! Bagiku pengusaha ini, bolak-balik Panyabungan-Medan atau ke Jakarta butuh cepat. Kalau bandara kita eksis, investor pun banyak yang masuk. Makin banyak duit mutar di sini, kau pun nanti kecipratan bawa tamu-tamu VIP dari bandara,” sahut Haji Lubis sambil menepuk meja pelan.
Haji Lubis ini pengusaha yang berpiker taktis, praktis, dan berorientasi pada profit. Baginya, waktu adalah uang. Dia sangat mendukung efisiensi transportasi, tapi menuntut kualitas layanan.
“Aku dukung memang kalau bandara kita ini hidup. Masa Tabagsel seluas ini tertinggal dari daerah lain? Pak Wali Kota Sidimpuan, Letnan Dalimunthe, juga udah bilang siap jadi koordinator karena posisinya di tengah. Anwar Beni Hasugian dari Paluta pun siap menggerakkan potensi daerahnya. Cuma yang aku kritisi ini, apa iya ‘jaminan’ kursi itu realistis? Jangan nanti karena takut pesawat kosong, malah APBD yang dikorbankan buat beli tiket pejabat yang mondar-mandir nggak jelas alasannya,” cecar Bang Harahap dengan tatapan menyelidik.
“Hus…! Sembarangan Abang ini. Bukan begitu konsepnya. Kita ini sosialisasi masif. Mengarahkan mobilitas masyarakat lokal sama pelaku usaha macam Pak Haji Lubis ini supaya milih lewat udara. Ini kan strategi awal saja biar maskapai percaya dulu sama pasar kita,” balas Pak Nasution dengan nada sedikit defensif.
“Betul kata Pak Nasution itu. Tapi, Bang Harahap ada benarnya juga. Awak siap bayar tiket pesawat kalau memang ada untungnya. Cuma, tolonglah Pemda ini perhatikan juga jalan daratnya. Jangan sampai awak naik pesawat cuma sejam, tapi jalan dari rumah ke bandara makan waktu tiga jam karena jalan hancur lobang semua! Sama aja bohong itu!” timpal Haji Lubis menyetujui.
“Nah! Masuk barang itu! Dengar klen apa kata Ketua DPRD Palas, Pak Luat Hasibuan kemaren? Dia mendesak jalur Hapung ke Hutatinggi itu cepat dibuka. Biar orang Palas kemari cuma dua jam. Kalau jalan daratnya aja belum beres, macam mana orang mau rajin ke bandara? Belum lagi ongkos travel ke bandaranya, nambah pengeluaran lagi buat masyarakat biasa macam penumpangnya si Ucok ini,” sambung Bang Harahap sambil tersenyum sinis namun membangun.
“Jadi, intinya, klen ini jangan mimpi ketinggian dulu kalau bawahnya belum diaspal! Pesawat terbang di atas awan, tapi penumpang jalan di atas aspal lobang-lobang. Bagus klen perbaiki dululah infrastruktur darat, baru genjot itu bandara. Biar travelku pun lancar bawa orang yang mau nyambung ke bandara. Cocok klen rasa, kan?” pungkas Ucok sambil tertawa lebar menampakkan gigi kuningnya.
“Ya, pelan-pelan lah kita perbaiki semua. Sinergi ini kan baru dimulai. Notulen pertemuan udah ada, Kadishub se-Tabagsel juga udah bergerak. Kita dukung dululah biar Juni ini pesawat kita mengangkasa dengan gagah!” tutup Pak Nasution dengan senyum diplomatik khas pejabat.
“Cocok! Tapi, awas aja kalau bulan Juli pesawatnya udah mogok gara-gara kosong. Pesan kopi lagilah kita, tambah satu lagi, tulang!” teriak Bang Harahap memanggil pemilik lopo kopi.
Mereka berempat pun tertawa bersama. Di tengah perdebatan sengit ala lopo kopi, harapan untuk kemajuan kampung halaman tetap menjadi denyut nadi yang menyatukan mereka. (*)





Discussion about this post