Pascabanjir besar November 2025 yang merusak lahan produktif, Program Martabe Cocoa dari PT Agincourt Resources (PTAR) bangkit dengan memperluas ekspansi ekosistem kakao hulu-hilir ke wilayah baru di Tapanuli Selatan untuk mengamankan rantai pasok cokelat premium.
Tapsel, StartNews – PT Agincourt Resources (PTAR) memperluas jangkauan Program Martabe Cocoa ke Kecamatan Marancar dan Sayur Matinggi setelah banjir besar pada November 2025 yang menghancurkan sebagian besar lahan kakao binaan di Batang Toru dan Muara Batang Toru.
Langkah itu diambil guna menyelamatkan target pembangunan ekosistem kakao terintegrasi dari hulu hingga hilir, sekaligus memastikan keberlanjutan pasokan bahan baku bagi produk cokelat premium lokal, Martabe Chocolate.
Bencana alam yang melanda akhir tahun lalu sempat memukul jalannya program karena material pasir yang menutup lahan membuat area pertanian lama tidak lagi layak ditanami. Kondisi tersebut memaksa pengelola Tambang Emas Martabe melakukan pemetaan ulang mekanisme Calon Petani Calon Lahan (CPCL).
Sebagai respons cepat, PTAR langsung melirik potensi lahan baru di Marancar untuk perluasan pendampingan, serta menggenjot rehabilitasi tanaman di Sayur Matinggi melalui metode sambung samping dan penyediaan mata entres berkualitas.
Meskipun dihantam tantangan berat, komitmen korporasi dalam membangun rantai nilai dari hulu ke hilir tetap berjalan agresif. Hingga pertengahan 2026, jumlah bibit gratis yang didistribusikan kepada petani yang lolos verifikasi ketat Dinas Pertanian dan Balai Penyuluh Pertanian (BPP) melonjak menjadi sekitar 18 ribu batang, naik signifikan dari total penyaluran tahun 2025 yang berkisar 12 ribu bibit.
Saat ini, sebanyak 19 ribu bibit unggul dengan klon TSA 858 dan ICS 60 yang disambung pucuk dengan materi genetik dari Puslitkoka Jember juga telah disiapkan untuk fase penyaluran berikutnya.
Supervisor Agriculture Development Agincourt Resources, Ilham Perwira, menegaskan proyeksi jangka panjang dari program ini tidak boleh terhenti oleh kendala eksternal karena tujuannya adalah menciptakan kemandirian ekonomi yang utuh bagi petani lokal melalui kepastian pasar. Hal tersebut dia paparkan saat menjelaskan peta jalan terbaru Program Martabe Cocoa di Batang Toru, Sabtu (11/7/2026).
“Target kami bukan hanya menghasilkan bibit yang baik, tetapi membangun ekosistem kakao yang kuat sehingga petani memperoleh pendampingan, hasil panen berkualitas, dan akses pasar yang jelas,” kata Ilham.
Integrasi sektor pascapanen juga terus diperkuat demi menciptakan nilai tambah yang tinggi. PTAR telah merampungkan infrastruktur pendukung mulai dari fasilitas pembibitan, rumah fermentasi, area pengeringan, rumah pengemasan, hingga pabrik pengolahan mini (mini plant). Seluruh fasilitas ini difungsikan untuk memproses biji kakao mentah menjadi produk jadi bernilai ekonomi tinggi, termasuk varian cokelat batangan komersial.
Saat ini, kebutuhan bahan baku untuk pembuatan Martabe Chocolate memang masih diserap dari beberapa wilayah lain di Kabupaten Tapanuli Selatan akibat dampak banjir. Namun, melalui strategi ekspansi wilayah dan pemulihan lahan ini, PTAR menargetkan pemenuhan bahan baku ke depan akan sepenuhnya ditopang oleh hasil panen mandiri dari para petani binaan.
Produk hilir tersebut kini sudah mulai menembus jaringan ritel, pusat oleh-oleh khas daerah, platform digital, hingga ekosistem penjualan berbasis reseller untuk mendongkrak pendapatan berkelanjutan bagi masyarakat lingkar tambang.
Reporter: Lily Lubis





Discussion about this post