Pemkab Madina menggelar seminar ilmiah untuk mengkaji pemikiran Sutan Takdir Alisjahbana (STA) dan Willem Iskander sebagai motor penggerak literasi dan pendidikan bangsa.
Panyabungan, StartNews – Pj. Sekda Kabupaten Mandailing Natal (Madina) Afrizal Nasution membuka seminar ilmiah pengusulan gelar pahlawan nasional bagi Sutan Takdir Alisjahbana (STA) dan Willem Iskander di Aula STAIN Madina, Jumat (19/6/2026).
Seminar bertajuk ‘Merintis Indonesia Modern, Jejak Pemikiran Bahasa dan Kebudayaan Sutan Takdir Alisjahbana dan Menelusuri Jejak Kepahlawanan Willem Iskander dalam Membangun Pendidikan dan Kesadaran Bangsa’ ini menjadi pembeda dari penggalangan gelar kepahlawanan pada umumnya.
Pj. Sekda Madina Afrizal Nasution menegaskan agenda ini bukan sekadar seremoni pengumpulan berkas administratif, melainkan tanggung jawab moral untuk menghidupkan kembali kompas intelektual yang pernah lahir dari tanah Mandailing.
“Kegiatan ini merupakan bentuk kepedulian dan tanggung jawab bersama dalam mengangkat kembali jasa, pemikiran, dan keteladanan para tokoh bangsa yang memiliki kontribusi besar terhadap perjalanan sejarah Indonesia, termasuk tokoh-tokoh Mandailing Natal,” ujar Afrizal Nasution di hadapan para sejarawan dan akademisi yang hadir.
Sudut pandang progresif juga melandasi dinamika di balik layar seminar ini. Kehadiran Gerep Institut, pusat kajian Mandailing, menjadi bukti pergerakan lokal telah bertransformasi. Komunitas yang awalnya bergerak lurus demi pengusulan Willem Iskander tersebut, kini meluas menjadi institusi pendidikan dengan visi universal.
Kolaborasi ini mengikis ego sektoral demi menyatukan dua poros kekuatan intelektual, yakni STA di jalur modernisasi bahasa dan Willem Iskander di garda depan rintisan pendidikan guru.
Dinas Sosial dan Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Dinsos PPPA) Madina selaku penyelenggara menangkap sinyal dari pusat ketika Direktorat Jenderal Pemberdayaan Sosial secara khusus mengundang mereka untuk mengusung STA.
Respons ini menjadi pemantik untuk sekaligus menggandeng nama Willem Iskander, menciptakan harmoni perjuangan literasi yang utuh dari Bumi Gordang Sambilan.
Kepala Dinas Sosial dan PPPA Madina Ahmad Duroni Nasution menyatakan undangan kementerian merupakan kehormatan yang sekaligus membuka mata publik terhadap kayanya potensi keteladan dari daerah Madina.
“Yang tentunya ini satu kebanggaan bagi kita. Namun tidak bisa nafikan, tidak bisa pungkiri, masih banyak tokoh-tokoh Mandailing Natal yang begitu layak dan patut untuk kita usulkan menjadi pahlawan nasional,” ungkap Ahmad Duroni.
Melalui narasumber kompeten seperti Askolani Nasution, Patuan Mandailing, dan Dr. Datuk Imam Marzuki, seminar ini diarahkan membedah bagaimana relevansi pemikiran kedua tokoh jika ditarik ke abad ke-21.
STA dinilai kontekstual dengan perjuangannya meletakkan dasar bahasa persatuan yang kini menjadi jangkar NKRI. Sementara Willem Iskander diakui telah menabur benih emansipasi lewat sekolah guru (Kweekschool) Tanobato jauh sebelum fajar kemerdekaan menyingsing.
“Di sisi lain, kita juga mengenang Willem Iskander sebagai pelopor pendidikan dari tanah Mandailing yang telah menanamkan semangat kemajuan, pendidikan, dan kesadaran kebangsaan jauh sebelum Indonesia merdeka,” tambah Afrizal.
Acara yang juga dihadiri jajaran pejabat daerah seperti Staf Ahli Kapsan Usman Utomo Nasution, Kadispora Parlin Lubis, dan Plt. Kaban Kesbangpol Sudrajat Putra ini diharapkan melahirkan naskah akademik yang kokoh.
Pemkab Madina berkomitmen agar hasil seminar ini tidak berhenti sebagai dokumen sejarah di atas meja birokrasi, melainkan menjadi bahan refleksi bagi generasi muda bahwa kepahlawanan sejati tumbuh dari kekuatan ide, keberanian mendobrak keterbelakangan, dan konsistensi dalam mencerdaskan kehidupan bangsa.
Reporter: Sir





Discussion about this post