Aktivitas kegempaan Gunung Sorik Marapi di Mandailing Natal (Madina) terpantau fluktuatif dengan terekamnya gempa vulkanik dan tektonik. PVMBG tetapkan radius aman 1.500 meter.
Panyabungan, StartNews – Aktivitas seismik Gunung Sorik Marapi di Kecamatan Puncak Sorik Marapi, Kabupaten Mandailing Natal (Madina), Sumatera Utara, menunjukkan tren fluktuatif dengan terekamnya satu kali gempa Vulkanik Dalam serta rentetan gempa tektonik pada periode pengamatan Senin, 6 April 2026.
Berdasarkan data Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), gempa vulkanik tersebut tercatat memiliki amplitudo 10 mm dengan durasi dua detik, yang mengindikasikan adanya tekanan magma di bawah permukaan.
Selain gempa vulkanik, instrumen seismograf di Pos Pengamatan juga menangkap aktivitas tektonik yang cukup intens, terdiri dari dua kali gempa Tektonik Lokal dan lima kali gempa Tektonik Jauh.
Gempa Tektonik Jauh tercatat memiliki amplitudo yang cukup signifikan, yakni mencapai kisaran 3 hingga 43 mm dengan durasi guncangan yang bertahan hingga 209 detik.
“Pengamatan kegempaan mencatat adanya satu kali gempa Vulkanik Dalam dengan amplitudo 10 mm, serta beberapa kali gempa tektonik lokal dan jauh selama periode pemantauan ini,” ungkap petugas Pos Pengamatan Gunung Sorik Marapi dalam laporan mengenai kondisi terkini gunung api tersebut.
Secara visual, puncak gunung setinggi 2.145 meter di atas permukaan laut ini terlihat jelas hingga tertutup kabut level 0-II, dengan asap kawah utama berwarna putih yang muncul dalam intensitas tipis. Emisi gas tersebut terpantau membumbung setinggi 50 meter dari puncak.
Sementara kondisi cuaca di sekitar lereng dilaporkan berubah-ubah dari cerah hingga turun hujan dengan suhu udara berkisar antara 19 hingga 26 derajat Celsius.
Merespons kondisi tersebut, PVMBG mengeluarkan rekomendasi ketat agar masyarakat maupun wisatawan tidak memasuki wilayah di dalam radius 1.500 meter dari pusat kawah utama. Larangan ini diberlakukan guna meminimalisir risiko bagi keselamatan warga mengingat status aktivitas gunung yang sewaktu-waktu dapat mengalami perubahan mendadak.
Masyarakat juga diimbau menjauhi area Kawah Sibangor Tonga dan Kawah Sibangor Julu guna menghindari potensi ancaman gas beracun serta semburan lumpur.
Di sisi lain, pemerintah daerah diharapkan terus memperkuat koordinasi dengan Pos Pengamatan di Desa Sibangor Tonga untuk memastikan informasi tersampaikan dengan akurat dan mencegah meluasnya narasi bohong atau hoaks yang dapat memicu kepanikan di tengah warga.
Reporter: Sir





Discussion about this post