Bupati Madina H. Saipullah Nasution menyambut positif rencana pemberangkatan umrah via laut menggunakan kapal pesiar yang diinisiasi Koperasi Jasa Maritim Rido Ilahi guna menggerakkan ekonomi daerah dan mengoptimalkan Pelabuhan Batahan.
Panyabungan, StartNews – Pemerintah Kabupaten Mandailing Natal (Pemkab Madina) menjajaki peluang inovatif pemberangkatan jamaah umrah melalui jalur laut menggunakan kapal pesiar bekerja sama dengan Koperasi Jasa Maritim Rido Ilahi. Langkah ini bertujuan menggerakkan perekonomian daerah sekaligus mengoptimalkan operasional Pelabuhan Palimbungan, Batahan, di kawasan pantai barat Madina.
Penjajakan itu dibahas dalam audiensi antara Bupati Madina H. Saipullah Nasution dan pengurus koperasi di Ruang Kerja Bupati, Komplek Perkantoran Payaloting, Panyabungan, baru-baru ini. Pertemuan ini juga dihadiri oleh Asisten III Setdakab Madina sekaligus Kepala Dinas Perhubungan Lismulyadi Nasution.
Saipullah menegaskan inisiatif rute pelayaran baru ini selaras dengan program prioritas percepatan pengoperasian Pelabuhan Batahan serta peningkatan potensi wilayah pantai barat Sumatera. Menurut dia, kehadiran kapal pesiar umrah akan membuka jalur perdagangan yang lebih luas bagi komoditas lokal.
“Kami sangat mendukung rencana ini. Kehadiran armada kapal pesiar umrah ini beriringan dengan rencana kami untuk mengirim komoditas CPO secara langsung ke India,” ujar Saipullah.
Dia menambahkan, fasilitas pelabuhan tersebut juga akan berfungsi sebagai wadah utama bagi produk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) lokal. Berbagai produk unggulan seperti minyak nilam dan Kopi Mandailing diharapkan dapat langsung terserap ke dalam rantai pasok pelayaran internasional.
Menanggapi dukungan tersebut, Ketua Koperasi Produsen Riandja Sangap Gabe Arta H. Albiner Sitompul menjelaskan, ekosistem bisnis ini sepenuhnya dirancang untuk memutar roda perekonomian rakyat berbasis koperasi. Pengadaan pasokan bahan makanan bagi para jamaah akan melibatkan kelompok tani daerah agar manfaat ekonominya kembali dirasakan oleh masyarakat.
“Kami sangat berharap Pemerintah Pusat maupun Pemkab Madina dapat memberikan perhatian, khususnya dalam bentuk regulasi pendukung dan skema subsidi BBM kapal agar efisiensi biaya perjalanan jemaah dapat terus dipertahankan,” ungkap H. Albiner Sitompul.
Perjalanan umrah jalur laut ini dirancang berdurasi sekitar 9 hingga 12 hari dengan menerapkan sistem logistik terpadu. Dengan estimasi potensi jamaah Madina mencapai 2.000 orang per tahun dan target pengelolaan awal koperasi sekitar 200 jamaah per bulan, pasokan konsumsi dipastikan menggunakan produk lokal dari Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) di empat provinsi terkait.
Pihak pengelola juga menyiapkan menu harian yang disesuaikan dengan selera Nusantara, termasuk menyajikan kuliner khas daerah seperti ikan asap Madina selama pelayaran. Guna menjaga nilai spiritualitas, fasilitas ibadah serta manasik intensif akan dibimbing secara bergantian oleh penceramah terkemuka seperti Ustaz Adi Hidayat dan Ustaz Abdul Somad.
Dari aspek teknis, kapal utama berukuran besar nantinya akan lego jangkar di perairan Batahan. Proses pengangkutan jamaah dari darat menuju kapal utama akan menggunakan tender boat penghubung dengan kapasitas 100 hingga 120 penumpang per trip.
Rute pelayaran ini mengusung konsep konektivitas antar-pelabuhan di pesisir barat Sumatera, mencakup Pelabuhan Pulau Baai Bengkulu, Teluk Bayur Padang, Palimbungan Batahan Madina, Sibolga, Barus, Labuhan Aji, hingga Sabang, Aceh.
Melalui skema ini, pembiayaan perjalanan pulang-pergi (PP) ditawarkan pada kisaran yang terjangkau, yakni Rp20 juta hingga Rp24 juta per jamaah, yang sudah mencakup penanganan logistik dan pengangkutan awal dari Madina.
Reporter: Sir





Discussion about this post