AROMA kopi Mandailing yang pekat mengepul dari cangkir-cangkir kaleng di sebuah warung kopi pojokan pasar Panyabungan. Di sudut meja kayu yang sudah mulai lapuk, empat pria duduk melingkar sembari mendengarkan suara dari radio tua yang diletakkan di atas lemari pendingin. Suara penyiar Radio StArt FM terdengar jernih, membelah kebisingan knalpot angkot yang lewat di depan warung.
“Woi, dengar kelen itu? Besok, StArt FM kita ini rupanya berumur sembilan belas tahun. Bukan main-main lamanya itu, bah. Udah mau kuliah kalau anak manusia itu!” seru Parlin, pemuda setempat yang gayanya selalu perlente tapi sering berhutang kopi. Parlin tipe pengamat media sosial yang jempolnya lebih cepat dari pikirannya.
“Eh, kau pikir gampang jaga napas sampai sembilan belas tahun di zaman sekarang? Tengoklah itu, radio-radio lain banyak yang udah tutup buku gara-gara digilas TikTok sama YouTube. Tapi, StArt FM ini makin ngeri kulihat, makin paten suaranya,” sahut Wak Labu, pensiunan pegawai daerah yang sangat menghargai sejarah dan tradisi, tipe orang tua yang bijak tapi sedikit keras kepala.
“Betul kata Wak Labu itu. Tadi pagi kulihat videonya, Ibu Wakil Bupati kita, Atika Azmi Utammi, sampai bilang kalau usia sembilan belas tahun ini bukti ketekunan dan komitmen. Beliau bilang StArt FM itu bukan sekadar suara di udara, tapi suara yang menghadirkan harapan sama inspirasi. Macam simfoni yang menyejukkan hati katanya. Bah, ngeri kali memang bahasa Ibu Wakil itu, ‘Simfoni Inspirasi dan Harmoni Negeri’ katanya,” ujar Bang Ucok sembari membetulkan letak kacamatanya.
Bang Ucok ini wartawan senior di Mandailing Natal yang sudah makan asam garam dunia jurnalistik, pembawaannya tenang dan selalu bicara berdasarkan data.
“Iya, Bang. Aku pun dengar juga tadi Ketua DPRD kita, Pak Erwin Efendi Lubis, ngomong di radio. Beliau bilang StArt FM ini kawan strategis pemerintah buat nyampaikan informasi ke masyarakat. Malah Pak Erwin berharap kedepannya StArt FM punya inovasi yang lebih gila lagi supaya makin bermanfaat buat rakyat Madina. Intinya, radio ini sudah jadi jembatan antara gedung Dewan sama telinga kita-kita yang di warung kopi ini,” tambah Maman, supir lintas yang baru saja merapat ke warung.
Maman ini karakter yang supel, banyak kawan, dan paling hobi mendengar radio sepanjang jalan lintas Sumatera.
“Tapi itulah, Lin. Jangan cuma pandai memuji aja orang-orang di atas itu. Harusnya pemerintah daerah kita ini kasih dukungan penuh lah. Kan nampak sendiri kelen, cuma StArt FM satu-satunya radio yang profesional di Mandailing Natal ini. Jangan dibiarkan mereka berjuang sendiri lawan gempuran media online yang isinya kadang entah apa-apa itu,” kata Bang Ucok dengan nada bicara yang sedikit lebih serius namun tetap santai.
“Betul kali itu, Bang Ucok! Jangan cuma pas butuh sosialisasi baru dicari radio itu. Harus ada perhatian khusus dari Pemda, entah itu dalam bentuk kerja sama iklan layanan masyarakat atau dukungan infrastruktur. Biar makin jaya mereka. Jangan sampai suara asli Madina ini kalah sama suara-suara dari luar yang nggak tahu apa-apa soal tanah kita ini,” sahut Parlin sambil menggebrak meja pelan, membuat kopi di cangkirnya sedikit bergoyang.
“Macam yang dibilang kawan abang, si Zamharir Rangkuti, Ketua PWI Madina itu semalam. Katanya 19 tahun itu perjalanan yang nggak singkat. StArt FM udah jadi ruang edukasi buat kita semua. Sinergi antara pers sama radio ini memang harus dijaga biar informasi yang sampai ke kita nggak simpang siur,” jelas Bang Ucok lagi, mencoba menyambungkan perspektif rekan sejawatnya di dunia pers.
“Pokoknya kita sebagai pendengar setia, ya tetap dukunglah. Biarpun aku sekarang sering main Facebook, tapi kalau mau dengar berita yang betulan berita, ya tetap kuputar frekuensi 102,6 FM itu. Lebih asik dengar suara penyiarnya daripada dengar orang berantam di kolom komentar media sosial,” celetuk Maman yang disambut gelak tawa oleh ketiga kawannya yang lain.
“Bah, tumben waras kau, Man! Tapi, memang betul, StArt FM ini sudah membumi kali di hati kita. Harapan kita, ya itu tadi, semoga tetap tegak idealisnya, tetap keren siarannya, dan makin diperhatikan sama orang-orang di Pemkab. Dirgahayu lah buat StArt FM, teruslah mengudara dan jadi melodi yang menyatukan kita di Mandailing Natal ini,” pungkas Wak Labu sembari mengangkat cangkir kopinya, seolah-olah sedang melakukan prosesi toast untuk ulang tahun radio kebanggaan mereka.
“Horas! Panjang umur StArt FM!” teriak mereka berempat hampir bersamaan, membuat pemilik warung kopi hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah kompak pelanggan setianya itu. (*)




Discussion about this post