ASAP rokok mengepul tebal menyaingi uap kopi panas di Warkop “Paten”, persis di pusat kota Panyabungan. Pagi itu, suara benturan batu domino di meja ujung kalah riuh dengan perdebatan di meja tengah. Empat lelaki beda nasib dan isi dompet sedang membedah berita hangat yang baru saja tayang di portal berita StArtNews.co.id.
“Alamakjang! Ngeri kali kabupaten kita ini sekarang. Udah bisa kita naik burung besi ke Kualanamu rupanya dari Bukitmalintang. Makin naik kelaslah awak jadi orang Madina ini,” buka Bang Hasibuan sambil membetulkan letak jam emasnya yang sebenarnya tidak melorot.
Bang Hasibuan ini tauke sawit dan kontraktor. Gayanya parlente, selalu pakai jam tangan kuning emas yang silau kalau kena matahari, dan memegang prinsip “waktu adalah uang”
“Iya, Bang. Alhamdulillah, tembus juga ikhtiar Pak Bupati kita, H. Saipullah Nasution, dari tahun lalu. Tanggal 15 Juli kemarin orang dari Lion Air Group datang audiensi langsung ke kantor. Resmi kita terbang perdana tanggal 1 Agustus 2026 ini,” jelas Pak Nas sambil mengaduk kopi hitamnya dengan gaya priyayi.
Pak Nasution atau akrab disapa Pak Nas ini salah satu Kabid di Dinas Kominfo Madina. Kemejanya selalu rapi dimasukkan. Pembawaannya tenang, diplomatis, dan selalu jadi kamus berjalan untuk program-program Bupati.
“Halah! Terbang apanya? Kulihat di situ harganya Rp1,2 juta! Bagus naik travelku, tiga ratus ribu udah sampai Medan, tidur nyenyak pakai AC dingin, berhenti di rumah makan bisa nambah sambal gratis pulak! Bangkrutlah travel kita lama-lama kalau begini,” omel Ucok Lintas, sopir travel trayek Madina-Medan yang sudah hafal jumlah lubang di jalan lintas Sumatera. Suaranya paling keras, gampang emosi kalau bahas saingan transportasi, dan selalu bawa handuk kecil di leher.
“Kau pun, Cok. Kau kira naik pesawat itu kayak naik odong-odong? Harga 1,2 juta itu murah kali untuk Wings Air! Kemarin kata Ibu Juli Aspita dari Lion Air, sengaja dibikin segitu biar rajin orang terbang. Coba kau bandingkan sama rute Sibolga, bisa kena 1,5 juta awak! Di Toli-toli yang jaraknya sama, 2 juta harganya, bah!” balas Bang Hasibuan tak mau kalah, suaranya naik satu oktaf.
“Murah bagi Abang yang tauke sawit, sekali panen bisa beli mobil. Bagi awak yang cuma tukang pangkas, 1,2 juta itu bisa buat beli beras sebulan dicampur ikan asin, Bang. Jangankan naik pesawatnya, nyium bau avturnya aja pun udah syukur awak di bandara Jenderal Besar AH Nasution itu,” sela Makmur santai, yang langsung disambut tawa terkekeh dari meja sebelah.
Makmur ini sehari-hari bekerja sebagai tukang pangkas rambut yang hobi nongkrong di warkop cari gratisan. Dia itu realistis, ceplas-ceplos, dan selalu mewakili jeritan kantong rakyat jelata.
“Makanya, Mur, sasaran utamanya kan untuk percepatan ekonomi dan orang dinas. Bayangkan kau, jadwalnya udah pas kali. Terbang hari Selasa, Kamis, Sabtu. Dari Kualanamu jam 13.00, mendarat di Madina jam 14.20. Baliknya dari Madina jam 14.45, nyampe Medan jam 16.05. Sejam lebih sikit aja di jalan!” urai Pak Nas menjabarkan jadwal operasional armada bagaikan customer service.
“Nah, itu yang kucari, Pak Nas! Coba kalau naik mobil si Ucok, berangkat sore, besok pagi baru nyampe awak di Medan, itu pun kalau tak ada ban bocor di Sipirok. Kalau begini kan, jam setengah 3 sore aku berangkat dari Panyabungan, jam 5 sore udah bisa aku meeting sambil makan durian di Ucok Durian Medan! Paten kali!” timpal Bang Hasibuan sambil menepuk meja kegirangan.
“Tapi cemana nasib kami supir travel ini, Pak Nas? Jangan sampailah periuk nasi kami diganggu. Nanti penumpang kami pada lari semua ngejar burung besi itu,” keluh Ucok Lintas, nadanya mulai melunak, handuk di lehernya ditarik-tarik gelisah.
“Tak usah kau ketar-ketir, Cok. Pasar kalian kan beda, rakyat biasa tetap butuh travelmu. Lagian Pemkab Madina tak cuma diam. Pak Bupati udah main cantik, dikumpulkannya nanti 4 sampai 5 kepala daerah di Tabagsel ini. Biar apa? Biar pejabat Padangsidimpuan, Tapsel, Paluta, Palas kalau mau ke Medan tak usah jauh-jauh, terbang dari Madina aja. Kolaborasi udara ini namanya, Cok. Kalau ekonomi Tabagsel muter cepat, travelmu pun bakal makin banyak orderan bawa barang sama turis lokal,” terang Pak Nas panjang lebar, membuat Ucok Lintas mulai manggut-manggut perlahan.
“Cocok! Pokoknya asal jangan gara-gara pesawat ini mendarat, harga teh manis dingin di warkop ini ikut-ikutan naik jadi seharga kopi Starbucks! Kalau sampai naik, kudemolah bandara itu bawa spanduk cukur rambut!” celetuk Makmur yang sukses memecah tawa seisi warung kopi.
“Hahaha! Tenang kau, Mur. Hari ini biar aku yang bayar semua teh manis dan kopimu. Kita syukuran, Madina udah punya pesawat!” tutup Bang Hasibuan sambil memanggil pemilik warung kopi dengan lagak sultan Panyabungan. (*)





Discussion about this post