Pemerintah Indonesia memperkuat layanan kesehatan haji 1447 H/2026 M dengan membangun 45 klinik di Makkah dan Madinah serta menerapkan sistem rujukan berbasis tingkat keparahan penyakit.
Jakarta, StartNews –Pemerintah Indonesia memperkuat skema layanan kesehatan bagi jamaah haji musim 1447 H/2026 M dengan menambah jumlah klinik dan menerapkan sistem rujukan medis yang lebih ketat guna mengikuti kebijakan terbaru pemerintah Arab Saudi. Langkah ini bertujuan menyesuaikan rasio pelayanan kesehatan yang kini mewajibkan satu klinik kesehatan minimal melayani 5.000 jamaah haji selama berada di Tanah Suci.
Kepala Pusat Kesehatan Haji Liliek Marhaendro Susilo menjelaskan, sebagai konsekuensi aturan tersebut, pemerintah akan mendirikan 40 klinik kesehatan yang tersebar di 10 sektor di wilayah Makkah.
Sementara untuk wilayah Madinah, akan tersedia lima klinik kesehatan yang ditempatkan di lima sektor berbeda, ditambah dengan operasional Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) sebagai pusat rujukan utama di masing-masing kota tersebut.
“Dengan penambahan klinik dan penguatan layanan di KKHI, kami berharap pelayanan kesehatan bagi jamaah semakin optimal,” ujar Liliek, Senin (30/3/2026).
Selain penambahan fasilitas fisik, Kemenkes juga membekali petugas kesehatan kloter dengan pedoman rujukan berbasis tingkat keparahan penyakit atau severity level. Sistem ini dirancang agar petugas medis dapat mengambil keputusan cepat dan tepat, apakah seorang jamaah cukup dirujuk ke KKHI atau harus segera dilarikan ke Rumah Sakit Arab Saudi demi mendapatkan penanganan yang lebih intensif.
Liliek menegaskan, pendekatan berbasis severity level ini penting dalam situasi darurat di lapangan. Menurut dia, akurasi diagnosa awal akan menentukan keselamatan jiwa jamaah yang membutuhkan pertolongan medis mendadak.
“Pendekatan severity level ini penting agar jamaah mendapatkan pertolongan yang cepat dan sesuai dengan kondisi kesehatannya,” kata Liliek.
Guna menjamin mutu layanan tetap memenuhi standar internasional, pemerintah Arab Saudi mewajibkan adanya supervisi dari penyedia layanan kesehatan swasta yang terakreditasi. Untuk musim haji tahun ini, pengawasan operasional layanan kesehatan jamaah Indonesia akan dilakukan oleh Saudi German Hospital. Sementara distribusi obat-obatan akan dikelola secara terpusat dari KKHI menuju seluruh tenaga kesehatan di perhotelan jamaah.
Di sisi lain, Liliek mengimbau para jamaah yang sedang menunggu jadwal keberangkatan untuk mulai disiplin menjaga kondisi fisik dengan menerapkan pola hidup bersih dan sehat serta rutin berolahraga ringan minimal 30 menit setiap hari.
Dia juga mengingatkan pentingnya menjaga stabilitas mental dan spiritual agar jamaah siap menghadapi rangkaian ibadah yang menguras fisik.
“Selain itu, jamaah perlu istirahat cukup, minimal enam jam tidur setiap malam, serta menjaga pikiran tetap positif,” katanya.
Reporter: Sir





Discussion about this post