• Media Kit
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
Selasa, Maret 24, 2026
  • Login
Start News
  • Home
  • Newsline
  • Madina
  • Sumut
  • Nasional
  • Kabar Desa
  • Figur
  • Hiburan
  • Start TV
  • Start FM
No Result
View All Result
  • Home
  • Newsline
  • Madina
  • Sumut
  • Nasional
  • Kabar Desa
  • Figur
  • Hiburan
  • Start TV
  • Start FM
No Result
View All Result
No Result
View All Result

Pentingnya ‘Cangkem Elek dalam Beragama

OLEH: Thobib Al Asyhar | Dosen SKSG Universitas Indonesia

by Redaksi
Jumat, 29 Maret 2024
0 0
0
Pesantren dan Tradisi Lapis Spiritual

Thobib Al Asyhar.

ADVERTISEMENT

DALAM beberapa hari terakhir, saya menyimak ulang video Youtube Gus Baha yang membahas tentang “cangkem elek” dalam beragama. “Cangkem elek” merupakan istilah Jawa yang berarti “mulut pedes”. Penggunaan istilah Gus Baha ini sebenarnya merupakan respon atas sikap beragama kaum literal yang mengandung logika (critical) yang perlu diajukan untuk menghentikan keusilan mereka.

Dalam ceramahnya, Gus Baha menceritakan kejadian di Jakarta. Ada seorang yang konon berpaham keagamaan literal mempersoalkan dalil tentang “salaman” dan “wiridan” jamaah di masjid setelah salat. Mereka mempertanyakan tuntunan dari Rasulullah tentang amaliyah tersebut. Menurut Gus Baha tentu kita kesulitan mencari hadis Nabi tentang hal itu. Kalau toh ada itu dipastikan hadisnyadhaifataumaudlu’.

Lalu kepada mereka yang usil tersebut diajukan pertanyaan dengan “cangkem elek”. Pertanyaannya gini: setelah salat boleh apa tidak kita langsung main HP? Atau ke toilet untuk buang hajat? Jawaban mereka “boleh”. Lho kalau boleh main HP dan buang hajat ke toilet, kenapa setelah salat tidak boleh “salaman” atau “wiridan” yang nota bene zikir (ingat) kepada Allah? Berarti habis salat tidak boleh ingat kepada Allah? Dengan pertanyaan “cangkem elek” seperti itu baru mereka diam seribu bahasa.

Ada lagi yang usil mempersoalkan tentang dalil-dalil ziarah kubur. Mereka sering mengolok-olok, kok kuburan didatangi, minta-minta kok sama orang mati, dan seterusnya. Mereka menuduh sebagai perbuatan syirik, khurafat, dan tahayyul. Intinya, amaliah-amaliah yang secara literal tidak ditemukan dalam Al-Quran dan hadis nabi dikategorikan sebagai perilaku bid’ah, dan setiap bid’ah itudlalaalah(sesat).

Sikap keberagamaan yang “usil” dan “menyerang” amaliah orang lain seperti itu perlu direspon dengan “cangkem elek”. Orang-orang ziarah ke makam itu bukan meminta-minta kepada mayyit. Mereka datang ke makam untuk membaca kalimatthayyibah, ayat-ayat Al-Quran, dan mendoakan kepada orang yang sudah meninggal sebagai cara untuk mengingat akan datangnya kematian. Demikian juga orang tahlilan itu yang dibaca ayat Al-Quran dan doa-doa kebaikan untuk si mayyit. Bukan main gaple atau remi.

Jika cara beragama kita hanya mencela amaliah orang lain, lalu apa yang bisa diamalkan dari sunnah Nabi agar kita menjaga silaturrahim, menjaga lisan agar orang lain tidak tersinggung, dan larangan untuk merasa paling benar sendiri? Janganlah mudah kita menuduh sesat dan bid’ah kepada orang lain yang sebenarnya kita tidak memahami hakikat amaliah itu.

Bukankah orang yang membaca kalimat thayyibah yang awalnya kafir secara otomatis menjadi mukmin? Kenapa begitu mudah menuduh orang lain yang “berbeda” amaliyah sebagai kelompok sesat dan pengamal khurafat? Apakah membaca tahlil (laa ilaaha illallah) dan ayat-ayat Al-Quran disebut khurafat? Bukankah membaca kalimat-kalimat mulia dapat dilakukan kapan pun sebagai ungkapan iman dan ketaatan kita kepada Allah.

Dalam Al-Quran, menghadapi komentar orang usil dalam beragama yang disebabkan karena tidak memiliki pemahaman utuh sebenarnya tidak perlu direspon. Imam Syafii bernah bilang:”Aku mampu berhujah dengan 10 orang yang berilmu, tetapi aku pasti kalah dengan seorang yang jahil, karena orang yang jahil itu tidak pernah paham landasan ilmu.”Karenanya, beliau berpesan:”Apabila orang bodoh mengajak berdebat denganmu, maka sikap yang terbaik adalah diam, tidak menanggapi.”

Namun, di era media sosial dan tradisi viral seperti saat ini, tetap perlu “counternarasi” sebagai upaya untuk membangun tradisi berpikir dalam beragama agar lebih bisa menerima perbedaan. Meskipun dalam kondisi tertentu, berdiam itu penting agar kita tidak terjebak dalamframingmedia. Akan tetapi, dalam hal-hal lain menggunakan “cangkem elek” sebagai cara untuk menyadarkan tetap diperlukan agar kita tidak dalam posisi “seakan-akan” salah. Wallahu a’lam. (*)

Tags: BeragamaCangkem ElekOpini
ShareTweet
Next Post
Tujuh Petugas KPPS di Tapteng Jadi Buronan Polisi, Ini Kasusnya

Tujuh Petugas KPPS di Tapteng Jadi Buronan Polisi, Ini Kasusnya

Discussion about this post

Recommended

Wabup Madina Ungkap Kendala Pembangunan Bandara Jenderal AH Nasution

Lions Air Group Bakal Buka Rute Penerbangan Madina Padang

10 bulan ago
Wartawan TVRI dan StartNews Diteror Terkait Pemberitaan SPBU Linggabayu

Wartawan TVRI dan StartNews Diteror Terkait Pemberitaan SPBU Linggabayu

2 tahun ago

Popular News

  • Kisah Maryam Damim, Tukang Gubah Masjid dan Gonjong Naik Haji

    Kisah Maryam Damim, Tukang Gubah Masjid dan Gonjong Naik Haji

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pletan Berupaya Mengisi 45 Persen Ceruk Pasar Ikan Lele di Bali

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Baksos Bakal Warnai HUT ke-5 Komunitas Pecinta Toyota Fortuner Sumut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Batal Kuliah Kedokteran di China, Santri Ini Malah Dapat Beasiswa di Amerika

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mengenal Hipotensi dan Hipertensi, Bagaimana Pencegahan dan Pengendaliannya?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Contact
  • Home
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi

© 2025

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

error: Copyright Start News Group
No Result
View All Result
  • Home
  • Madina
  • Sumut
  • Newsline
  • Nasional
  • Newsline
  • Kabar Desa
  • Opini
  • Figur
  • Komunitas

© 2025