Keseruan Grup Eor-Eor dari Hutaraja yang menyulap Karnaval HUT ke-81 RI di Madina jadi mesin waktu retro penuh tawa dan nostalgia.
Panyabungan, StartNews – Mesin waktu ternyata bukan cuma milik superhero Hollywood. Sebab, puluhan warga Hutaraja berhasil membuktikannya di tengah jalanan utama kota Panyabungan, Mandailing Natal (Madina).
Barisan peserta berpakaian pejuang legendaris dan pembawa atribut kemerdekaan serba merah-putih mendadak harus rela berbagi panggung utama dengan sekelompok warga yang nekat memutar balik jarum jam.
Penampilan nyentrik Grup Eor-Eor asal Kecamatan Siabu sukses menyihir ribuan pasang mata penonton karnaval HUT ke-81 Republik Indonesia menjadi ajang nostalgia penuh tawa, Minggu (16/8/2026).
Konsep busana serba jadul dipadu irama musik lawas yang menghentak dari pengeras suara rakitan mereka langsung memecah keheningan barisan penonton. Ada yang bergaya ala bintang film era delapan puluhan, lengkap dengan kacamata hitam berbingkai tebal, hingga pakaian komikal yang bikin perut melilit karena menahan tawa.
Bukannya tampil kaku bak pahlawan di buku sejarah, anggota grup ini justru asyik berjoget meliuk-liuk menyapa warga serta para pejabat daerah yang duduk di panggung kehormatan.
Filosofi nama kelompok yang unik ini ternyata sejalan dengan semangat kebersamaan yang mereka usung. Tanpa ada batasan usia atau syarat fisik yang rumit, siapa saja boleh bergabung asal siap melepas urat malu demi menghibur khalayak ramai.
“Yang muda boleh, yang tua juga boleh. Yang penting suka seni dan kreativitas jadul,” ujar Arif, pemimpin Grup Eor-Eor, di sela-sela kemeriahan pawai.
Aksi kocak ini sebenarnya bukan cerita baru di tingkat lokal, melainkan sebuah tradisi kegilaan kreatif yang terus berevolusi. Setelah sempat memposting kehebohan serupa di tingkat Kecamatan Siabu pada tahun 2025, rombongan ini memberanikan diri naik kelas menembus arena karnaval tingkat kabupaten.
Langkah berani tersebut diambil bukan tanpa alasan, melainkan demi membawa misi kebudayaan lokal agar dilirik langsung oleh pucuk pimpinan daerah.
Ambisi menggelitik itu pun akhirnya terbayar tuntas ketika gelak tawa penonton membahana di sepanjang rute parade.
“Tahun kemarin kami tampil di kecamatan, tahun ini tampil di kabupaten. Sekalian menunjukkan di hadapan bupati bahwa budaya seperti ini masih ada di Madina,” tutur Arif seraya tersenyum puas melihat respons hangat masyarakat dan jajaran pejabat setempat.
Kehadiran Grup Eor-Eor menjadi bukti segar bahwa merayakan kemerdekaan tak selalu harus diisi dengan ketegangan atau baris-berbaris yang kaku. Lewat sentuhan humor ringan, kerapian kostum masa lalu, serta semangat inklusif dari desa, nostalgia jadul berhasil disulap menjadi hiburan rakyat yang paling membekas di hati warga Madina.
Reporter: Fadli Mustafid





Discussion about this post