Panyabungan, StartNews Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Padangsidimpuan akhirnya resmi bertransformasi menjadi Universitas Islam Negeri Syekh Ali Hasan Ahmad Addary (UIN Syahada) Padangsidimpuan.
Transformasi IAIN Padangsidimpuan jadi UIN Syahada tersebut resmi setelah Presiden Joko Widodo menandatangani Peraturan Presiden Nomor 87 Tahun 2022.
Lantas, siapa sebenarnya Syekh Ali Hasan Ahmad Addary (SYAHADA ) yang menjadi nama UIN Padangsidempuan?
Menurut Presiden Ikatan Pemuda Mandailing (IPM) Tan Gazali Nasution, Syekh Ali Hasan adalah seorang tokoh pendidikan Islam. Syekh H. Ali Hasan Ahmad Hasibuan merupakan ulama Mandailing abad 20. Pelopor berdirinya UIN Imam Bonjol, UINSU, PERTINU, STAITA dan UIN Syeikh Ali Hasan Ahmad Addary Kota Padangsidimpuan dan tokoh Pendidikan Islam dan NU Tapanuli bagian selatan.
Prof. Syekh H. Ali Hasan Ahmad Addary lahir di Pintupadang Julu, Kecamatan Siabu, Tapanuli Selatan (sekarang Mandailing Natal) tanggal 9 Februari 1915. Beliau seorang bermarga Hasibuan dan merupakan seorang guru besar yang pernah mengecap pendidikan di Darul Ulum, Mekkah, sebagai penanda almamater di belakang namanya ada tambahan Addary.

Di Padangsidimpuan, beliau sering dipanggil Tuan Hasan. Tuan Hasan dibesarkan di lingkungan yang Islami dan banyak langsung mendapatkan ilmu dari ulama kaum tua di Mandailing. Beliau pernah sekolah Madrasah Islamiyah di Padangsidimpuan, Volksschool di Siabu dan sempat 3 tahun di Mushtafawiyah Purbabaru berguru langsung kepada Syekh Mushtafa Husein pada usia yang baru menginjak 12 tahun.
Tuan Hasan berangkat ke Mekkah memperdalam ilmu agamanya di Madrasah Shoulatiyah yang kemudian dilanjutkan ke Madrasah Darul Ulum. Beliau menerima ilmu langsung dari guru-guru besar di Mekkah yang berasal dari seluruh penjuru dunia, termasuk dari Indonesia. Terdapat 8 mata pelajaran utama yang dipelajari beliau, yaitu Ilmu Hadis, Ilmu Fiqih, Ilmu Bahasa (Nahwu dan Sharaf), Ilmu Tafsir, Mantiq, Ilmu Falaq, Sejarah, dan Ilmu Tasawuf.
Selama belajar di Mekkah, ternyata Tuan Hasan juga sambil mengajar. Beliau sempat mengajar tingkat ibtidiyah dan tsanawiyah di Darul Ulum sampai tahun 1938 ketika usianya sekitar 23 tahun. Pada tahun 1938, beliau pun kembali ke Tanah Air. Ditunjang hasratnya untuk memajukan pendidikan Islam di Tapanuli, beliau pun langsung mengabdikan ilmunya di almamaternya, Madrasah Mushtafawiyah Purbabaru.
Setelah 3 tahun mengajar di Purbabaru, beliau kemudian kembali ke kampung halamannya. Pada tahun 1941, beliau mendirikan masjid dan Madrasah Ma’hadul Islahiddin di Huta Baringin, Siabu. Selain mengajar ilmu agama, Tuan Hasan juga aktif bergaul dengan sesama ulama di Tabagsel. Dipimpin Syekh Musthafa Husein Purbabaru, Tuan Hasan turut mendirikan Nahdlatul Ulama Sumatera Utara yang diresmikan pada tanggal 9 Februari 1947 di Padangsidimpuan.
Syekh Musthafa Husein Nasution sendiri terpilih menjadi Rois Syuriyah pertama dan Syekh Baharuddin Thalib Lubis terpilih menjadi Ketua Tanfidziyah pertama NU Sumatera Utara. Tuan Hasan pun masuk dalam jajaran pengurus NU Sumatera Utara tersebut.
Keberadaan Tuan Hasan dalam NU tentunya sangat berpengaruh pada perkembangan pendidikan NU di Tabagsel. Tahun 1950, beliau diangkat menjadi PNS di lingkungan Departemen Agama. Pada tahun 1954, beliau pindah tugas ke Padangsidimpuan sebagai Kepala KUA Tapanuli Selatan.
Menurut rekan-rekan beliau di NU, Tuan Hasan merupakan seorang pemikir dan konseptor yang sangat andal dalam memajukan dunia pendidikan Islam umumnya dan pendidikan NU (Aswaja) khususnya. Peranan Tuan Hasan di dunia Pendidikan Islam Tapanuli Selatan semakin nyata setelah pada tahun 1958, beliau mendirikan Pendidikan Guru Agama Al Iman bersama adik kandungnya, Zubeir Ahmad. Beliau pun menjadi direktur (kepala sekolah) sekolah tersebut. Sekolah inilah cikal-bakal PGA Negeri Padangsidimpuan yang sekarang menjadi MAN 2 (model) Padangsidimpuan.
Tahun 1962, atas prakarsa Tuan Hasan, bersama-sama ulama NU seperti Syekh Ja’far Abdul Wahab, Syekh Abdul Halim Khatib, Syekh Baharuddin Thalib Lubis, Syekh Muhammad Dahlan Hasibuan, Tongku Imom Hasibuan, Syekh H. Mukhtar Muda Nasution dan lain-lain, Perguruan Tinggi NU (PERTINU) didirikan di Padangsidimpuan sebagai wadah pendidikan tinggi bagi warga nahdliyin di Tapanuli Selatan dan Sumatera Utara.
PERTINU kemudian berganti nama menjadi Universitas Nahdlatul Ulama Sumatera Utara (UNUSU) dan Tuan Hasan pun diangkat menjadi rektor pertamanya. Dalam perkembangannya, pada tahun 1968 UNUSU di Padangsidimpuan pun akhirnya dinegerikan menjadi cabang IAIN Imam Bonjol Padang. Atas perjuangan Tuan Hasan dan kawan-kawan, pada tahun 1973 resmilah berdiri IAIN Sumut, yang sekarang menjadi Universistas Islam Sumatera Utara (UINSU) dan cabangnya Fakultas Tarbiyah di Kota Padangsidimpuan dimana Tuan Hasan menjadi dekannya.
Prof. Syekh Ali Hasan Ahmad Hasibuan juga mendirikan Universitas Islam Tapanuli, yang sekarang berganti nama dengan STAITA (Sekolah Tinggi Agama Islam Tapanuli Selatan) di Kota Padangsidimpuan. Tuan Hasan tidak seperti ulama lain mendirikan pondok pesanteren. Sebagai gantinya, dia mendirikan lembaga-lembaga pendidikan yang saat ini menjadi tiang pendidikan Islam di wilayah Mandailing dan sekitarnya.
Melengkapi kiprah dalam pendidikan Islam, Tuan Hasan menulis buku-buku yang sebagian besar diterbitkan oleh penerbitnya sendiri, Al Mahfudz Budi, yang diambil dari nama anak kandung paling bungsu. Lebih dari 40 judul buku sudah dibuatnya dan semua buku tersebut berkaitan dengan agama Islam.
Syekh Tuan Ali Hasan Ahmad Addary meninggal pada 26 Februari 1998 di Medan dan dimakamkan di Desa Huta Baringin, Kecamatan Siabu, Mandailing Natal.
Reporter: Lokot Husda Lubis





Discussion about this post