SUASANA sebuah warung kopi legendaris di persimpangan pusat kota Panyabungan. Asap rokok mengepul tebal, beradu dengan aroma kopi robusta. Suara dentingan sendok mengaduk gelas kaca terdengar nyaring di tengah obrolan pagi.
“Kencang kali ku tengok angin mutasi di Pemkab kita ini, bah! Baru kemarin eselon dua digeser, siang ini udah gerak lagi gerbongnya. Ngeri-ngeri sedap awak nengoknya,” buka Saut.
Saut ini aktivis yang vokal, sinis, dan selalu curiga terhadap manuver birokrasi. Dia melihat setiap kebijakan pemerintah dari kacamata kritis dan selalu mempertanyakan motif di baliknya.
“Bukan asal gerak itu, Lae. Itu namanya penyegaran mesin birokrasi, biar makin kencang larinya,” sahut Pak Lubis.
Pak Lubis masih aktif berstatus PNS Pemkab Madina. Dia loyal, bersemangat, dan pragmatis. Dia sangat mendukung kebijakan mutasi pemerintah, meyakini bahwa perombakan sebagai kunci akselerasi kinerja dan penyerapan anggaran.
“Penyegaran macam mana pula? Nanti ujung-ujungnya yang naik orang-orang itu juga mukanya. Eselon empat ini kan akar rumput, eksekutor langsung di lapangan. Kalau salah letak, makin hancur lah serapan anggaran kita, cemana rupanya?” debat Saut.
“Makanya kau baca beritanya sampai habis. Jangan cuma dari warung kopi ke warung kopi kerjamu. Buka dulu StartNews hari ini! Surat undangan nomor 005/1280/BKPSDM/2026 itu sudah diteken langsung sama Pj Sekda, Pak Afrizal. Ini murni strategi percepatan. Pejabat lama yang lelet kerjanya, ya harus diganti. Kita ini mau kejar target serapan anggaran triwulan dua, wajar kalau Pemkab butuh formasi baru yang lebih gesit,” bela Pak Lubis.
“Tambah dulu kopimu ini, Pak Lubis, biar makin paten suaramu membela bos-bos itu. Tapi, betul juga kata dia, kalau ASN makin rajin dan cair anggarannya, makin seringlah orang itu ngopi di kedai awak, ya kan?” sela Wak Udin.
Wak Udin, pemilik warung kopi yang santai, jenaka, dan ceplas-ceplos. Perhatian utamanya kelarisan jualan kopinya. Namun, celetukannya sering kali menjadi kesimpulan yang paling membumi.
“Kalian ini ribut saja dari tadi. Di meja redaksi, kabar pelantikan ini sudah masuk radarnya sejak Selasa kemarin. Eselon empat alias Pejabat Pengawas ini posisinya sangat strategis. Mereka yang langsung memegang teknis pekerjaan dan berhadapan dengan masyarakat,” timpal Bang Ucok.
Bang Ucok ini wartawan senior yang berpikir tajam, tenang, analitis, dan kenyang makan asam garam pemerintahan lokal. Gaya bicaranya terukur, mencerminkan jurnalis yang berpegang pada fakta dan etika pengawasan.
“Nah, cocok kali yang dibilang Bang Ucok ini! Makanya disiplin administrasinya ketat kali ini. Disuruh kumpul jam satu siang nanti di Aula Kantor Bupati Komplek Paya Loting, satu jam sebelum acara pengambilan sumpah dimulai. Harus pakai seragam PDH lengkap, atribut Korpri, sama peci hitam. Pemkab Madina mau tunjukkan kalau birokrasi kita sekarang tegak lurus dan siap kerja cepat!” tegas Pak Lubis.
“Awak bukan apa-apa ya, Pak Lubis. Murni ragu awak nengoknya. Jangan sampai pelantikan jam dua nanti cuma sekadar ganti plat kereta, tapi mesinnya tetap mogok. Apa jaminannya angka serapan anggaran di triwulan dua ini betul-betul bisa naik?” kejar Saut.
“Tugas kita bukan mencari jaminan, Saut, tapi mengawasi jalannya mesin itu. Begitu mereka disumpah jam dua siang nanti, besok paginya pena jurnalis yang akan menagih janji kerja mereka. Kebijakan mutasi ini adalah langkah taktis dan hak prerogatif pemerintah daerah, tapi pembuktian utamanya ada di lapangan. Kita pantau terus efektivitasnya lewat liputan harian,” pungkas Bang Ucok.
“Paten! Intinya, siapapun nanti yang duduk di kursi pengawas, pastikan saja bon kopi bulan lalu dilunasi dulu sebelum pindah ruangan, biar damai perputaran ekonomi di Panyabungan ini,” tutup Wak Udin. (*)





Discussion about this post