“GAJAH sama gajah berkelahi, pelanduk mati di tengah-tengah.” Peribahasa ini sungguh menjadi cerminan pahit bagi 23 guru yang mengabdi di SMKS Mitra Mandiri Panyabungan, Kabupaten Mandailing Natal (Madina). Mereka adalah “pelanduk” yang terhimpit dalam perseteruan tak berujung antara para pewaris Yayasan Pendidikan Haji Muslim Panyabungan (YPHMP), yang menaungi sekolah tersebut.
Akibat konflik internal keluarga yang memperebutkan kendali, nasib puluhan tenaga pendidik ini kini terkatung-katung, dengan hak dasar mereka—gaji—terbengkalai selama lima bulan terakhir karena dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) tidak dapat dicairkan.
Inilah wajah buram dunia pendidikan kita. Urusan perut pendidik yang mulia harus terabaikan hanya karena sengketa kepemilikan dan kekuasaan keluarga. Dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) yang seharusnya menjadi sumber utama gaji para guru tersebut, kini tertahan di Bank Sumut. Terblokir oleh kebuntuan administrasi yang lahir dari perselisihan antara-saudara kandung.
Sejak Juli 2025, para guru tersebut dipaksa bertahan dalam situasi yang secara psikis dan finansial menghancurkan. Rasa khawatir atas masa depan keluarga, tekanan ekonomi yang berat, dan keharusan mencari sumber pendapatan alternatif telah merenggut fokus mereka dalam mengajar. Seorang guru, yang seharusnya menjadi pilar pendidikan, kini merasa dizalimi. Menjadi tumbal yang dikorbankan dalam perseteruan yang bukan urusan mereka.
Dampak psikologisnya tak bisa dianggap remeh. Stres berkepanjangan akibat ketidakpastian ini menyebar dari ruang guru ke rumah-rumah. Mengancam kesehatan mental mereka dan keluarga. Bagaimana mungkin kita berharap seorang guru dapat memberikan yang terbaik di kelas. Sementara pikirannya dipenuhi kekhawatiran tentang dapur yang harus tetap mengepul?
Kepada para pewaris yayasan—yang ironisnya masih terikat tali persaudaraan—waktunya telah tiba untuk menanggalkan ego dan melihat gambaran yang lebih besar. Sengketa antara kakak-beradik kandung mungkin memiliki akar perselisihan yang mendalam. Tetapi, konflik pribadi tidak boleh dijadikan alasan untuk mengorbankan aset paling berharga sekolah: para guru dan ratusan siswa.
Yayasan Pendidikan Haji Muslim Panyabungan (YPHMP) merupakan entitas pendidikan, bukan gelanggang pertarungan keluarga. Sebagai pengelola institusi pendidikan, tanggung jawab moral untuk menjamin keberlangsungan kegiatan belajar-mengajar dan kesejahteraan tenaga pengajar adalah mutlak hukumnya.
Penyelesaian konflik ini harus segera diupayakan dengan kepala dingin dan hati nurani. Solusi terbaik harus ditemukan segera agar dana BOS dapat dicairkan. Institusi pendidikan ini, SMKS Mitra Mandiri Panyabungan, harus diselamatkan. Bukan hanya demi para guru, tetapi demi masa depan ratusan siswa yang bergantung pada sekolah ini untuk meraih cita-cita mereka.
Biarkan para gajah berdamai atau mencari jalur hukum yang terpisah. Tetapi, jangan pernah korbankan pelanduk yang tak bersalah. Guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa. Siswa adalah penerus bangsa yang tak boleh terhenti pendidikannya. Keberlanjutan pendidikan menjadi prioritas yang tak bisa ditawar lagi.
Para pihak yang bersengketa harus menyadari, nasib 23 keluarga dan ratusan masa depan siswa kini ada di tangan mereka. Harapan penyelesaian konflik ini bukan lagi sekadar keinginan, melainkan tuntutan mendesak demi kemanusiaan dan martabat profesi guru. Hentikan drama ini! Biarkan pendidikan kembali berjalan. (*)
Penulis: Saparuddin Siregar | Pemimpin Redaksi StartNews.co.id





Discussion about this post