• Media Kit
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
Selasa, Mei 5, 2026
  • Login
Start News
  • Home
  • Newsline
  • Madina
  • Sumut
  • Nasional
  • Kabar Desa
  • Figur
  • Hiburan
  • Start TV
  • Start FM
No Result
View All Result
  • Home
  • Newsline
  • Madina
  • Sumut
  • Nasional
  • Kabar Desa
  • Figur
  • Hiburan
  • Start TV
  • Start FM
No Result
View All Result
No Result
View All Result

Cita-cita Nasaruddin Umar Jadi Mantri, Malah Jadi Menteri

by Redaksi
Selasa, 8 April 2025
0 0
0
Cita-cita Nasaruddin Umar Jadi Mantri, Malah Jadi Menteri

Menteri Agama Prof. KH Nasaruddin Umar, MA. (FOTO: ISTIMEWA)

ADVERTISEMENT

Ujung Bone, StartNews Debu jalanan Ujung Bone mungkin tak pernah menyangka, seorang bocah yang bercita-cita sederhana menjadi mantri, kelak akan menapaki karpet istana sebagai Menteri Agama Republik Indonesia.

Dialah Prof. KH Nasaruddin Umar, MA, sosok kharismatik yang kini memimpin urusan umat beragama di negeri ini. Namun, di balik jubah kebesaran dan retorika yang menyejukkan, tersembunyi kisah seorang anak desa yang tumbuh dalam didikan keras namun penuh cinta dari seorang ayah yang mengabdikan hidupnya untuk pendidikan.

Andi Muhammad Umar, nama itu terukir dalam benak Nasaruddin Umar bukan hanya sebagai ayah biologis, melainkan juga sebagai guru kehidupan pertama. Di tengah keterbatasan ekonomi, sang ayah, seorang guru bantu tanpa gaji di Sekolah Rakyat kampung halamannya, menanamkan nilai-nilai luhur tentang pentingnya ilmu pengetahuan dan semangat pantang menyerah.

Bahkan ketika kesulitan menghimpit hingga harus merantau ke Surabaya menjadi buruh pelabuhan, panggilan jiwa pendidik tetap membara dalam diri Andi Muhammad Umar. Keputusannya untuk kembali ke kampung halaman demi mengisi kekosongan guru adalah pelajaran nyata tentang dedikasi dan tanggung jawab.

“Jangan balas dendam secara fisik, jika ingin membalas, balaslah dengan menempuh pendidikan, bersekolah,” pesan itu berulang kali terngiang di telinga Nasaruddin kecil.

Sebuah wejangan yang tak hanya menjadi prinsip hidup, namun juga menjadi cambuk untuk terus mengukir prestasi. Nasionalisme sang ayah, yang merupakan salah satu perintis Gerakan Pemuda Ansor di Sulawesi Selatan, turut membentuk kecintaan Nasaruddin pada tanah air.

Masa kanak-kanak di Ujung Bone menjadi saksi bisu bagaimana nilai-nilai agama mulai merasuki jiwa Nasaruddin. Madrasah As’adiyah Cabang 7, dengan sistem “Massikola Ara'” yang unik, menjadi tempatnya menimba ilmu agama di sore hari, setelah pagi diisi dengan pelajaran umum. Di sanalah, benih-benih kecerdasan dan ketertarikannya pada dunia spiritual mulai tumbuh.

Cita-cita menjadi mantri sempat singgah di benaknya, terinspirasi dari sosok paman. Namun, mata seorang alim dan bijak, KH. Muh. Amin, melihat potensi yang lebih besar dalam diri Nasaruddin. Saran untuk melanjutkan pendidikan ke Pondok Pesantren As’adiyah menjadi titik balik dalam hidupnya. Di pesantren inilah, bakatnya dalam bidang keagamaan berkembang pesat, mengungguli teman-teman sebayanya.

Kisah pilu masa kecil, seperti pengalaman pingsan dua hari pasca dikhitan akibat keterbatasan ekonomi keluarga, tak lantas meruntuhkan semangatnya. Justru, kesulitan itu menempa mentalnya menjadi pribadi yang kuat dan memiliki empati mendalam terhadap sesama. “Assikolaki nak mancaji tau,” (sekolah nak, agar jadi orang), pesan sederhana dari kedua orang tuanya, menjadi mantra yang mengantarkan Nasaruddin Umar meraih gelar demi gelar, baik di dalam maupun luar negeri.

Perjalanan hidup Prof. KH. Nasaruddin Umar tak hanya berkutat di dunia pesantren dan akademisi. Pengalamannya mendampingi dua mantan presiden, SBY dan Prabowo, memberikan perspektif yang luas tentang dinamika kepemimpinan nasional. Bahkan, uluran tangan Prabowo saat ia menempuh pendidikan di luar negeri menjadi bukti adanya jalinan persahabatan dan dukungan lintas batas.

Kini, di kursi Menteri Agama, Nasaruddin Umar membawa serta seluruh pengalaman dan nilai-nilai yang telah tertanam dalam dirinya sejak kecil. “Para anak-anakku santri, tidak boleh tunduk dengan keadaan, seberapapun berat dan sulitnya. Kita harus tetap berjuang,” ujar Menag Nasaruddin Umar saat bertemu para santri di Pondok Pesantren Al Ikhlas Ujung Bone, Sulawesi Selatan, Senin (7/4/2025).

Pondok Pesantren Al Ikhlas yang didirikannya, dengan visi mencetak pemimpin bangsa dan dunia yang berwawasan global, adalah manifestasi dari cita-cita luhur sang ayah untuk melihat generasi penerus meraih pendidikan setinggi mungkin. Dengan 15 cabang yang tersebar di Indonesia, pesantren ini menjadi oase pendidikan yang mengintegrasikan nilai-nilai agama, kebangsaan, dan teknologi.

Kini, dari kursi Menteri Agama, Nasaruddin Umar juga bertekad untuk menjadikan pesantren sebagai garda terdepan dalam mempertahankan tradisi keindonesiaan dan mengarusutamakan moderasi beragama adalah wujud nyata dari perjalanan hidupnya yang panjang. Dari angan sederhana seorang bocah di Ujung Bone, kini ia menjelma menjadi nahkoda yang mengarungi samudra keberagaman Indonesia, berbekal nilai-nilai luhur yang diwariskan oleh sang guru kehidupan pertamanya, ayahnya tercinta.

Reporter: Rls/Kemenag

Tags: Cita-citaMantriMenteriNasaruddin Umar
ShareTweet
Next Post
Muslih Ajak Jajarannya Berinovasi untuk Kemajuan Kotanopan

Muslih Ajak Jajarannya Berinovasi untuk Kemajuan Kotanopan

Discussion about this post

Recommended

DPRDSU: TNI/Polri Harus Hentikan Premanisme di Sumatra Utara

DPRDSU: TNI/Polri Harus Hentikan Premanisme di Sumatra Utara

5 tahun ago
Modus Pinjam Motor Teman, Mahasiswa di Padangsidimpuan Berakhir di Sel Tahanan

Modus Pinjam Motor Teman, Mahasiswa di Padangsidimpuan Berakhir di Sel Tahanan

2 bulan ago

Popular News

  • Respons Keresahan Warga, Polisi Gerebek Markas Sabu di Kelurahan Sipolupolu

    Respons Keresahan Warga, Polisi Gerebek Markas Sabu di Kelurahan Sipolupolu

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Rotasi Pejabat Lagi, Sahnan Pasaribu Jadi Plt. Kadis PUPR Madina Gantikan A. Faisal

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kadis Perkim dan Plt. Kadis Kominfo Madina Digeser, Ini Penggantinya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mengenal Hipotensi dan Hipertensi, Bagaimana Pencegahan dan Pengendaliannya?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Batal Kuliah Kedokteran di China, Santri Ini Malah Dapat Beasiswa di Amerika

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Contact
  • Home
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
Call us: +1 234 JEG THEME

© 2025

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

error: Copyright Start News Group
No Result
View All Result
  • Home
  • Madina
  • Sumut
  • Newsline
  • Nasional
  • Newsline
  • Kabar Desa
  • Opini
  • Figur
  • Komunitas

© 2025