• Media Kit
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
Selasa, Juni 30, 2026
  • Login
Start News
  • Home
  • Newsline
  • Madina
  • Sumut
  • Nasional
  • Kabar Desa
  • Figur
  • Hiburan
  • Start TV
  • Start FM
No Result
View All Result
  • Home
  • Newsline
  • Madina
  • Sumut
  • Nasional
  • Kabar Desa
  • Figur
  • Hiburan
  • Start TV
  • Start FM
No Result
View All Result
No Result
View All Result

Banjir Tano Sere

SIKAP REDAKSI

by Redaksi
Senin, 23 Agustus 2021
0 0
0
Banjir Tano Sere

Ilustrasi.

ADVERTISEMENT

BANJIR lagi, banjir lagi. Dalam sepekan ini, kita disuguhi berita tentang banjir yang merendam sejumlah desa di Kecamatan Linggabayu, Kecamatan Natal, Kecamatan Muara Batang Gadis, dan Kecamatan Siabu. Soal banjir di beberapa desa itu memang bukan sesuatu yang baru lagi. Beberapa kalangan menyebut bencana itu sebagai peristiwa alam yang berulang terjadi setiap tahun. Terutama saat curah hujan tinggi yang menyebabkan Sungai Batang Natal dan sungai-sungai lainnya meluap.

Kita mengapresiasi langkah Pemkab Mandailing Natal (Madina) yang cepat merespon peristiwa alam itu. Lewat instansi terkait, Pemkab Madina langsung mendirikan posko kesehatan yang dilengkapi obatan-obatan. Juga memberikan bantuan logistik untuk warga yang terdampak banjir.

Akan tetapi, apa yang dilakukan Pemkab Madina itu hanya solusi jangka pendek. Itu artinya, solusi yang sama sekali belum menyentuh akar persoalan.

Lantas, kenapa banjir itu kerap terjadi? Tentu jawabannya bukan rahasia lagi. Banjir yang melanda sejumlah desa itu akibat kerusakan lingkungan sebagai dampak maraknya aktivitas pertambangan emas ilegal di bantaran Sungai Batang Natal.

Selain menyebabkan banjir, aktivitas tambang ilegal itu tentunya juga mengancam kesehatan warga yang bermukim di sekitarnya. Pengerukan di sisi sungai menggunakan alat berat seperti ekskavator sudah pasti merusak ekosistem Sungai Batang Natal. Air sungai jadi keruh. Warga pun tak bisa lagi memanfaatkannya untuk keperluan mandi, cuci, dan kakus.

Ironisnya, persoalan itu sudah berulang kali dibahas di forum-forum pemerintahan dan lembaga penegak hukum. Mulai dari tingkat provinsi hingga level kabupaten. Contoh kecil saja, saat berkunjung ke Madina pada Desember tahun lalu, Gubernur Sumatera Utara Edy Rahmayadi pernah berjanji akan menutup tambang ilegal di Madina. Namun, sampai hari ini janji itu belum juga ditepati.

Di tingkat Kabupaten Madina, Forkopimda juga pernah membahas kerusakan lingkungan yang menghasilkan pundi-pundi emas itu pada akhir April 2021. Hasilnya, Forkopimda sepakat menertibkan penambangan emas di wilayah Batang Natal dan Linggabayu. Lagi-lagi janji itu hanya sebatas retorika. Realitas yang terjadi justru sebaliknya. Aktivitas tambang emas ilegal malah semakin ramai di kawasan itu.

Bahkan, isu keterlibatan sejumlah oknum tertentu di Madina dalam aktivitas ilegal itu menjadi pembicaraan publik. Jangan heran, kekayaan emas yang tersimpan di perut bumi Madina tano sere ini hanya dinikmati orang-orang tertentu saja. Sebaliknya, masyarakat sebagai pemegang hak ulayat di kawasan itu hanya menjadi korban terdampak kerusakan lingkungan.

Untuk menertibkan pertambangan ilegal itu memang tidak mudah. Kita butuh pemegang amanah rakyat yang punya moralitas dan keberanian menertibkan sindikasi pertambangan ilegal. Langkah itu, tentunya hanya mampu dilakukan pemimpin yang tidak silau melihat kilauan emas.

Itu sebabnya, di bawah kepepimpinan Bupati HM Jafar Sukhairi Nasution dan Wakil Bupati Atika Azmi Utammi Nasution, kita berharap Pemkab Madina melakukan langkah-langkah nyata dan terukur untuk menertibkan aktivitas tambang ilegal di bantaran Sungai Batang Natal. Pemkab Madina harus menjalin sinergitas dengan Pemprov Sumut dan lembaga penegak hukum untuk mengatasi kerusakan lingkungan akibat pertambngan emas ilegal itu.

Lebih dari itu, Pemkab Madina juga harus mampu merangsang partisipasi masyarakat untuk proaktif menjaga kelestarian lingkungan. Bila perlu, pemerintah mengajak masyarakat memanfaatkan kekayaan alam itu dengan cara yang benar dan legal. Tentunya, dengan meminimalisasi kerusakan lingkungan. Dengan begitu, kesejahteraan masyarakat dapat meningkat secara merata. Dengan kata lain, masyarakat secara bersama-sama dapat menikmati jargon tano sere yang melekat pada Bumi Gordang Sambilan ini. (Redaksi)

Tags: Banjirmandailing natalTambang EmasTano Sere
ShareTweet
Next Post
Saleh Daulay Sebut Amendemen UUD 1945 Bukan Pekerjaan Mudah

Saleh Daulay Sebut Amendemen UUD 1945 Bukan Pekerjaan Mudah

Discussion about this post

Recommended

Eli Mahrani Praktikkan Cara Belajar Menyenangkan Bersama Murid-murid PAUD

Eli Mahrani Praktikkan Cara Belajar Menyenangkan Bersama Murid-murid PAUD

3 tahun ago
Wabup Madina Sumbangkan Gajinya untuk Pasien RSUD Panyabungan

Wabup Madina Sumbangkan Gajinya untuk Pasien RSUD Panyabungan

4 tahun ago

Popular News

  • Puluhan Irjen dan Brigjen Baru Isi Jabatan Strategis, Ini Daftarnya

    Puluhan Irjen dan Brigjen Baru Isi Jabatan Strategis, Ini Daftarnya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • 29 Peserta Berebut Kursi JPTP Pemkab Madina, Yuri Pendaftar Pamungkas

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Batal Kuliah Kedokteran di China, Santri Ini Malah Dapat Beasiswa di Amerika

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Polres Padangsidimpuan Punya Kapolres Baru

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Baksos Bakal Warnai HUT ke-5 Komunitas Pecinta Toyota Fortuner Sumut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Contact
  • Home
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi

© 2026

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

error: Copyright Start News Group
No Result
View All Result
  • Home
  • Madina
  • Sumut
  • Newsline
  • Nasional
  • Newsline
  • Kabar Desa
  • Opini
  • Figur
  • Komunitas

© 2026