Sebuah video yang memperlihatkan Asisten Pemko Sibolga Deni A. Lubis mengusir wartawan saat rapat bantuan bencana alam viral di media sosial. Insiden ini memicu kekecewaan warga hingga mereka memilih walk out dari ruang rapat.
Sibolga, StartNews – Asisten Pemerintahan Kota (Pemko) Sibolga Deni A. Lubis mengusir sejumlah wartawan yang meliput rapat dengar pendapat terkait bantuan bencana di Aula Kantor Camat Sibolga Utara, Senin (13/7/2026). Tindakan pengusiran yang dinilai arogan tersebut terekam dalam rekaman video yang kini viral dan menjadi perbincangan hangat di jagat maya.
Berdasarkan pantauan pada akun Facebook Simentel Mentel pada Selasa (14/7/2026), video berdurasi singkat itu memperlihatkan ketegangan saat Deni Lubis mempertanyakan identitas para jurnalis secara tendensius sebelum rapat dimulai.
Dia mendesak para awak media untuk menunjukkan kartu pers, surat tugas, hingga sertifikat Uji Kompetensi Wartawan (UKW), sebelum akhirnya memerintahkan mereka untuk segera meninggalkan ruangan.
“Kejadian ini menunjukkan betapa mundurnya pemahaman pejabat kita terhadap keterbukaan informasi. Wartawan datang untuk meliput hak rakyat, bukan untuk diinterogasi layaknya kriminal,” tulis akun Facebook Simentel Mentel dalam unggahannya yang memicu ratusan reaksi dari netizen.
Pengusiran tersebut langsung memicu reaksi Anggota DPRD Kota Sibolga dari Fraksi PDI Perjuangan, Mandapot Pasaribu, yang juga hadir dalam ruangan.
Mandapot sempat menyela dan memberikan edukasi hukum kepada Deni Lubis bahwa kehadiran jurnalis dilindungi oleh Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers dan Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik (KIP). Namun, imbauan legislator itu diabaikan oleh Deni Lubis yang tetap bersikukuh mengusir wartawan.
Sikap keras kepala sang Asisten Pemerintahan justru memicu solidaritas yang tidak terduga dari para peserta rapat. Merasa kecewa dengan arogansi pejabat publik yang dinilai tidak menghormati prinsip transparansi dan mengabaikan masukan anggota Dewan, seluruh warga Kelurahan Angin Nauli yang hadir memutuskan walk out massal meninggalkan ruang rapat. Aksi walk out warga ini kemudian disusul oleh Mandapot Pasaribu sebagai bentuk protes bersama.
Di luar ruangan, kekecewaan mendalam diluapkan oleh warga dan anggota legislatif. Salah seorang warga Angin Nauli, H. Sitorus, mengaku heran dengan etika birokrat tersebut yang dinilai tidak menunjukkan tata krama kepemimpinan yang baik.
Dia menyayangkan sikap Deni Lubis yang tidak hanya mencederai kemitraan dengan pers, tetapi juga dinilai melecehkan kehadiran lembaga legislatif yang hadir mendampingi masyarakat bawah pasca-bencana November 2025.
Reporter: Sir




Discussion about this post