Mahasiswa KKN 57 STAIN Madina merangkul dua kubu organisasi pemuda, HASIMA dan POTASI, untuk menyatukan masyarakat Desa Marenu yang sempat terbelah melalui program kerja kolaboratif.
Palas, StartNews – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kelompok 57 Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Mandailing Natal (STAIN Madina) mengambil langkah berbeda dengan menjadikan program kerja mereka sebagai jembatan rekonsiliasi untuk menyatukan dua kubu organisasi pemuda yang membelah masyarakat di Desa Marenu, Kecamatan Aek Nabara Barumun, Kabupaten Padanglawas (Palas), Minggu (5/7/2026).
Langkah ini diambil setelah mahasiswa mendapati fakta bahwa pemuda di Desa Marenu terpecah ke dalam dua organisasi terpisah berdasarkan ikatan marga, yaitu HASIMA (Harahap–Simatongtong) dan POTASI (Pohan–Tanjung–Siregar).
Alih-alih hanya merangkul salah satu pihak, KKN 57 STAIN Madina justru mengumpulkan kedua kubu Karang Taruna tersebut dalam satu forum diskusi formal untuk menyusun agenda pembangunan desa bersama.
Ketua KKN 57 STAIN Madina Joni Saputra mengatakan kehadiran mahasiswa di tengah masyarakat harus mampu menjadi katalisator persatuan, bukan sekadar menjalankan formalitas akademik.
“Kami melihat Karang Taruna di sini memiliki karakteristik unik, karena terbagi dua kelompok. Kami berharap kehadiran mahasiswa KKN dapat menjadi jembatan yang menyatukan seluruh pemuda dalam semangat kebersamaan melalui kolaborasi program,” ujar Joni.
Dalam pertemuan tersebut, mahasiswa memaparkan sejumlah program kerja yang dirancang untuk melibatkan kedua kubu pemuda secara aktif. Program itu meliputi kegiatan Maghrib Mengaji, pembuatan website resmi desa, penyusunan video profil potensi desa, pelatihan bilal mayit, pendampingan UMKM, hingga penyuluhan bersama mengenai bahaya narkoba dan judi online bagi generasi muda.
Pendekatan inklusif yang dibawa mahasiswa KKN ini mendapat respons positif dari kedua belah pihak yang selama ini berjalan masing-masing. Mereka sepakat ego kelompok harus dipinggirkan demi kemajuan dan ruang edukasi di Desa Marenu.
Ketua Organisasi POTASI Akmal Hadi Tanjung menyatakan kesiapannya untuk melebur dalam kerja sama ini demi kepentingan yang lebih besar.
“Kami siap mendukung seluruh program kerja yang telah disusun mahasiswa KKN. Semoga kerja sama ini dapat meningkatkan kembali semangat pemuda untuk ikut berkontribusi bersama dalam pembangunan desa,” ungkap Akmal.
Sinyal persatuan serupa juga ditegaskan Ketua HASIMA Ardi Ansyah Harahap. Dia mengapresiasi kepekaan mahasiswa KKN terhadap kondisi sosiologis di desa mereka.
“Kami mengapresiasi inisiatif mahasiswa KKN yang sejak awal merangkul komunikasi dengan kedua kelompok Karang Taruna. Ini menjadi awal yang sangat baik untuk membuktikan bahwa pemuda Desa Marenu bisa kompak demi kegiatan yang bermanfaat,” kata Ardi.
Melalui komitmen bersama itu, program KKN 57 STAIN Madina tidak hanya sekadar pengabdian masyarakat biasa. Kolaborasi ini bertransformasi menjadi momentum bagi pemuda HASIMA dan POTASI untuk bergotong-royong, memperkuat persatuan, serta mengikis sekat-sekat kelompok demi masa depan Desa Marenu yang lebih solid.
Reporter: Rls





Discussion about this post