• Media Kit
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
Rabu, Maret 4, 2026
  • Login
Start News
  • Home
  • Newsline
  • Madina
  • Sumut
  • Nasional
  • Kabar Desa
  • Figur
  • Hiburan
  • Start TV
  • Start FM
No Result
View All Result
  • Home
  • Newsline
  • Madina
  • Sumut
  • Nasional
  • Kabar Desa
  • Figur
  • Hiburan
  • Start TV
  • Start FM
No Result
View All Result
No Result
View All Result

Dua Advokat Ini Minta Suara Kosong Diakui Suara Sah dalam Pilkada

by Redaksi
Jumat, 18 Oktober 2024
0 0
0
Dua Advokat Ini Minta Suara Kosong Diakui Suara Sah dalam Pilkada

Advokat Herdi Munte asal Sumut dan Missiniaki Tommi asal Sumbar mengajukan permohonan uji materi terhadap beberapa pasal dalam UU Pilkada ke Mahkamah Konstitusi, Kamis (17/10/2024). (FOTO: ANTARA/HO-ISTIMEWA)

ADVERTISEMENT

Medan, StartNews – Dua advokat Sumatera Utara (Sumut) dan Sumatera Barat (Sumbar) meminta suara kosong atau blank vote diakui sebagai suara sah dalam Pilkada di Indonesia. Permintaan itu diajukan melalui permohonan uji materi terhadap Undang-Undang (UU) Pilkada ke Mahkamah Konstitusi (MK), Kamis (17/10/2024).

Permohonan uji materi UU Pilkada itu diajukan oleh advokat Herdi Munte asal Sumut dan Missiniaki Tommi asal Sumbar serta pendamping Jekson Joab Situmeang.

Benar. Kami mengajukan permohonan beberapa pasal dalam UU Pilkada tersebut bertujuan agar suara kosong atau blank vote diakui sebagai suara sah dalam Pilkada di Indonesia, kata Herdi Munte dalam keterangan yang diterima di Medan, dilansir antaranews.com, Kamis (17/10/2024) malam.

Pihaknya mengaku mengajukan permohonan tersebut, karena ketentuan yang ada saat ini tidak mengakomodasi hak pemilih untuk menyatakan ketidaksetujuan mereka terhadap pasangan calon yang ada.

Suara kosong dianggap tidak sah, padahal itu merupakan bentuk kebebasan berekspresi yang seharusnya diakui dalam proses demokrasi, ujarnya.

Dia mengatakan pengajuan tersebut mencakup uji materi terhadap beberapa ketentuan, yaitu Pasal 79 ayat (1) dan Pasal 85 ayat (1) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2015 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2014 mengenai Pemilihan Gubernur, Bupati, dan Walikota.

Kemudian, Pasal 94 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2015 tentang Perubahan atas UU Nomor 1 Tahun 2015, serta Pasal 107 ayat (1) dan Pasal 109 ayat (1) Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2016 tentang Perubahan Kedua atas Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2015.

Herdi menilai pasal-pasal tersebut bertentangan dengan hak konstitusional warga negara yang dijamin oleh Undang-Undang Dasar (UUD) RI 1945.

Pihaknya selaku pemohon menilai pengakuan terhadap suara kosong sebagai suara sah penting untuk memberikan pilihan alternatif bagi pemilih yang tidak setuju dengan calon yang ada.

Oleh karena itu, pihaknya mengusulkan agar di dalam surat suara di daerah yang memiliki lebih dari satu pasangan calon, disediakan kolom kosong yang dapat dicoblos oleh pemilih.

Dengan begitu, kata dia, pemilih dapat mengekspresikan ketidakpuasan mereka tanpa harus golput atau mencoblos secara tidak sah.

Para pemohon juga menyebutkan bahwa pengaturan mengenai pengakuan suara kosong sebagai suara sah telah diterapkan di beberapa negara, seperti Kolombia dan Ukraina.

Di Kolombia, misalnya, suara kosong atau voto en blancoyang meraih suara terbanyak dalam pemilihan dapat memaksa diadakannya pemilihan ulang dengan calon yang berbeda.

Mereka berharap agar mekanisme serupa dapat diterapkan di Indonesia, terutama dalam menghadapi Pemilihan Kepala Daerah Serentak 2024.

Permohonan ini didasarkan pada pelanggaran terhadap sejumlah prinsip konstitusi, termasuk Pasal 1 ayat (2) tentang kedaulatan rakyat, Pasal 18 ayat (4) mengenai pemilihan kepala daerah yang harus dilakukan secara demokratis, serta Pasal 28D ayat (1) yang menjamin hak atas perlakuan yang sama di hadapan hukum.

Menurut para pemohon, tidak adanya pengakuan terhadap suara kosong mengakibatkan ketidaksetaraan dalam hukum dan merampas hak pemilih untuk menyuarakan ketidakpuasan mereka terhadap calon yang dianggap tidak mewakili kehendak rakyat.

Selain itu, para pemohon juga menyoroti tingginya angka golput dalam beberapa pemilihan kepala daerah sebagai indikasi kurangnya pilihan yang mewakili aspirasi rakyat.

Kami menilai bahwa ketidakpuasan ini perlu diakomodasi melalui pengakuan suara kosong sebagai pilihan sah, sehingga pemilih tetap dapat berpartisipasi secara aktif dalam pemilu, meskipun tidak setuju dengan kandidat yang ada, jelasnya.

Reporter: Sir/Ant

Tags: AdvokatpilkadaSuara KosongSuara Sah
ShareTweet
Next Post
Keterbukaan Informasi Sumut Terbaik Kelima Nasional

Keterbukaan Informasi Sumut Terbaik Kelima Nasional

Discussion about this post

Recommended

Razman Arif Bicara Soal Tambang Emas Ilegal di Madina

Razman Arif Bicara Soal Tambang Emas Ilegal di Madina

4 tahun ago
Jamaah Haji dari Madina Tunaikan Umroh Wajib di Makkah

Jamaah Haji dari Madina Tunaikan Umroh Wajib di Makkah

4 tahun ago

Popular News

  • Menaklukkan Aspal Sumatera, Ini Jalur Mudik Terbaik dari Jakarta ke Bukittinggi

    Menaklukkan Aspal Sumatera, Ini Jalur Mudik Terbaik dari Jakarta ke Bukittinggi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketua Yayasan SPS Soroti Ketidakjelasan Regulasi Program MBG di Madina

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Begini Penjelasan Wakapolda Sumut Terkait Penertiban PETI di Perbatasan Tapsel-Madina

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Polda Sumut Sita Dua Ekskavator Tambang Emas Ilegal di Siabu

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sikat Tambang Emas Ilegal di Perbatasan Madina-Tapsel, Polda Sumut Amankan 12 Ekskavator

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Contact
  • Home
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi

© 2025

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

error: Copyright Start News Group
No Result
View All Result
  • Home
  • Madina
  • Sumut
  • Newsline
  • Nasional
  • Newsline
  • Kabar Desa
  • Opini
  • Figur
  • Komunitas

© 2025