Wakil Kepala Badan Gizi Nasional Sony Sonjaya menuai kecaman setelah membalas kritik mahasiswa UGM dengan emotikon monyet. Simak kronologi dan pernyataan kontroversialnya di sini.
Jakarta, StartNews – Gelombang protes publik kini tengah mengarah tajam kepada Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Bidang Operasional Pemenuhan Gizi Irjen Pol. Sony Sonjaya. Jenderal bintang dua ini memicu kontroversi di media sosial setelah melontarkan komentar yang dianggap menghina martabat mahasiswa saat menanggapi kritik terkait program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Ketegangan ini bermula ketika akun Instagram @jogjastudent mengunggah video orasi Ketua BEM UGM, Tiyo Ardianto, pada 14 Februari 2026. Dalam pernyataannya, Tiyo menyoroti ketidaksinkronan target 82 juta penerima manfaat dengan data kemiskinan BPS, bahkan secara berani menjuluki program tersebut sebagai proyek rawan nepotisme atau “maling berkedok gizi”.
Alih-alih memberikan penjelasan teknis yang edukatif, Sony Sonjaya melalui akun pribadinya justru memberikan respons reaktif yang menyerang personal sang orator. Meski sempat memaparkan data serapan tenaga kerja dan hasil tani, Sony menutup komentarnya dengan kalimat yang merendahkan serta penggunaan simbol yang dinilai sangat tidak pantas bagi seorang pejabat negara.
“BODO ??? Telah memberi makan kepada 60 juta Balita, Ibu Hamil, Ibu Menyusui dan peserta didik… lah… yg orasi telah menghasilkan apa??… jadine,” tulis Sony Sonjaya dalam kolom komentar sembari menyematkan tiga emotikon monyet.
Pernyataan tersebut sontak memancing amarah warganet yang menilai pihak BGN bersikap antikritik dan arogan. Penggunaan emotikon monyet dianggap sebagai bentuk pelecehan terhadap aspirasi mahasiswa.
Masyarakat menilai sebagai pelayan publik, seorang jenderal seharusnya mampu mengelola emosi dan menjawab kritik dengan basis data, bukan dengan ejekan yang merendahkan derajat manusia.
Sentimen negatif terus mengalir deras di kolom komentar, di mana masyarakat mengingatkan Sony mengenai posisi dan sumber pendapatannya. Salah satu warganet dengan tegas menuliskan bahwa gaji yang diterima oleh pejabat berasal dari pajak rakyat, termasuk dari keluarga mahasiswa yang ia ejek.
“Gaji lu noh dibayarin ama orang yang lo katain pake emot monyet!!!!” tulis salah satu akun yang geram melihat respons sang jenderal.
Kecaman tidak berhenti di situ, beberapa netizen juga mengingatkan bahwa arogansi kekuasaan seringkali menjadi awal dari kejatuhan seorang pejabat. Publik berharap agar pemerintah pusat memberikan teguran keras atas perilaku ini agar tidak menjadi preseden buruk dalam demokrasi.
“Bentuk Arogansi, merasa tidak tersentuh… semua ada masanya.. belajar dari negara Nepal,” tulis komentar lain yang memperingatkan agar pejabat tidak jemawa dalam mengelola program negara.
Sampai berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi lebih lanjut dari pihak Badan Gizi Nasional terkait tindakan kontroversial yang dilakukan oleh Wakil Kepala BGN tersebut di ranah digital.
Reporter: Sir





Discussion about this post