• Media Kit
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
Sabtu, Maret 21, 2026
  • Login
Start News
  • Home
  • Newsline
  • Madina
  • Sumut
  • Nasional
  • Kabar Desa
  • Figur
  • Hiburan
  • Start TV
  • Start FM
No Result
View All Result
  • Home
  • Newsline
  • Madina
  • Sumut
  • Nasional
  • Kabar Desa
  • Figur
  • Hiburan
  • Start TV
  • Start FM
No Result
View All Result
No Result
View All Result

Turbulensi Politik ala Gordang Sambilan

by Redaksi
Selasa, 25 November 2025
0 0
0
Turbulensi Politik ala Gordang Sambilan

Tim Gordang Sambilan menggelar konferensi pers menyikapi kepeminpinan Bupati Madina H. Saipullah Nasution, Senin (24/11/2025). (FOTO: mandailingonline.com/napi)

ADVERTISEMENT

STABILITAS politik di Kabupaten Mandailing Natal (Madina) kembali diuji. Belum genap satu tahun pemerintahan Saipullah Nasution – Atika Azmi Utammi Nasution (SAHATA) pasca-terpilih pada Pilkada 2024, publik dikejutkan oleh manuver terbuka dari salah satu organ relawan pemenangan yang menamakan diri “Tim Gordang Sambilan”.

Dalam konferensi pers yang digelar pada Senin (24/11/2025), tim yang dikomandani Miswaruddin Daulay sebelumnya menjadi salah satu motor penggerak suara di akar rumput ini secara blak-blakan menagih “utang” logistik dan operasional yang diklaim belum diselesaikan oleh pihak yang mereka dukung pada kontestasi politik tahun lalu.

Peristiwa ini bukan sekadar masalah finansial antara kandidat dan relawan. Ini sinyal turbulensi politik yang dapat mengganggu jalannya pemerintahan daerah jika tidak segera dikelola.

Konferensi pers Tim Gordang Sambilan membuka kotak pandora mengenai sisi gelap biaya demokrasi lokal. Dalam lanskap politik Indonesia, relasi antara kandidat dan tim pemenangan seringkali dibangun di atas fondasi transaksional—mulai dari janji jabatan hingga komitmen penggantian biaya operasional lapangan.

Ketika “janji manis” masa kampanye bertemu dengan realitas birokrasi dan keterbatasan anggaran pasca-pelantikan, gesekan internal tak terelakkan. Apa yang dilakukan oleh Tim Gordang Sambilan merupakan manifestasi kekecewaan yang memuncak. Mereka tidak lagi bisik-bisik di ruang tertutup, melainkan menabuh genderang di ruang publik.

Pilihan nama ‘Gordang Sambilan’— ikon budaya Mandailing yang melambangkan kekompakan dan kekuatan— kini menjadi ironi. Genderang yang dulu ditabuh untuk mengumpulkan suara, kini ditabuh untuk menagih janji.

Aksi tagih utang secara terbuka ini membawa risiko politik yang serius bagi kepemimpinan daerah saat ini. Paling tidak, misalnya, ketika tim internal “bernyanyi” soal utang, persepsi publik terhadap integritas pemimpin daerah akan tergerus.

Muncul pertanyaan logis, jika komitmen terhadap orang-orang yang berjuang memenangkannya saja diabaikan, bagaimana dengan komitmen terhadap janji kampanye kepada rakyat luas?

Dampak lainnya, energi pemerintah daerah yang seharusnya fokus pada pengentasan kemiskinan, perbaikan infrastruktur di pantai barat Madina atau pengembangan ekonomi kreatif Madina, kini terancam tersedot untuk melakukan damage control politik. Konsolidasi internal yang rapuh akan membuat roda birokrasi berjalan lambat.

Tuntutan Tim Gordang Sambilan menempatkan bupati di persimpangan jalan. Mengabaikan tuntutan ini berisiko memicu gelombang protes lanjutan yang lebih besar, mengingat struktur tim pemenangan biasanya memiliki jejaring hingga ke desa-desa. Namun, memenuhinya dengan cara yang tidak patut juga berisiko hukum.

Solusi terbaik, yang mungkin dapat dilakukan, adalah penyelesaian secara transparan dan kekeluargaan. Nilai-nilai yang sebenarnya dijunjung tinggi dalam adat Dalihan Na Tolu. Jika utang tersebut bersifat perdata, katakanlah biaya operasional yang tercatat, maka harus diselesaikan melalui mekanisme privat, bukan membebankannya pada keuangan daerah.

Yang perlu diingat, konferensi pers Tim Gordang Sambilan harus menjadi wake-up call atau pengingat bagi seluruh aktor politik di Madina. Pilkada 2024 mungkin sudah berlalu di kalender, tetapi ekor permasalahannya masih tertinggal.

Masyarakat Madina kini menunggu, apakah pemimpin mereka akan sibuk memadamkan api konflik internal ini demi kepentingan kelompok? Ataukah mampu membuktikan kenegarawanan dengan menyelesaikan masalah tanpa mengorbankan kepentingan rakyat banyak?

Ingatlah…! Politik itu bukan hanya soal cara meraih kekuasaan, tetapi bagaimana mengelolanya dengan bermartabat setelah kursi didapatkan. (Saparuddin Siregar)

Tags: Gordang SambilanPolitikTurbulensi
ShareTweet
Next Post
Warga Siulangaling Khawatir Banjir Lebih Dahsyat Akibat PETI di Hulu Sungai

Warga Siulangaling Khawatir Banjir Lebih Dahsyat Akibat PETI di Hulu Sungai

Discussion about this post

Recommended

Petani di Pantai Barat Terima Bantuan Benih Kedelai dari Kementan

Petani di Pantai Barat Terima Bantuan Benih Kedelai dari Kementan

3 tahun ago
Gubernur Sumut: Catat Nomor HP Saya Jika Anda Kesulitan di Kairo

Gubernur Sumut: Catat Nomor HP Saya Jika Anda Kesulitan di Kairo

4 tahun ago

Popular News

  • Sahnan Pasaribu Didepak, Bupati Madina Lantik Afrizal Jadi Sekda

    Sahnan Pasaribu Didepak, Bupati Madina Lantik Afrizal Jadi Sekda

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pemkab Madina Somasi Media Online Terkait Tudingan Pungli Kadinkes

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Jamaah Tarekat Naqsabandiyah Padang Salat Idul Fitri Hari Ini

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ini Nama-nama Pemenang Lomba Berkah Ramadhan Padangsidimpuan 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Batal Kuliah Kedokteran di China, Santri Ini Malah Dapat Beasiswa di Amerika

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Contact
  • Home
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi

© 2025

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

error: Copyright Start News Group
No Result
View All Result
  • Home
  • Madina
  • Sumut
  • Newsline
  • Nasional
  • Newsline
  • Kabar Desa
  • Opini
  • Figur
  • Komunitas

© 2025