Ramadan di Mandailing Natal (Madina) tak lengkap tanpa pusuk otang. Simak kisah pedagang dan warga yang menjaga tradisi kuliner pucuk rotan bakar ini sebagai menu wajib berbuka puasa.
Panyabungan, StartNews – Saat azan Maghrib mulai mendekati waktu, aroma khas kayu bakar yang menyengat di sepanjang jalanan di Panyabungan kota, seolah menjadi penanda waktu berbuka telah tiba. Di antara hiruk-pikuk pedagang takjil moderen, sebuah pemandangan kontras dan autentik selalu muncul setiap tahunnya, yakni tumpukan pusuk otang (pucuk rotan) yang dibakar di atas bara api. Warga setempat menyebutnya pusuk otang.
Meski terlihat ekstrem bagi sebagian orang karena bahan bakunya adalah pucuk rotan muda, bagi masyarakat Madina, pusuk otang bukan sekadar makanan, tetapi juga identitas budaya dan menu wajib yang telah melintasi generasi.
Pucuk rotan yang dibakar hingga kulit luarnya menghitam ini, setelah dikupas akan menyuguhkan bagian dalam yang berwarna putih kekuningan dengan tekstur unik serta citarasa pahit-gurih yang khas.
Fitri, seorang pedagang musiman yang menjajakan pusuk otang di pinggir jalan, mengatakan fenomena perburuan pusuk otang selalu meningkat setiap Ramadan tiba. Menurut dia, ada kepuasan tersendiri melihat antusiasme warga yang rela mengantre demi mendapatkan pucuk rotan segar.
Bahkan, dia merasakan peningkatan omzet yang signifikan pada Ramadan tahun ini dibandingkan tahun sebelumnya.

“Kalau bulan puasa ini memang banyak yang mencari pusuk otang. Pelanggan saya bilang, kalau belum makan pusuk otang sebagai lauk berbuka, rasanya ada yang kurang. Jadi, memang ini sudah jadi menu wajib untuk teman makan nasi dan sambal,” ujar Fitri saat ditemui di sela kesibukannya membakar pusuk otang, Kamis (12/3/2026).
Untuk memenuhi permintaan yang tinggi, Fitri mengaku harus mendatangkan pasokan pucuk rotan muda langsung dari daerah Singkuang dan Panti. Dia menawarkan harga yang relative murah agar tetap bisa dijangkau oleh semua kalangan, yakni mulai dari Rp10.000 untuk satu batang hingga paket ekonomis dua batang seharga Rp15.000 dan Rp25.000 untuk ukuran yang lebih besar.
Keberadaan pusuk otang di meja makan warga Madina saat Ramadan bukan hanya soal pemenuhan kebutuhan nutrisi, melainkan tentang menjaga tradisi. Di tengah gempuran kuliner kekinian, pusuk otang tetap kokoh menjadi primadona.
Bagi pedagang seperti Fitri, momentum bulan suci ini bukan sekadar waktu untuk meraup tambahan penghasilan, tetapi juga menjadi bagian dari upaya menjaga warisan kuliner lokal agar tetap dicintai oleh masyarakat Mandailing hingga generasi mendatang.
Reporter: Fadli Mustafid




Discussion about this post