Pemprov Sumut bersama pemerintah pusat meluncurkan Gerakan Pesantren Bebas TB di Deliserdang untuk menekan angka tuberkulosis dan mencetak santri sehat.
Deliserdang, StartNews – Pemerintah Provinsi Sumatera Utara (Pemprov
Sumut) memperkuat penanggulangan tuberkulosis (Tb) dengan memfokuskan edukasi kesehatan di lingkungan pendidikan agama.
Melalui sinergi bersama pemerintah pusat, gerakan ini menempatkan jutaan santri sebagai garda terdepan pencegahan penyakit menular sekaligus agen perubahan perilaku hidup bersih dan sehat di tengah masyarakat.
Wakil Gubernur Sumut Surya mengatakan keterlibatan pondok pesantren strategis dalam memutus mata rantai penularan tuberkulosis. Menurut dia, lingkungan pesantren harus didorong menjadi teladan dalam penerapan standar kebersihan serta penghapusan stigma negatif terhadap para penderita penyakit tersebut di tengah masyarakat.
“Tuberkulosis masih menjadi tantangan besar kesehatan masyarakat. Sumatera Utara termasuk provinsi dengan beban TB terbesar keempat di Indonesia. Terdapat estimasi 74.304 kasus yang harus ditemukan pada tahun 2026 dengan target penemuan 90%. Hingga 30 Oktober 2026, kasus yang berhasil ditemukan sebanyak 43.976 kasus atau 59,2%,” ujar Surya saat peluncuran program yang dipusatkan di Pondok Pesantren Mawaridussalam, Kecamatan Batangkuis, Kabupaten Deliserdang.
Peluncuran program nasional tersebut juga dihadiri oleh tiga wakil menteri Kabinet Merah Putih, yakni Wakil Menteri Agama Romo Muhammad Syafii, Wakil Menteri Kesehatan Benjamin Paulus Octavianus, serta Wakil Menteri Dalam Negeri Akhmad Wiyagus.
Wakil Menteri Agama Romo Muhammad Syafii mengungkapkan, kolaborasi lintas kementerian ini merupakan wujud menjaga kemaslahatan umat, khususnya dalam aspek perlindungan kesehatan jiwa dan raga.
Program yang disaksikan secara daring oleh seluruh Kantor Wilayah Kementerian Agama dan pondok pesantren se-Indonesia ini diharapkan mampu menjangkau jutaan santri secara masif.
“Meskipun dilaksanakan di Deliserdang, ini adalah wajah Indonesia. Pesantren dengan 11 juta santri dan 1,7 juta kiai merupakan pilar penting bangsa,” kata Romo Syafii.
Sementara Wakil Menteri Kesehatan Benjamin Paulus Octavianus memaparkan, posisi Indonesia yang berada di urutan kedua dunia dengan kasus tuberkulosis terbanyak setelah India memerlukan intervensi luar biasa.
Instruksi khusus dari Presiden Prabowo Subianto diterjemahkan melalui penguatan deteksi dini serta perluasan cakupan pemeriksaan kesehatan gratis bagi warga pesantren.
“Hingga saat ini, lebih dari 114 juta warga Indonesia telah memanfaatkan layanan Cek Kesehatan Gratis. Melalui pencanangan Pesantren Bebas TB ini, pemerintah ingin memastikan warga pesantren terbebas dari penularan serta mendorong para santri menjadi Duta Kesehatan,” terangnya.
Pimpinan Pondok Pesantren Mawaridussalam, Busron Sudarmanto, menyambut baik penunjukan lembaganya sebagai titik awal dimulainya gerakan nasional tersebut. Dia menilai perhatian dari pemerintah pusat dan daerah ini memberikan energi positif bagi para santri dan pengajar untuk terus menjaga produktivitas belajar dalam kondisi fisik yang prima.
“Ini merupakan berkah luar biasa bagi kami. Santri dan pengajar membutuhkan kondisi fisik yang prima untuk menjalankan tugas belajar dan mengajar. Kami sangat berterima kasih atas perhatian nyata dari Pemerintah Pusat dan Pemprov Sumut,” tutur Busron.
Reporter: Sir





Discussion about this post