Panyabungan, StartNews Sebanyak 28 warga Desa Sibanggor Julu, Kecamatan Puncak Sorik Merapi, Kabupaten Mandailing Natal (Madina), masih dirawat di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Panyabungan setelah mengalami keracunan akibat paparan gas Hidrogen Sulfida (H2S) dari aktivitas pengeboran sumur baru milik PT Sorik Merapi Geothermal Power (SMGP) di well pad AAE Desa Sibanggor Julu.
Bupati Madina HM Jafar Sukhairi Nasution mengungkapkan, pasca terpapar gas H2S pada Minggu (6/3/2022), saat ini kondisi warga yang menjalani perawatan di rumah sakit sudah berangsur pulih. Mereka rata-rata sebelumnya mengeluhkan gejala seperti mual, muntah, hingga sempat pingsan.
Sampai pagi ini kondisi warga kita sudah semakin membaik. Kemarin sempat muntah-muntah. Ada yang pingsan, namun tim medis kita alhamdulillah cepat menangi, sehingga kondisinya sampai pagi ini sudah pulih. Namun, kita tetap mengimbau warga tetap waspada, ucap Sukhairi seperti diberitakan RRI, Senin (7/3/2022).
Bahkan, kata Sukhairi, 19 warga yang sebelumnya dirawat di Rumah Sakit Permata Madina juga sudah pulang ke rumah masing-masing. Namun, 28 warga masih menjalani perawatan intensif di RSUD Panyabungan.
Kemarin di RSU Panyabungan. Namun, ada juga di RS Permata Madina 19 orang dan hari itu juga diperbolehkan pulang, karena gejala ringan. Namun, yang di RSU Panyabungan itu dalam posisi perawatan khusus, namun kondisiinya berangsur membaik dan sekarang tinggal 28 orang. Mereka rata-rata punya gejala mual dan muntah dan beberapa orang sempat pingsan, katanya.
Menurut dia, saat ini Pemerintah Kabupaten Madina juga berupaya agar pihak perusahaan dapat melakukan relokasi warga guna tidak terulang kembali kejadian yang sama.
Ini kan H2S beracun. Kemudian kegiatan ini kan dekat dengan pemukiman warga. Tentu pemerintah mempertimbangkan jika memang memungkinkan tentu bagaimana perusahaan melakukan relokasi atau minimal sosialisasi sesuai SOP agar ini jangan terulang kembali. Karena ini kan kedua kalinya, ujar Sukhairi.
Selain itu, pihaknya bersama Forkopimda akan mengadakan rapat terkait penanganan dan kelanjutan operasional dari perusahaan pengeboran gas tersebut. Sembari menunggu hasil penyelidikan pihak kepolisian untuk menelusuri ada tidaknya unsur kelalaian pihak perusahaan.
Besok, insha Allah kita adakan rapat dengan Forkopimda bagaimana dengan penanganan atau kelanjutan daripada kegiatan perusahaan tersebut. Tentu pihak aparat penegak hukum kepolisian melakukan penyelidikan. Apakah ini faktor kelalaian atau faktor alam, katanya.
Sementara untuk kondisi di lokasi, kata Sukhairi, sejauh ini sudah berangsur kondusif dan terkendali. Meski kegiatan pengeboran di lokasi saat ini berhenti sembari menuggu situasi berangsur normal seperti sebelumnya.
Kondisi sekarang sudah mulai normal, namun seputaran kegiatan karyawan perusahaan sedikit menghindarlah. Namun, kondisi di lapangan yang kita monitor sudah terkendali. Tentu kita akan pertimbangkan besok keputusan apakah kita undang Forkopimda dan minta pandangan mereka apakah akan ditutup atau bagaimana untuk memberikan rekomendasi yang terbaik, katanya.
Sebelumnya, dari informasi yang diperoleh ada 58 warga yang menjadi korban keracunan gas pada Minggu (6/3/2022) petang. Dari jumlah tersebut 13 orang merupakan anak-anak.
Seperti diketahui peristiwa tersebut bukan pertama kali terjadi. Sebelumnya pada Januari 2021, sejumlah warga Desa Sibanggor Julu mengalami keracunan gas H2S dari aktivitas PT SMGP di wellpad AAE yang beroperasi di Banjar Manggis, Desa Sibanggor Julu. Akibat peristiwa tersebut dilaporkan 5 orang meninggal dunia.
Sumber: RRI





Discussion about this post