WEH…! Klen nengoklah berita yang lagi viral dari Tapanuli Selatan (Tapsel) itu. Sedih kali pun awak nengoknya, nyesek dada ini rasanya. Ada seorang ibu, Kak Tuti Daulay namanya, warga Dusun Aek Nabara, terpaksa harus ditandu warga pake bambu sederhana sejauh 30 kilometer cuma buat nyari bidan atau rumah sakit.
Bayangkanlah klen, 6 sampai 7 jam orang-orang itu jalan kaki nembus hutan, naik turun bukit, sambil nahan guncangan demi nyelamatkan nyawa ibu dan bayinya. Tapi ujung-ujungnya apa? Karena kelamaan di jalan dan medannya ngeri kali, bayi dalam kandungannya nggak tertolong lagi. Meninggal dia, weh. Sedih kali, kan?
Inikan udah tahun 2026, bukan zaman penjajahan lagi yang apa-apa harus dipikul. Masak di zaman yang katanya udah maju ini, warga kita di Aek Nabara masih harus bertaruh nyawa cuma gara-gara jalan nggak ada. Itu bukan jalan namanya kalau cuma setapak becek yang kereta pun tak bisa lewat.
Warga di sana bukan minta jalan tol yang mulus kek di Jawa sana. Mereka cuma butuh akses yang layak biar kalau ada yang darurat medis, nggak perlu main nyawa di atas tandu bambu. Masa tiap ada yang sakit atau mau melahirkan, pilihannya cuma satu: pasrah ditandu berjam-jam.
Kemarin memang Pak Bupati Tapsel, Gus Irawan Pasaribu, udah datang nengok Kak Tuti. Katanya beliau prihatin kali sama tragedi kemanusiaan ini. Baguslah kalau Bapak mau turun langsung, tapi yang bikin awak agak heran, alasannya kok klasik kali. Dibilang katanya mau bangun jalan, tapi terbentur izin hutan lindung. Bah, cemana pulak itu? Masa gara-gara urusan surat-menyurat sama orang kehutanan, nyawa warga jadi korbannya?
Kalau memang itu kawasan hutan lindung, ya cari solusinya bareng-barenglah sama pusat. Jangan dibiarkan warga terisolasi puluhan tahun sampe ada kejadian pilu cem gini baru sibuk mau nengok fakta di lapangan.
Pak Bupati juga bilang baru tau kalau medan di sana seberat itu, karena jujur dibilangnya belum pernah ke sana. Nah, di sinilah masalahnya. Harusnya pemimpin itu udah tau mana titik-titik paling kritis di daerahnya sebelum jatuh korban. Jangan nunggu viral di Facebook dulu baru mau buat rencana bangun Pos Kesehatan Desa. Kita hargailah niat Bapak mau bangun Poskesdes tambahan sama urus konektivitas jalan itu, tapi tolonglah, jangan cuma janji manis pas lagi viral aja.
Kejadian di Desa Aek Nabara ini jadi tamparan keras buat pemerintah daerah. Ketimpangan itu nyata kali di depan mata kita. Di satu sisi ada daerah yang pembangunannya kencang, tapi di sisi lain ada saudara kita yang harus kehilangan anak karena negara nggak hadir dalam bentuk aspal atau klinik yang dekat.
Kita nggak mau lagi dengar ada cerita ibu hamil yang harus nahan sakit berjam-jam di atas tandu bamboo. Sementara suaminya cuma bisa berdoa supaya istrinya selamat. Tolonglah Pak, gerak cepatlah. Jangan biarkan rakyat Tapsel merasa dianaktirikan di tanah sendiri cuma gara-gara tinggal di balik hutan. Kemandirian dan kesehatan itu hak semua warga, bukan cuma buat yang tinggal di pinggir jalan lintas aja.
Cemana menurut klen? Masih sanggup kita nengok berita tandu-tandu gini lagi tahun depan? Jangan sampe lah, ya. (*)





Discussion about this post