Panyabungan, StartNews Mandailing pernah menjadi negeri yang menghasilkan banyak penulis pada masa lalu. Namun, realitas sekarang sudah jauh berbeda. Itulah yang melatar-belakangi berdirinya Forum Penulis Mandailing Natal (FPM) sebagai komunitas tempat berkumpulnya para penulis muda di Mandailing Natal (Madina).
FPM juga menjadi wadah bagi kalangan milenial yang memilki potensi menulis, tetapi kesulitan mendapat pelatihan.
Kita juga ingin ada kelompok yang secara rutin mementaskan seni di Madina, kata Askolani Nasution, penggagas sekaligus pendiri FPM, saat dibincangi startnews melalui aplikasi pesan WhatsApp, Senin (2/8/2021).

Kehadiran FPM mendapat respon positif dari masyarakat. Ini terlihat dari banyaknya anggota yang bergabung dari kalangan mahasiswa, guru, dosen, dan berbagai profesi lainnya. Walaupun anggotanya hanya 23 orang, tetapi semua memilki potensi, tutur Askolani.
FPM terbentuk pada 12 Juli 2020 di Desa Simaninggir, Kecamatan Siabu, Madina. Komunitas ini digagas dan didirikan oleh Askolani Nasution bersama Ali Fikri Pulungan. Biasanya, anggota komunitas ini kerap berkumpul dan berdiskusi di sekretariatnya di Desa Simaninggir, Kecamatan Siabu, Madina.

Uniknya, FPM tidak punya struktur kepengurusan yang formal. Itu sebabnya, tidak ada jabatan ketua, wakil ketua, bendahara, dan sekretaris seperti lazimnya sebuah organisasi.
Semua program kerja dan kegiatan dimusyawarahkan bersama. Tidak dibentuknya kepengurusan agar komunitas ini tidak ada dominasi tertentu. Semua anggota setara. Hanya dalam hal surat-menyurat tertentu, saya yang menanda-tangani, tutur Askolani Nasution.
Pegiat seni dan budaya Mandailing ini mengungkapkan, FPM sudah sering menggelar berbagai kegiatan. Terutama pelatihan menulis, karena kegiatan inilah yang menjadi tujuan dasar pendirian komunitas ini.

Setiap anggota bergantian memberikan pengalamannya dalam menulis buku, artikel, puisi, kolom, drama, skenario film, dan lain-lain, kata Askolani.
Selain kegiatan pelatihan menulis yang rutin dihelat, FPM juga memiliki perpustakaan yang sekaligus menjadi sekretariat komunitas. Kegiatan lainnya adalah pementasan seni.
Pada Oktober 2020, misalnya, FPM mengadakan pagelaran seni dalam rangka bulan bahasa. Pada Desember 2020, FPM kembali menghelat pementasan seni dalam rangka Tribute to Jenderal Nasution.
Di bidang sinematografi, FPM juga memproduksi film pendek bertajuk Suci Penjaga Sungai Batang Gadis. Dalam penggarapan film pendek ini, FPM menjalin kerja sama dengan otoritas Taman Nasional Batang Gadis (TNBG). Bahkan, saat ini FPM sedang menggarap skuel Si Naknun, yang diangkat dari buku karya Askolani Nasution.
Kami juga sedang menyiapkan pementasan drama Si Naknun. Kami bekerja sama dengan Balai Pelestarian Nilai Budaya Aceh, tutur Askolani.
Bagaimana minat masyarakat Madina terhadap dunia sastra saat ini? Harus diakui sangat rendah secara umum. Tapi, di sisi lain ada yang tetap kreatif menulis buku. Itu yang terus kami tumbuhkan, pungkas Askonali.
Reporter: Saparuddin Siregar





Discussion about this post