Kepala BNN Suyudi Ario Seto mengusulkan pelarangan vape dalam RUU Narkotika setelah uji laboratorium menemukan kandungan sabu, ganja sintetis, hingga obat bius dalam likuid.
Jakarta, StartNews – Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Komjen Suyudi Ario Seto mengusulkan pelarangan rokok elektronik atau vape beserta cairannya diatur secara tegas di dalam Rancangan Undang-Undang (RUU) tentang Narkotika dan Psikotropika.
Suyudi menyampaikan usulan itu sebagai respons atas fenomena peredaran zat narkotika dalam bentuk cairan vape yang kian masif dan mengkhawatirkan di tengah masyarakat Indonesia.
Dalam rapat kerja bersama Komisi III DPR RI di Kompleks Parlemen, Jakarta pada Selasa (7/4/2026), Suyudi mengatakan Indonesia perlu mengikuti jejak negara-negara tetangga seperti Vietnam, Thailand, Singapura, Brunei Darussalam, dan Laos yang telah melarang peredaran alat tersebut.
Urgensi pelarangan itu diperkuat oleh temuan laboratorium yang menunjukkan alat tersebut kerap disalahgunakan sebagai media konsumsi narkoba jenis baru.
“Berdasarkan hasil uji laboratorium pusat BNN terhadap 341 sampel cairan vape, kita menemukan fakta yang sangat mengejutkan,” ujar Suyudi di hadapan anggota DPR.
Dari ratusan sampel yang diuji tersebut, BNN menemukan 11 sampel positif mengandung kanabinoid atau ganja sintetis, satu sampel mengandung methamphetamine atau sabu, dan 23 sampel lainnya terbukti mengandung etomidate yang merupakan obat bius.
Suyudi mengatakan tanpa pelarangan alatnya secara langsung, peredaran narkotika jenis cair ini akan sulit dibendung karena pesatnya perkembangan zat psikoaktif baru (NPS) yang kini mencapai 175 jenis di Indonesia.
Meskipun zat etomidate telah masuk dalam daftar narkotika golongan dua berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 15 Tahun 2025, Suyudi menyayangkan penindakannya saat ini masih terbatas pada Undang-Undang Kesehatan dengan ancaman pidana yang relatif ringan.
Dia meyakini dengan melarang vape sebagai instrumen konsumsi, mata rantai peredaran kimia berbahaya tersebut dapat diputus secara signifikan.
“Selayaknya sabu yang selalu memerlukan bong sebagai media untuk mengonsumsinya,” tegas Suyudi.
Reporter: Sir





Discussion about this post