LEBARAN dan kemacetan adalah dua entitas kegiatan yang berbeda. Namun, saat Idul Fitri tiba, kedua frasa ini sepertinya menyatu dalam satu tindakan. Menjadi perpaduan yang tidak bisa dipisahkan sama sekali. Dapat dipastikan tidak ada satu kota tujuan mudik yang tidak mengalami kemacetan. Faktanya kota yang ditinggalkan para pemudik menuju kampung halaman masing-masing juga mengalami kemacetan. Jakarta yang ditinggal pemudik sendiri mengalami kemacetan yang luar biasa di beberapa titik tol ruas Jakarta seperti tol Jagorawi akibat kepadatan lalu lintas.
Kemacetan nyatanya bukan hanya menimpa kota besar semata yang menjadi tujuan pemudik seperti Medan, Surabaya, Bandung, Makassar, dan yang lainnya. Namun, hampir merata di semua pelosok daerah. Bahkan, kota kecil seperti Panyabungan juga tidak luput dari kemacetan. Ada beberapa titik yang sering mengalami penumpukan kenderaan di jalan raya dan bukan pemandangan aneh lagi jika daerah destinasi wisata sering mengalami kemacetan parah.
Seperti yang telah diprediksi sebelumnya, para pemudik di awal berangkat menuju kampung halaman sudah berulang kali mengalami kemacetan di titik-titik tertentu di wilayah yang dilewatinya. Saat tiba di kampung halaman juga masih sering mengalami kemacetan dan pulangnya pun saat bergerak bersama mengikuti arus balik juga akan mengalami kemacetan dimana-mana.
Butuh kekuatan ekstra untuk menjadi pemudik tahun ini. Seperti diprediksi Badan Kebijakan Transportasi Kementerian Perhubungan yang bekerja sama dengan Kementerian Komunikasi dan Informatika serta Badan Pusat Statistik, akan terjadi peningkatan potensi pergerakan masyarakat selama Idul Ftri 1445 tahun ini.
Berdasarkan hasil survei tersebut, dijelaskan bahwa pergerakan masyarakat secara nasional akan berpotensi mencapai 71,7 persen dari jumlah penduduk Indonesia atau sebanyak 193,6 juta jiwa. Angka yang sangat tinggi dan fantastis dan peningkatan ini hampir mencapai lebih kurang 40 persen dari tahun sebelumnya yang hanya berkisar pada angka 123,8 juta orang.
Sama seperti tahun-tahun yang lalu, setiap Lebaran kita selalu dihadapkan kepada persoalan yang sama. Namun, tidak pernah tuntas kendatipun berbagai rekayasa lalu-lintas sudah diterapkan pemerintah, mulai dari pengalihan jalur keramaian, jalur-jalur alternatif, skema satu arus, lawan arus, penerapan ganjil-genap dan pembatasan angkutan barang. Namun, dampaknya sangat minim untuk mengurai kemacetan yang terjadi. Pun penambahan personil polisi di setiap persimpangan jalan utama juga tidak terlalu efektif.
Traffic counting (volume kenderaan) tiba-tiba saja menyerupai air bah yang datang menerjang kampung dan kota. Jutaan warga dalam kurun waktu yang bersamaan melakukan perjalanan menuju kampung halaman masing-masing. Dalam rentang waktu yang sama juga jutaan warga memenuhi jalanan, sehingga menimbulkan kepadatan lalu lintas.
Senior General Manager Jasa Marga Nusantara Tollroad (JNT) Truly Nawangsasi menyebut terjadi volume peningkatan lalu lintas secara signifikan di ruas tol luar Pulau Jawa pada H+3 Lebaran menjelang arus balik. Khusus wilayah Sumatera Utara, sebanyak 21.308 kendaraan melintas di ruas tol Medan-Kualanamu-Tebing Tinggi.Angka ini meningkat tajam hingga 56,4 persen dibandingkan saat lalu lintas dalam keadaaan normal yang hanya mencapai 13.638 kenderaan.
Fenomena kemacetan ini sudah menjadi langganan dan momok yang tidak akan pernah menemukan jalan keluar. Akan selalu menghantui para pengguna lalu lintas dimanapun dan kapanpun, baik pra dan pasca Lebaran.
Untuk daerah Tapanuli bagian selatan pada momen Lebaran, kemacetan yang paling parah biasanya terjadi di Aek Sijornih, sebuah kawasan tempat wisata alam yang terletak di Kecamatan Sayurmatinggi, Tapanuli Selatan, lebih kurang 30 kiloeter dari Padangsidimpuan ke arah Mandailing Natal.
Kemacetan di daerah ini sudah langganan setiap tahun. Pada hari ketiga Lebaran nyaris tak terlewati, karena banyaknya kenderaan dan pengunjung objek wisata yang menyemut. Belasan kilometer macet total dari dan menuju lokasi wisataa ini hingga mengakibatkan kelumpuhan mulai dari sebelum SMPN 1 Sayurmatinggi dari arah Panyabungan.
Sementara dari arah Padangsidimpuan juga mengalami hal yang sama, yakni sebelum Desa Silaiya deretan panjang kenderaan sudah semakin menyesak dan mobil saya bersama keluarga berada di tengah situasi kemacetan ini.
Terik mentari yang ekstrim makin membuat situasi lalu lintas serasa lengkap. Pada hari normal jarak tempuh kedua kota ini dapat dilalui satu setengah jam lamanya, namun seperti tahun-tahun kemarin jika di hari Lebaran dipastikan bisa mencapai 4 atau 5 jam.
Kemacetan memang menjadi monster dan tantangan bagi para pengguna lalu lintas, lebih-lebih lagi bagi para pemudik. Perjalananan mudik yang seharusnya menyenangkan, menggembirakan, dan mengasyikkan akhirnya berubah menjadi perjalanan yang melelahkan dan menguras energi.
Yakin dan percayalah sehebat apapun rekayasa lalu lintas dengan berbagai cara untuk mengurai kemacetan, karena momen Lebaran ini sifatnya tahunan dipastikan tidak akan banyak berdampak. Paling hanya memanajemen sehingga kondisi lalu lintas yang padat tersebut secara pelan akan bergerak.
Kemacetan tetap akan menjadi kemacetan. Konon lagi pertambahan mobil pribadi setiap tahunnya mengalami peningkatan yang tajam. Bukankah yang paling banyak berseliweran di jalan raya pada Lebaran ini adalah mobil pribadi. Jika Anda terjebak dalam kemacetan panjang di Aek Sijorni, maka pastikanlah yang paling banyak itu adalah mobil pribadi dari berbagai daerah di Indonesia, karena disana akan mudah dilihat plat luar daerah.
Solusinya hanya satu, yakni memperbanyak sabar karena hanya dengan sabar kondisi ini bisa dimaklumi sebagai agenda tahunan, yang tentu saja banyak kelemahan dan kekurangan saat pengaturan lalu lintas. Tidak akan bisa sempurna dan pasti banyak kekurangan.
Hanya dengan bersabar, insya Allah perjalanan tersebut bisa dinikmati dengan hati yang tenang dan menyenangkan. Bahkan, jika perlu anggap sebagai ujian untuk meningkatkan dan melatih keimanan karena hanya orang yang sabar tidak akan kepanasan dengan suara klakson yang saling bersahutan.
Hanya orang sabar yang akan tetap santai ketika mobilnya disalip kenderaan lainnya. Hanya orang sabar juga yang tidak akan mengucapkan kata kata kotor ketika mobilnya hampir terserempet mobil lainnya di jalan dua arah saat kemacetan terjadi. Semoga Anda dan saya mampu melaksanakan ini. (*)




Discussion about this post