ASAP rokok mengepul tebal di langit-langit sebuah lopo (warung kopi) yang berjarak sepelemparan batu dari Gedung Kantor Bupati Mandailing Natal (Madina). Siang itu, Jumat (19/6/2026), suara ketukan gelas kopi beradu dengan riuhnya obrolan. Di sudut paling pojok, empat jurnalis media online sibuk menatap layar gawai masing-masing, sebelum akhirnya satu berita memecah keheningan meja mereka.
“Cemana rupanya isi kepala pejabat-pejabat kita di Pemkab ini, bah? Mengurut dada awak melihatnya!” sungut Ucok, meletakkan ponselnya dengan kasar ke atas meja.
Ucok ini wartawan senior yang selalu berpegang pada idealisme. Kata-katanya tajam, sering menyoroti moralitas dan tanggung jawab pemerintah.
“Ada apa rupanya, Cok? Tumben kali kau siang bolong udah naik darah. Proyek mana lagi yang mangkrak?” balas Togar santai sambil menyeruput kopi susu setengah gelasnya.
Togar dikenal dengan sifatnya yang skeptis dan Satiris. Dia suka menyindir dengan gaya sarkas. Selalu melihat sisi politis dari sebuah kejadian dan tidak mudah percaya pada janji pejabat.
“Bukan soal proyek batu atau aspal! Ini soal anak manusia, masa depan daerah kita. Namanya Asmaul Husna, kelahiran 2004 dari Desa Patialo, Kotanopan. Lulus dia ke Universitas Al Azhar, Mesir. Hafizah 30 juz ini, tamatan Rumah Tahfidz Jabal Rahmah Mulia Medan. Tapi, terancam gagal berangkat karena uang 36 juta perak!” jawab Ucok dengan nada meninggi.
“Tunggu dulu, Asmaul Husna anak pasangan Pak Umaruddin Nasution sama Ibu Daniah Batubara yang cuma petani itu, kan? Setahuku tahun lalu dia sudah lulus juga, tapi batal berangkat karena masalah yang sama, nggak ada biaya,” sahut Poltak, matanya langsung awas mengingat data yang pernah masuk ke meja redaksinya.
Poltak memang dikenal wartawan lapangan yang selalu punya data akurat, angka, dan kronologi kejadian. Gesit dan selalu mendapat informasi “A1” (paling valid).
“Nah, itu dia poinnya, Lae! Ini tahun kedua dia lulus. Bisa-bisanya anak secerdas itu, penghafal Kalamullah, mau ke kampus kiblat Islam tertua di dunia, dibiarkan megap-megap cari ongkos sendiri. Padahal, kalau udah sampai Kairo, kuliahnya gratis itu!” sergah Ucok lagi.
Togar tertawa sinis, asap rokoknya dihembuskan pelan.
“Kau macam baru kenal aja sama pejabat di Madina ini, Cok. Kalau urusan bangun tugu atau acara seremonial potong pita, cepat kali cair anggarannya miliaran. Tapi, kalau urusan beasiswa anak miskin berprestasi, mendadak semua jadi birokrat pelit. Alasan klasiklah, ‘tidak ada pos anggarannya’, ‘APBD defisit’, lagu lama kaset kusut,” sindir Togar tajam.
“Masalahnya, dia itu nggak diam aja, Bang Togar. Anak ini udah berusaha keras merendahkan hati mengetuk pintu penguasa. Hari Jumat tanggal 12 Juni kemarin, aku dapat info valid dia udah nemui orang-orang penting di daerah ini,” sela Poltak memaparkan fakta.
“Siapa aja rupanya yang ditemuinya?” tanya Rudi yang sejak tadi menyimak dengan tenang.
“Orang-orang nomor satu di kabupaten ini. Orang nomor satu di eksekutif, orang nomor satu di legislatif, dan orang nomor satu di kepolisian ditemuinya. Bahkan, ke Baznas Madina pun udah masuk laporannya. Cuma minta bantu 36 juta untuk transport, urus paspor, sama biaya hidup bulan pertama di sana. Tapi buktinya? Sampai sekarang masih angan-angan. Menengadah tangan dia ke pejabat di kabupaten berjuluk ‘Negeri Serambi Mekkah’ ini, tapi hasilnya entah macam mana,” urai Poltak sambil geleng-geleng kepala.
“Hancur kali, bah! Kalau sampai gagal dua kali, terkuburlah impian anak ini mengangkat derajat keluarganya dari garis kemiskinan. Apa gunanya kursi-kursi empuk di gedung seberang sana itu kalau bantu satu anak berprestasi aja pun tak sanggup?” geram Ucok, tangannya menunjuk ke arah kompleks perkantoran Bupati.
Rudi akhirnya meletakkan penanya dan menatap ketiga rekannya. Rudi memang paling tenang di antara keempatnya. Fokus pada jalan keluar dan aksi nyata ketimbang hanya berdebat.
“Sudahlah, Bang. Kalau kita cuma marah-marah nungguin hati pejabat itu terketuk, bisa batal lagi si Asmaul berangkat. Untungnya, masih ada orang-orang dermawan di daerah ini,” ucap Rudi pelan tapi tegas.
“Maksud kau cemana, Rud?” tanya Togar penasaran.
“Ini baru masuk press release ke WA grupku. Forum Pimpinan Kecamatan (Forkopimcam) Kotanopan sama kawan-kawan Forum Jurnalis Mandailing Julu (FJ Maju) langsung ambil sikap. Mereka buka donasi hari ini,” terang Rudi sambil menunjukkan layar gawainya.
“Paten itu! Apa kata orang kecamatan?” tanya Poltak antusias.
“Ini kutipan langsung dari Pak Camat Kotanopan, Enda Mora Lubis,” Rudi mulai membacakan pesan di layar ponselnya. “‘Ini merupakan kebanggaan bagi daerah kita. Asmaul Husna telah menunjukkan prestasi luar biasa sebagai seorang hafizah dan berhasil lulus di Al-Azhar Kairo. Kami berharap ada uluran tangan dari para dermawan agar keberangkatannya dapat segera terwujud.’ Begitu kata Pak Camat di Kotanopan Jumat 19 Juni.”
“Baguslah itu, malu kita sebagai orang Madina kalau anak emas macam ini dibiarkan layu. Sampai kapan donasinya dibuka?” potong Ucok sedikit lega.
“‘Penggalangan dana ini dimulai hari Jumat, 19 Juni 2026, sampai dua minggu kedepan. Hasil penggalangan dana ini nanti akan diserahkan langsung kepada Asmaul Husna.’ Gitu sambungan statemen Pak Enda. Beliau yakin masih banyak masyarakat dermawan yang mau bantu anak ini berangkat ke tanah kelahirannya Syaikh Yusuf Al-Qardawi,” lanjut Rudi.
Keempat jurnalis itu terdiam sejenak. Kopi di gelas mereka sudah mulai mendingin.
“Jadi cemana, kawan-kawan? Tak usah kita tunggu pejabat yang sibuk rapat itu. Kita pun bisa bantu. Tulis berita ini, naikkan headline, biar meledak. Kita sebar nomor donasinya ke semua jaringan,” ajak Rudi sambil menatap satu per satu wajah sahabatnya.
“Gaskan! Mana nomor rekeningnya biar kumasukkan sekalian ke bold di naskahku,” sahut Togar yang sudah siap mengetik di laptopnya.
“Catat, Lae. Bagi masyarakat yang mau bantu, bisa langsung hubungi Siti Fatimah Parinduri di Kantor Camat Kotanopan, atau transfer langsung lewat rekening BRI 533501014542535 atas nama Siti Fatimah Parinduri,” sebut Rudi memastikan setiap angkanya tak meleset.
“Siap. Berita ini harus viral. Biar terbuka mata mereka bahwa di saat pemerintah alpa, rakyatlah yang saling menjaga,” tutup Ucok seraya meneguk habis kopi pahitnya.
Siang itu, dari sebuah meja lopo sederhana di Madina, sebuah perlawanan sunyi—namun nyata—mulai diketikkan. Demi Asmaul Husna, demi mimpi yang tak boleh mati. (*)




Discussion about this post