Momen jenaka nan akrab saat Wakil Bupati Madina Atika Azmi Nasution tak kuasa menahan rindu masa sekolah dan ikut memukul snare drum bersama pelajar di Kotanopan.
Kotanopan, StartNews – Wakil Bupati Mandailing Natal (Madina) Atika Azmi Utammi Nasution tak kuasa menahan hasrat nostalgia masa mudanya dengan terjun langsung memukul snare drum bersama para pelajar usai menutup pagelaran drum band di Lapangan Terminal Pasar Kotanopan, Kotanopan, Jumat (14/8/2026).
Dentuman nada dan sorak-sorai nyatanya sukses membuat sang wakil bupati sejenak melupakan protokoler dan kembali menjadi “anak sekolahan”.
Momen jenaka sekaligus akrab ini bermula ketika rangkaian acara formal perayaan HUT ke-81 RI di tingkat kecamatan tersebut usai digelar. Sebelumnya, Atika hadir dengan wibawa penuh sebagai perwakilan pemerintah daerah untuk menyerahkan tali asih kepada keluarga veteran dan pahlawan perintis kemerdekaan.
Di hadapan 22 veteran dan 25 perintis kemerdekaan yang tercatat resmi, dia menyampaikan pesan kebangsaan yang mendalam.

“Melalui perayaan seperti ini, rasa nasionalisme kita tetap membara dalam mencintai NKRI. Kita juga harus terus mengirimkan doa untuk seluruh pejuang kemerdekaan di seluruh Indonesia,” kata Atika dengan nada khidmat.
Penghormatan kepada pahlawan memang menjadi salah satu fokus Pemkab Madina saat ini. Bahkan, Atika sempat menyinggung soal penamaan Bandara Jenderal Besar Abdul Haris Nasution di Bukitmalintang sebagai bentuk dedikasi dan kebanggaan daerah kepada pahlawan revolusi kelahiran Kecamatan Kotanopan tersebut.
Namun, di balik pidato kebangsaan itu, ada kerinduan yang diam-diam bergejolak di dada sang Wakil Bupati saat melihat barisan peserta drum band bersiap. Atika sangat mengapresiasi pagelaran seni dan olahraga semacam ini.
Menurut dia, ini jurus jitu pemerintah untuk “menjauhkan” anak-anak dari layar gawai yang kian meresahkan.
“Jadikan kegiatan ini bukan sekadar seremoni. Mari libatkan generasi muda agar mereka mengenal sejarah dan mencintai Tanah Air,” tegas Atika.
Benar saja, usai acara resmi ditutup, imbauan itu langsung dia praktikkan dengan cara yang paling menyenangkan. Begitu irama drum band kembali ditabuh, jiwa muda Atika meronta. Ingatannya langsung melesat ke masa-masa berseragam putih abu-abu di Kotanopan.
Alih-alih langsung naik ke kendaraan dinas, dia malah mengajak para pelajar SMA Negeri 1 Kotanopan untuk melakukan long march menuju sekolah mereka.
Tanpa canggung, Atika mengambil alih salah satu snare drum dan menyandangnya di pundak. Sambil berjalan kaki dari terminal, tongkat pemukul drum beradu lincah di tangannya, selaras dengan ritme para pelajar yang mengiringinya.
Tak perduli seragamnya berbeda sendiri, senyum merekah tetap menghiasi wajahnya. Ini membuktikan bahwa jabatannya sebagai wakil bupati tak akan bisa menahan godaan untuk bernostalgia dengan masa sekolah.
Langkah tegap dan irama drum yang dimainkan Sang Wabup seketika mencairkan suasana. Tidak ada lagi sekat kaku antara pejabat pemerintah dan warganya. Di sepanjang jalan Kotanopan hari itu, yang ada hanyalah kegembiraan kolektif, harmoni nada, dan seorang Wakil Bupati yang sukses menuntaskan kerinduannya bermain drum band. Sebuah pemandangan langka yang pastinya akan menjadi cerita manis di perayaan kemerdekaan tahun ini.
Reporter: Sir





Discussion about this post