Menyusuri kehangatan persaudaraan lewat program Holong Mangalap Holong KPPG Madina. Kisah nyata saling dukung antarkader perempuan di tengah asrinya alam Desa Roburan Lombang.
Panyabungan, StartNews – Rombongan ibu-ibu ceria tampak menyusuri jalan setapak yang diapit rimbunnya pepohonan hijau dan hamparan sawah. Mereka berjalan beriringan membawa berbagai perbekalan, mulai dari air minum kemasan hingga buah nanas segar, melangkah dengan senyum dan canda tawa yang lepas.
Pemandangan yang begitu hangat ini menjadi potret kegiatan Kesatuan Perempuan Partai Golkar Mandailing Natal (KPPG Madina) yang sedang turun menyapa kadernya. Selain Ketua KPPG Madina Zubaidah Nasution, kunjungan silaturahmi ini juga diikuti Bendahara Umum Partai Golka Madina Ernidah dan sejumlah pengurus lainnya.
Di balik keceriaan perjalanan ini, ada sebuah nilai luhur yang sedang dihidupkan, yakni program Holong Mangalap Holong. Secara filosofis dalam budaya Mandailing, holong mangalap holong bermakna kasih sayang yang menjemput atau memanggil kasih sayang lainnya.
“Konsep ini bukan sekadar semboyan, melainkan sebuah ikatan batin yang menyatukan hati. Ketika kita memberikan perhatian dan kepedulian yang tulus, maka hal itu akan berbalas dengan cinta dan rasa persaudaraan yang sama besarnya,” kata Zubaidah Nasution, ketua KPPG Madina sekaligus pengagas program yang ditujukan sebagai bentuk solidaritas perempuan yang tidak lekang oleh waktu.

Kunjungan pada Minggu (9/8/2026) kemarin terasa istimewa, karena menyasar sosok perempuan tangguh yang telah banyak mendedikasikan hidupnya.
Zubaidah Nasution menceritakan tujuan perjalanan mereka pada Minggu (9/8/2026) kemarin. “Kami ke rumah salah satu kader perempuan Golkar yang paling senior di Golkar Madina dan aktif hingga saat ini, Elyda Chaniago, di Desa Roburan Lombang, Panyabungan Selatan,” katanya.
Zubaidah, yang juga ketua Fraksi Golkar DPRD Madina, menuturkan Elyda Chaniago sudah menjadi kader Golkar sejak Akbar Tanjung menjabat sebagai ketua umum (Ketum) Golkar.
Kini, Elyda Chaniago sehari-hari beraktivitas sebagai petani dan pekebun. Dia juga membuka les privat untuk anak-anak SD di rumah orangtuanya di Kelurahan Kayujati, dua kali sepekan. Namun, belakangan ini jumlah muridnya makin sedikit.

“Holong mangalap holong, kami bukan hanya kawan satu partai, tapi sudah seperti keluarga sendiri, saling dukung, tidak selalu berbentuk materi, tetapi selalu berbagi rasa, suka maupun duka,” kata Zubaidah.
Untuk kegiatan kali ini, sejumlah ibu muda kelompok tani ikut bergabung. “Insya Allah kegiatan berikutnya akan lebih banyak lagi kaum ibu yang bergabung,” harapnya.
Kedekatan yang disebut seperti keluarga itu benar-benar tergambar dalam pertemuan mereka. Di tengah asrinya persawahan hijau yang menyejukkan mata, tampak potret kebersamaan yang tenang saat duduk berdampingan menikmati suasana alam.
Tidak hanya itu, rombongan ini juga menggelar tikar di bawah rindangnya pepohonan untuk makan bersama, membagikan lauk pauk sederhana beralaskan daun pisang yang justru membuat suasana semakin akrab dan membumi.
Rasa lelah dari rutinitas seakan luntur berganti dengan kebahagiaan. Suasana kekeluargaan ini semakin hidup dengan canda tawa lepas ibu-ibu yang asyik berjoget kecil di sela-sela rimbunnya kebun cabai.
Momen-momen seperti ini membuktikan bahwa program holong mangalap holong berhasil menembus batas-batas formalitas politik.
Pergerakan perempuan di tingkat akar rumput ternyata bisa berjalan beriringan dengan nilai-nilai kemanusiaan yang mendalam. Tentang bagaimana saling memanusiakan, merangkul mereka yang sedang sepi, dan memastikan tidak ada satu pun saudari yang merasa berjalan sendirian.
Reporter: Sir





Discussion about this post