• Media Kit
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
Senin, Mei 25, 2026
  • Login
Start News
  • Home
  • Newsline
  • Madina
  • Sumut
  • Nasional
  • Kabar Desa
  • Figur
  • Hiburan
  • Start TV
  • Start FM
No Result
View All Result
  • Home
  • Newsline
  • Madina
  • Sumut
  • Nasional
  • Kabar Desa
  • Figur
  • Hiburan
  • Start TV
  • Start FM
No Result
View All Result
No Result
View All Result

GPI Madina: Gaungkan Narasi Kebangsaan untuk Lawan Bahaya Laten Komunisme

by Redaksi
Jumat, 30 September 2022
0 0
0
GPI Madina: Gaungkan Narasi Kebangsaan untuk Lawan Bahaya Laten Komunisme

Ketua Bidang Keagamaan PD GPI Madina Samsul Hidayat Borotan. (FOTO: ISTIMEWA)

ADVERTISEMENT

Panyabungan, StartNews Setiap akhir September, wacana tentang G-30-S/PKI selalu ramai dibincangkan, baik mengenai sejarah, film, atau masalah ideologi. Terkait hal ini, Gerakan Pemuda Islam Mandailing Natal (Madina) menyerukan agar seluruh komponen bangsa tetap mewaspadai ideologi komunisme dengan segala gaya dan bentuknya.

“Bahaya laten komunis bukan sekadar isapan jempol, tapi bisa muncul kembali dalam berbagai bentuk tanpa terdeteksi. Umat Islam khususnya harus waspada dan hati-hati,” kata Ketua Bidang Keagamaan PD GPI Madina Samsul Hidayat Borotan, didampingi Komandan Brigade GPI Madina Jufriadi, Jumat (30/9/2022).

Menurut alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) itu, masyarakat tidak boleh abai dengan gerakan neo-komunisme yang bisa saja sewaktu-waktu memecah belah kerukunan dan integrasi bangsa. Membendung komunisme, tutur Samsul, memiliki dasar hukum yang kuat, yakni Ketetapan MPRS No. XXV/MPRS/1966.

Selain itu, narasi kebangsaan tentang 4 pilar bangsa, yakni Pancasila, UUD NRI Tahun 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika harus diintensifkan secara massif.

“Nilai-nilai Pancasila harus diimplemetasikan dalam kehidupan keseharian oleh semua tingkatan masyarakat. Kita yakin ideologi yang tak sesuai dengan karakter bangsa akan hilang bila kita menjalankan nilai-nilai Pancasila, ujar alumnus Pontren Musthafawiyah Purbabaru ini.

Samsul menyayangkan apabila ada pejabat yang jauh, bahkan menyimpang dari nilai-nilai Pancasila serta tidak mengimplementasikannya dalam program dan kebijakannya.

“Pancasila jangan dianggap remeh. Sebab, ideologi ini dirumuskan oleh para pendiri bangsa dengan perjuangan yang panjang. Kesaktian Pancasila akan terwujud bila kita berhasil mengolaborasi segala kelompok yang majemuk dalam bingkai persatuan dan kesatuan,” tegasnya.

Dia menambahkan, narasi yang menginspirasi bangsa tentang bahaya komunisme harus digaungkan secara luas untuk meng-counter opini sesat yang diembuskan pihak lain guna memutar-balikkan fakta sejarah seperti narasi yang menyatakan PKI adalah korban kekejaman Orde Baru, pemerintah harus meminta maaf kepada PKI, politik adu domba, dan lain sebagainya.

“Narasi kebangsaan akan menggerakkan masyarakat untuk selalu berhati-hati dan mewaspadai komunisme serta tolak ukur konsolidasi kekuatan umat agar tidak memberikan celah sedikit pun kepada komunisme untuk bangkit. Pintu untuk komunisme harus kita tutup rapat-rapat dan jangan ada ruang sedikitpun untuk hidup di Indonesia,” ujarnya.

Sementara Komandan Brigade GPI Madina Jupriadi menyatakan GPI (yang sebelumnya bernama GPII) termasuk salah satu organisasi yang menjadi musuh utama PKI di Indonesia. Dalam literatur sejarah, tercatat PKI dan GPII sering bentrok berdarah pada era 1960-an.

“Tragedi di Pesantren Kanigoro awal tahun 1965, acara pengkaderan GPII diserbu oleh PKI. Tak hanya membubarkan acara, tetapi peserta diseret paksa dan dibunuh, muslimah GPI dilecehkan, kitab suci Al-Qur’an dikoyak dan dinistakan” ujar Jupriadi.

Puncak perseteruan, kemudian atas desakan PKI akhirnya Presiden Soekarno menerbitkan Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 139 Tahun 1963 tentang Pembubaran Organisasi Gerakan Pemuda Islam Indonesia (GPII), yang akhirnya bertransformasi menjadi GPI (Gerakan Pemuda Islam) sampai sekarang.

Generasi Muda Islam jangan sampai buta sejarah. Sejarah kelam pengkhianatan PKI adalah obor yang

GPI Madina menyerukan agar setiap akhir September dijadikan momentum untuk mengokohkan perlawanan umat terhadap ideologi komunisme.

30 September harus dijadikan momentum pengokohan jatidiri bangsa dan konsolidasi umat yang semakin menguatkan komitmen kita bahwa komunisme adalah musuh nyata umat Islam, bangsa, dan negara” tegasnya.

Reporter: Rls

Tags: Bahaya LatenGPI MadinaKomunismeNarasi Kebangsaan
ShareTweet
Next Post
Ustad Das’ad Latief Ceramah, Ribuan Warga Padang Padati GOR Haji Agus Salim

Ustad Das'ad Latief Ceramah, Ribuan Warga Padang Padati GOR Haji Agus Salim

Discussion about this post

Recommended

Melapor ke Polres Madina, Wartawan yang Diancam Minta Perlindungan Polisi

Melapor ke Polres Madina, Wartawan yang Diancam Minta Perlindungan Polisi

2 tahun ago
Ekspor Kapulaga Asal Sumut Meningkat Tajam ke China dan Thailand

Ekspor Kapulaga Asal Sumut Meningkat Tajam ke China dan Thailand

3 tahun ago

Popular News

  • Jamin Kecukupan Penumpang Pesawat, Kepala Daerah se-Tabagsel Sepakat Hidupkan Dua Bandara

    Jamin Kecukupan Penumpang Pesawat, Kepala Daerah se-Tabagsel Sepakat Hidupkan Dua Bandara

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Daftar Nama 166 Pejabat Pemkab Madina yang Dilantik Hari Ini

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pemkab Madina Kembali Gelar Pelantikan Pejabat Hari Ini

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mengenal Hipotensi dan Hipertensi, Bagaimana Pencegahan dan Pengendaliannya?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kisah Maryam Damim, Tukang Gubah Masjid dan Gonjong Naik Haji

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Contact
  • Home
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi

© 2026

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

error: Copyright Start News Group
No Result
View All Result
  • Home
  • Madina
  • Sumut
  • Newsline
  • Nasional
  • Newsline
  • Kabar Desa
  • Opini
  • Figur
  • Komunitas

© 2026