• Media Kit
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
Selasa, Agustus 4, 2026
  • Login
Start News
  • Home
  • Newsline
  • Madina
  • Sumut
  • Nasional
  • Kabar Desa
  • Figur
  • Hiburan
  • Start TV
  • Start FM
No Result
View All Result
  • Home
  • Newsline
  • Madina
  • Sumut
  • Nasional
  • Kabar Desa
  • Figur
  • Hiburan
  • Start TV
  • Start FM
No Result
View All Result
No Result
View All Result
Ikuti saluran StartNews.co.id di WhatsApp

Gemercik Sembahe dan Wangi Pangir, Jejak Spiritual Hindu Pemena di Tepian Sungai

by Redaksi
Minggu, 15 Maret 2026
0 0
0
Gemercik Sembahe dan Wangi Pangir, Jejak Spiritual Hindu Pemena di Tepian Sungai

Ritual penyucian diri Erpangir Ku Lau dilaksanakan Umat Hindu Pemena di kawasan sungai Desa Sembahe, Sibolangit. (FOTO: ISTIMEWA)

ADVERTISEMENT

Menjelajahi kedalaman ritual Erpangir Ku Lau di Desa Sembahe, sebuah tradisi penyucian diri umat Hindu Pemena yang memadukan keagungan alam dan kearifan lokal Karo demi menjaga keseimbangan spiritual.

Deli Serdang, StartNews – Suara aliran Sungai Sembahe di Kecamatan Sibolangit siang itu tidak hanya membawa air pegunungan yang dingin, tetapi juga mengalirkan doa-doa kuno yang telah terjaga selama berabad-abad. Di bawah naungan pepohonan rimbun pada Jumat, 13 Maret 2026, nuansa magis terasa kental saat masyarakat Hindu Pemena berkumpul di tepian sungai. Mereka hadir bukan sekadar berkumpul, melainkan untuk melaksanakan Erpangir Ku Lau, sebuah ritual penyucian diri yang menjadi napas spiritual bagi masyarakat Karo.

Aroma segar dari jeruk purut dan dedaunan aromatik mulai merebak saat prosesi persiapan dimulai. Air pangir, ramuan suci yang menjadi jantung dari ritual ini, dipersiapkan dengan penuh ketelitian sebagai simbol peluluhan unsur negatif dalam jiwa. Bagi umat Hindu Pemena, air bukan sekadar materi fisik, melainkan jembatan komunikasi antara manusia dengan pencipta dan alam semesta.

Ketua panitia dari Persatuan Hindu Pemena, Ari Riandi Surbakti, mengatakan ritual ini adalah benteng identitas di tengah gerusan zaman. Dia memandang setiap tetesan air pangir yang membasuh tubuh adalah pengingat akan asal-usul manusia.

Menurut dia, ritual ini mengandung nilai spiritual yang dalam karena selain sebagai bentuk penyucian diri, Erpangir Ku Lau juga menjadi pengingat bagi setiap individu untuk selalu menjaga keseimbangan antara manusia, alam, dan Dibata atau Tuhan.

Suasana khidmat kian memuncak saat prosesi Ersudip atau doa bersama dimulai. Para tokoh adat dan pemangku ritual memimpin barisan umat dengan gerakan yang tenang namun sarat makna. Dalam keheningan di antara gemericik air, mereka memohon keselamatan, kesehatan, dan kesejahteraan. Partisipasi generasi muda dalam acara ini memberikan harapan baru bahwa tradisi yang diwariskan oleh para leluhur Karo tidak akan luntur tertelan modernitas.

Dukungan penuh juga datang dari pemerintah melalui Bimbingan Masyarakat Hindu Kantor Wilayah Kementerian Agama Sumatera Utara. Pembimbing Masyarakat Hindu, Elirosa Tarigan, yang hadir langsung di lokasi, melihat Erpangir Ku Lau sebagai kekayaan filosofis yang luar biasa.

Dia mengungkapkan, secara filosofis, ritual ini mengandung makna penyucian lahir dan batin, di mana air dipandang sebagai simbol kehidupan dan pemurnian. Sementara pelaksanaannya di sungai mencerminkan hubungan harmonis antara manusia dengan alam semesta.

Lebih lanjut, Elirosa mengatakan pemerintah berkomitmen untuk terus merawat kearifan lokal seperti ini sebagai bagian dari kekayaan praktik keagamaan Hindu di Indonesia.

Dia menambahkan, pelaksanaan ritual ini tidak hanya menjadi kegiatan keagamaan semata, tetapi juga menjadi momentum penting untuk mempererat kebersamaan masyarakat, di mana kehadiran generasi muda menjadi tumpuan agar tradisi Erpangir Ku Lau tetap hidup dan terus diwariskan di masa yang akan datang.

Saat matahari mulai bergeser, ritual diakhiri dengan pembersihan diri secara kolektif di aliran sungai. Wajah-wajah penuh ketenangan tampak di antara para peserta, seolah beban batin telah larut bersama aliran air Sembahe. Erpangir Ku Lau hari itu bukan sekadar seremoni formal, melainkan sebuah pernyataan cinta masyarakat Karo terhadap leluhur dan alam yang selama ini telah memberi mereka kehidupan.

Reporter: Rls

Tags: Gemercik SembaheHindu PemenaJejak SpiritualTepian SungaiWangi Pangir
ShareTweet
Next Post
Bupati Cilacap Rencanakan Uang Hasil Pemerasan untuk THR Forkopimda

Bupati Cilacap Rencanakan Uang Hasil Pemerasan untuk THR Forkopimda

Discussion about this post

Recommended

Korban Dugaan Kebocoran Gas OTP Bertambah

Korban Dugaan Kebocoran Gas OTP Bertambah

6 tahun ago
Ketua DPW PKB Sumut Optimistis Raih Kursi Legislatif dari Setiap Dapil

Sukhairi Sebut PKB-Gerindra Segera Bentuk Sekber Pemenangan Pemilu 2024 di Sumut

4 tahun ago

Popular News

  • Terbang Perdana Wings Air Rute KNO-JHN, Wabup Madina Jadi Penumpang VIP

    Terbang Perdana Wings Air Rute KNO-JHN, Wabup Madina Jadi Penumpang VIP

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Brigjen Pol. Sonny Irawan Dimutasi dari Jabatan Wakapolda Sumut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Besok, Water Salute Tandai Penerbangan Perdana Wings Air Kualanamu (KNO) – Madina (JHN)

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Lima Kajari di Sumatera Utara Diganti, Ini Daftarnya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kepala BKPSDM Meinul Lubis Ditahan Jaksa, Bupati Madina Angkat Bicara

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Contact
  • Home
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi

© 2026

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

error: Copyright Start News Group
No Result
View All Result
  • Home
  • Madina
  • Sumut
  • Newsline
  • Nasional
  • Newsline
  • Kabar Desa
  • Opini
  • Figur
  • Komunitas

© 2026