Panyabungan, StartNews Wajahnya dingin. Tak terlihat raut penyesalan di wajah Agustinus (27) usai membacok kepala ibu kandungnya, Linda Sari (50), di gubuk tempat mereka tinggal di kawasan persawahan Saba Bali, Kelurahan Kayujati, Kecamatan Panyabungan, Kabupaten Mandailing Natal (Madina) Senin (21/3/2022) sekitar pukul 08.00 WIB.
Tak lama setelah peristiwa itu, Agustinus (27) langsung ditangkap polisi. Kanit Reskrim Polsek Panyabungan Iptu P. Ritonga mengatakan polisi telah mengamankan Agustinus ke Mapolsek Panyabungan. Iya benar, anggota tadi sudah ke lapangan dan pelaku sudah diamankan, katanya.
Menurut Hendri (30), yang merupakan abang pelaku, adiknya ini merupakan mantan narapidana kasus curanmor.
Dalam dua tahun terakhir ini setelah keluar dari penjara, adiknya mulai terlihat kurang waras dan sering bikin onar. Sebab itu, mereka sering berpindah-pindah tempat tinggal, karena malu, juga karena dilarang tokoh masyarakat setempat untuk tinggal.
Jadi, kalau tinggal ke permukiman, warga tidak mengizinkan lagi karena sering buat keributan, kata Hendri.
Linda Sari memiliki 5 anak. Dari empat anaknya yang lain, semua telah mengalami pengancaman dari Agustinus. Bahkan, kakaknya yang paling sulung, Restina (33) juga pernah mengalami pembacokan di bagian kepala.
Aku yang melerainya waktu itu juga kena di lengan, ini juga karena mengelak kalau tidak ke arah dadaku itu, ungkap Amat, suami dari Restina.
Dengan kejadian yang sudah dialamai seluruh anak, Linda sudah menyarankan agar Agustinus dipasung saja atau diserahkan ke Dinas Sosial setempat. Akan tetapi, ibunya tetap membela anaknya tersebut.
Hingga delapan bulan sebelum ini, mereka mengasingkan diri ke Saba Bali dan tinggal di satu gubuk persawahan berukuran 2 x 3 meter di tempat tersebut. Tempat dimana menurutnya anaknya bisa berubah kembali normal seperti sebelum masuk penjara.
Jadi alasannya waktu itu gak bisa lagi tinggal di perkampungan dan sewanya mahal. Saya tawarkan untuk menjaga kelapa, mereka boleh tinggal di sini, kata pemilik kebun dan sawah sekitarnya yang enggan menyebut namanya.
Reporter: Fadli Mustafid/Sir





Discussion about this post