KEPULAN asap kopi robusta mengular di udara pagi Alun-alun Panyabungan, membaur dengan riuhnya obrolan di warung Mak Lobe. Sisa-sisa kemeriahan acara Rang Minang Baralek Gadang tadi malam masih menjadi buah bibir.
“Ondeh mande, rami bana acara samalam! Laris manih dagangan ambo. Raso di kampuang surang maliek Tari Piring basandiang jo Gordang Sambilan,” buka Uda Buyung sambil menyeruput kopi hangatnya.
Uda Buyung ini pria yang ulet dan ramah. Sehari-hari dia berjualan kain di pasar, masih kental logat Minang dan selalu optimis.
“Paten kali memang kelen ini, Da! Macam lautan manusia kulihat semalam di HUT IKM ke-10 itu. Nggak ada matinya orang Minang ini kalau urusan mutar duit di Madina, bah,” timpal Ucok, pemuda Panyabungan yang selalu bicara lantang, reaktif, dan gemar nongkrong. Dia menyulut sebatang kretek.
“Itu sudah ditegaskan Ibu Wakil Bupati, Atika Azmi. Denyut ekonomi Madina, khususnya UMKM, nyaris tak bisa dipisahkan dari perantau Minang. Hebatnya, akulturasi kalian ini mulus kali. Falsafah di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung itu benar-benar hidup sampai payah kita bedakan mana orang Minang mana Mandailing,” papar Pak Budi merapikan kerah seragam kakinya.
Pak Budi ini sosok birokrat yang tenang, sering melihat fenomena sosial dari kacamata kebijakan pemerintah daerah.
“Betul itu, Pak Budi. Apalagi Ketua DPRD kita, Pak Erwin juga bilang etnis Minang ini tahan banting digempur krisis. Tapi jangan lupa, kelancaran dan kerukunan acara semalam itu juga berkat peran aktif polisi kita di lapangan. Pak Kapolres AKBP Bagus Priandy turun langsung memastikan keamanan, sekaligus mengingatkan kita kalau dedikasi orang Minang untuk NKRI ini sudah terbukti dari zaman Bung Hatta. Polisi merangkul semua etnis biar tetap kondusif,” urai Boja, jurnalis yang tajam menganalisis isu lapangan, ceplas-ceplos dengan gaya bahasa Medan yang khas.
“Iyo, rancak bana! Kami maraso aman baisiaran, mambuek acara rami tapi tatap tertib karano pak polisi sato manjago mamasikan sadoalahnyo lanca,” tambah Uda Buyung mengangguk setuju.
“Nah, kopi pancung satu lagi siap! Memang begitulah hakikatnya kita hidup di Bumi Gordang Sambilan ini. Mau beda suku, beda bahasa, kalau sudah duduk di warung ini dan saling menjaga, semua jadi saudara. Perbedaan budaya itu energi, macam campuran gula dan kopi yang bikin Panyabungan ini makin kental dan nikmat,” tutup Mak Lobe, pemilik warung kopi yang bijak, pendengar setia, dan selalu menjadi penengah perdebatan di warungnya.
Mak Lobe meletakkan gelas kaca yang bergemerincing pelan di atas meja kayu yang mulai kusam. (*)





Discussion about this post