Bukan sekadar tradisi, warga Desa Bojonegoro Temanggung rela berebut sisa anyaman bambu gunungan Grebeg Suro demi mengharap kesuburan lahan pertanian mereka.
Temanggung, StartNews – Ribuan warga langsung menyerbu puluhan gunungan hasil bumi begitu arak-arakan tiba di kawasan Paseban Malowopati, Desa Bojonegoro, Kecamatan Kedu, Temanggung, Jawa Tengah. Uniknya, warga yang tidak kebagian sayur maupun buah justru mengincar bilah dan anyaman bambu bekas tandu gunungan untuk ditancapkan di ladang mereka.
Aksi berebut berkah ini menjadi bagian dari tradisi Grebeg Suro yang berlangsung selama dua hari dua malam, sejak 29 hingga 30 Juni 2026. Bagi masyarakat setempat, sisa-sisa sarana gunungan tersebut dipercaya membawa tuah kesuburan bagi tanah pertanian di kaki Gunung Sindoro dan Sumbing.
Salah seorang warga, Sriatun, mengaku sengaja mengamankan potongan bambu penyangga karena kalah cepat saat berebut sayuran. Dia meyakini medium bambu yang telah didoakan bersama itu tetap mengalirkan berkah yang sama untuk tanaman di kebunnya.
“Bambu ini akan kita taruh di kebun kita, Mudah-mudahan jadi ikut dapat berkah,” kata Sriatun dengan optimis.
Senada dengan Sriatun, warga lain bernama Suwito berhasil membawa pulang segenggam padi dan kacang panjang dari gunungan raksasa tersebut. Padi dan sayuran itu tidak akan dimasak, melainkan bakal disebar ke area persawahannya sebagai simbol harapan mulainya musim tanam yang baru.
“Gunungan hasil bumi sudah didoakan seluruh warga sebagai harapan kita agar hasil panen berkah,” imbuh Suwito sembari menunjukkan hasil buruannya.
Sebagian besar dari 3.000 jiwa penduduk Desa Bojonegoro menggantungkan hidupnya sebagai petani tembakau, kopi, sayur, jagung, dan padi. Oleh karena itu, ritual menyambut awal bulan Suro yang menandai tahun baru Jawa dan Islam ini menjadi momentum krusial bagi ketahanan pangan desa.
Tokoh masyarakat Desa Bojonegoro, Ari, menjelaskan perayaan ini awalnya digelar secara sederhana sejak 10 tahun lalu. Namun, dalam tiga tahun terakhir, perputaran ekonomi dan partisipasi massa melonjak tajam hingga menyedot perhatian puluhan ribu pengunjung dan ratusan pedagang kreatif.
“Awalnya tak seramai ini, baru 3 tahun ini jauh lebih meriah. Acara Grebeg Suro memberikan banyak manfaat dari ekonomi yang tumbuh, budaya yang kembali hidup, dan kebersamaan warga yang guyub,” ujar Ari.
Setelah ritual rebutan gunungan selesai, kemeriahan tahun ini masih berlanjut dengan rangkaian acara seni budaya. Pihak panitia telah menyiapkan pertunjukan wayang kulit, pentas budaya lokal, serta ditutup dengan pengajian akbar bersama Gus Iqdam.
Reporter: Sir





Discussion about this post