Hutabargot, StartNews – Biasanya, banjir meninggalkan duka dan sisa lumpur yang merepotkan. Namun, bagi warga di Desa Sayur Maincat, Kecamatan Hutabargot, Kabupaten Mandailing Natal (Madina), banjir dua pekan lalu justru membawa hadiah yang tak terduga. Di dasar saluran irigasi Batang Gadis yang keruh, terselip butiran-butiran batu mengandung emas yang kini menjadi tumpuan hidup baru bagi ratusan orang.
Selasa siang (6/1/2026), pemandangan di sepanjang satu kilometer saluran irigasi tersebut berubah drastis. Tak ada lagi ketenangan air mengalir untuk sawah. Yang ada keriuhan ratusan warga yang berbaur di dalam kubangan lumpur berwarna cokelat pekat.
Fenomena ini bermula saat material pasir dan bebatuan terbawa arus banjir besar dan mengendap menutupi saluran irigasi. Siapa sangka, di balik material yang dianggap mengganggu itu, tersimpan kandungan logam mulia. Kabar ini pun menyebar cepat bak api di pematang kering, memancing warga dari berbagai pelosok Madina untuk datang mengadu nasib.
Pantauan di lapangan menunjukkan pemandangan yang menyentuh sekaligus memperlihatkan kegigihan. Laki-laki dewasa, ibu-ibu dengan penutup kepala kain, bahkan anak-anak sekolah, tampak sibuk dengan alat sederhana. Bermodalkan saringan kawat dan karung goni, mereka memilah setiap inci material, berharap menemukan kerikil yang mengandung urat emas.
Di antara kerumunan itu, tampak Aini Lubis, seorang warga asal Gunungtua. Tangannya masih canggung memainkan saringan di atas permukaan air yang setinggi lutut. Bagi Aini, hari ini menjadi debutnya sebagai pemburu emas dadakan.
“Saya baru pertama kali ikut. Sebenarnya tidak tahu banyak soal batu emas, tapi karena diajak teman, saya beranikan diri,” ungkap Aini sambil menyeka keringat di dahinya.
Keputusannya meninggalkan rutinitas di rumah bukan tanpa alasan. Bayangan pendapatan ratusan ribu rupiah di depan mata menjadi magnet yang sulit ditolak.
“Teman-teman yang sudah lebih dulu ikut sering dapat hasil. Katanya bisa sampai Rp300 ribu hingga Rp400 ribu sehari kalau beruntung. Siapa yang tidak tergiur dengan hasil sebesar itu hanya dengan bermodalkan saringan dan karung,” tambahnya dengan nada penuh harap.
Meski mengaku belum paham betul mana batu yang berisi dan mana yang sekadar kerikil biasa sebelum dibawa ke mesin penggilingan (galundung), Aini tetap semangat mengikuti ritme warga lainnya.
Sudah dua pekan terakhir, saluran irigasi Batang Gadis sepanjang satu kilometer ini beralih fungsi menjadi tambang rakyat sementara. Area ini tak pernah sepi. Sejak matahari terbit hingga menjelang magrib, masyarakat terus berdatangan.
Banjir yang semula dianggap musibah bagi infrastruktur irigasi, kini justru menjadi “berkah banjir” yang mendongkrak ekonomi warga di awal tahun 2026 ini. Bagi mereka, setiap ayunan saringan adalah doa. Setiap batu yang masuk ke karung adalah harapan untuk dapur yang terus mengepul.
Di Desa Sayur Maincat, emas bukan sekadar perhiasan di etalase toko, melainkan jejak-jejak keberuntungan yang ditinggalkan banjir di dasar bumi Gordang Sambilan.
Reporter: Agus Hasibuan





Discussion about this post