• Media Kit
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
Selasa, Juni 9, 2026
  • Login
Start News
  • Home
  • Newsline
  • Madina
  • Sumut
  • Nasional
  • Kabar Desa
  • Figur
  • Hiburan
  • Start TV
  • Start FM
No Result
View All Result
  • Home
  • Newsline
  • Madina
  • Sumut
  • Nasional
  • Kabar Desa
  • Figur
  • Hiburan
  • Start TV
  • Start FM
No Result
View All Result
No Result
View All Result

Oji Mabrur atau Oji Makmur?

Penulis: Saparuddin Siregar | Pemimpin Redaksi StartNews.co.id

by Redaksi
Senin, 8 Juni 2026
0 0
0
Oji Mabrur atau Oji Makmur?

Ilustrasi.

ADVERTISEMENT

ASAP rokok mengepul tebal berbaur dengan aroma kopi Mandailing yang pekat di Lopo Sipolupolu, jantung kota Panyabungan. Pagi itu, Senin, 8 Juni 2026, lopo sudah riuh rendah. Suara sendok yang beradu dengan gelas kaca menjadi musik latar obrolan bapak-bapak yang menggebu-gebu.

“Sudah kalian baca berita hari ini, kawan-kawan? Ratusan jamaah haji Kloter 6 asal Madina kita ini akhirnya kembali menginjakkan kaki di Tanah Air,” buka Bang Jali sambil menutup layar ponsel yang sedari tadi dipegangnya.

Bang Jali ini wartawan senior yang idealis, kritis, dan selalu membawa buku catatan. Dialah yang sering memantik diskusi dengan berita-berita terbaru yang sedang hangat di masyarakat.

“Alhamdulillah, sehat-sehat orang itu semua, Bang?” tanya Aman, pemuda polos yang sehari-hari bekerja serabutan. Mewakili suara rakyat kecil yang sering kagum sekaligus heran melihat tingkah laku orang-orang kaya di kampungnya.

Aman menyeruput teh manis hangatnya dengan mata berbinar-binar.

“Totalnya ada 342 tamu Allah yang dijadwalkan tiba di Panyabungan nanti malam. Tadi pagi pun sudah disambut hangat sama Bupati kita, Pak H. Saipullah Nasution, di Asrama Haji Medan. Mantap kali memang pelayanan tahun ini,” timpal Pak Nasution, membusungkan dada seolah dia yang mengatur semua jadwal penjemputan itu.

Pak Nasution, akrab disapa Pak Nas, berstatus Pegawai Negeri Sipil (PNS0 yang selalu tampil rapi dengan seragam cokelatnya. Suka membawa kabar dari “orang dalam” pemerintahan, birokratis, tapi kadang ikut membenarkan omongan warung.

“Bah, berarti makin nambahlah daftar ‘Oji’ di kampung kita ini, kan? Siap-siaplah kita nengok makin banyak peci putih berkeliaran bawa mobil Pajero,” sahut Ucok Gondrong, preman kampung yang gayanya ceplas-ceplos, sok keras tapi sebenarnya hatinya lumayan peka terhadap ketidakadilan sosial. Suka menyindir dengan gaya khas jalanan Medan-Madina.

Ucok Gondrong tertawa sinis, membuang puntung rokoknya ke asbak.

“Hush, kau ini Cok, bahasamu itu dijaga sikit. Gelar haji itu mulia. Jangan sembarangan kau buat jadi candaan,” tegur Ustadz Mahmud dengan nada lembut namun penuh wibawa.

Ustadz Mahmud sering menjadi sosok penengah yang tenang. Bicaranya selalu berlandaskan agama, namun tidak kaku. Ia kritis terhadap fenomena sosial melalui kacamata esensi ibadah.

“Bukan apa-apa, Ustadz. Coba Ustadz tengok sendiri macam mana realitanya di Madina ini. Kalau ada orang dipanggil ‘Oji’, apa yang pertama kali terlintas di kepala warga? Bukan karena dia rajin sedekah, bukan karena dia teladan di masjid! Tapi, karena hartanya menumpuk, propertinya di mana-mana, tanahnya berhektar-hektar, sawah dan kebunnya luas sejauh mata memandang. Oji di sini lebih cocok artinya Orang Tajir, bukan Orang Haji!” sembur Ucok Gondrong berapi-api.

“Ada betulnya juga cakap Bang Ucok itu. Kemarin saja, waktu musim panen, ada Oji di kampung sebelah yang pelitnya minta ampun. Jangankan sedekah panen, upah manen kita pun ditawarnya sampai ke tulang,” gumam Aman pelan, teringat nasibnya yang sering dibayar murah.

“Makanya, di balik rasa haru dan rindu keluarga yang membuncah menyambut kepulangan ini, terselip satu pesan mendalam yang harus kawan-kawan pahami. Kepulangan ini bukan sekadar perayaan bawa gelar baru. Ini awal dari ujian pembuktian untuk menjadi teladan di tengah masyarakat,” jelas Bang Jali dengan nada serius ala redaktur media nasional.

“Betul sekali itu, Bang Jali. Mengenakan peci putih dan disapa dengan sebutan Pak Haji atau Bu Hajjah memang bawa kebanggaan. Tapi, esensi haji yang mabrur sejatinya baru benar-benar diuji saat mereka kembali berbaur dengan tetangga di kampung halaman,” tambah Ustadz Mahmud sambil mengaduk kopinya perlahan.

“Maksud Ustadz, percuma naik haji kalau balik-balik sifatnya masih macam lintah darat?” tanya Pak Nas, memancing dengan nada sedikit provokatif.

“Sikap sabar, kebiasaan berbagi, dan ketenangan batin yang ditempa selama di Tanah Suci itu, Pak Nas, sudah semestinya mewujud dalam tindakan nyata sehari-hari. Ibadah haji itu bawa misi penting untuk mendongkrak kesalehan sosial, bukan sekadar kesalehan individu,” jawab Ustadz Mahmud mantap, membuat seisi lopo terdiam sejenak meresapi kata-katanya.

“Paten kali memang Ustadz kita ini kalau sudah ceramah! Cocok itu. Jangan cuma keimanan di Makkah aja yang naik, tapi pas pulang ke Panyabungan, ego dan kebun sawitnya pun ikut naik, sementara kepedulian sosialnya ke masyarakat nyungsep,” celetuk Ucok Gondrong memecah keheningan, memancing tawa getir dari meja sebelah.

“Prosesi haji dan umrah itu memang diharapkan meningkatkan keimanan, ketaqwaan, serta kepedulian sosial. Tapi, terlepas dari Oji-oji yang disindir Ucok tadi, kita tetap harus bersyukur dan mendoakan para jamaah kita,” ujar Bang Jali menengahi, kembali melihat ke arah catatan kecilnya.

“Iya Bang, selamat berkumpul kembali bersama keluarga tercinta untuk para jamaah. Kasihan juga pasti banyak keluarga yang sudah tak sabar menunggu di rumah,” kata Aman dengan nada tulus.

“Dan di tengah suasana sukacita ini, mari kita sejenak menundukkan kepala. Kita doakan satu saudara kita, jamaah asal Madina yang berpulang di Makkah. Semoga almarhum husnul khotimah dan keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan,” ucap Ustadz Mahmud seraya menadahkan tangan, yang langsung diikuti kata ‘Amin’ serentak oleh seluruh pengunjung lopo.

“Amin. Harapan kita cuma satu untuk jamaah yang tiba nanti malam. Jadikanlah pengalaman spiritual di Tanah Suci itu sebagai lentera. Warga Madina sekarang menanti kiprah dan keteladanan kebaikan kalian di lingkungan sekitar. Bukan menanti undangan pamer harta,” tutup Pak Nas sambil mengangkat cangkirnya.

“Nah, kalau yang ini aku setuju seratus persen sama kau, Pak Nas! Kopi tambah satu lagi, Lek!” teriak Ucok Gondrong mengakhiri diskusi pagi itu. Sementara matahari Panyabungan mulai merangkak naik, sehangat harapan warga akan lahirnya para Oji yang benar-benar mabrur, bukan sekadar makmur. (*)

Tags: BurasMabrurMakmurOji
ShareTweet
Next Post
Forum Klub Sepak Bola Minta Plt Ketua PSSI Madina Diganti, Ini Alasannya

Forum Klub Sepak Bola Minta Plt Ketua PSSI Madina Diganti, Ini Alasannya

Discussion about this post

Recommended

Peluang Bisnis, Tanaman Bonsai Asal Indonesia Diminati Rakyat Negeri Kincir Angin

Peluang Bisnis, Tanaman Bonsai Asal Indonesia Diminati Rakyat Negeri Kincir Angin

5 tahun ago
Polda Lampung Tangkap Perekrut Dua Siswi SMP Jadi Terapis Pijat Plus-plus

Polda Lampung Tangkap Perekrut Dua Siswi SMP Jadi Terapis Pijat Plus-plus

4 minggu ago

Popular News

  • Mensesneg Ungkap Alasan Pencopotan Dadan dari Jabatan Kepala BGN

    Kejagung Tangkap Tiga Mantan Petinggi BGN, Satu Sempat Buron ke Jawa Barat

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Dugaan Malapraktik, Pasien Laporkan RS Permata Madina dan Dua Dokter ke Polisi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bupati Madina Salurkan 62 Ribu Paket Bantuan Beras dan Minyak Goreng

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Batal Kuliah Kedokteran di China, Santri Ini Malah Dapat Beasiswa di Amerika

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Misteri Urine Jernih di Malam Minggu

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Contact
  • Home
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi

© 2026

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

error: Copyright Start News Group
No Result
View All Result
  • Home
  • Madina
  • Sumut
  • Newsline
  • Nasional
  • Newsline
  • Kabar Desa
  • Opini
  • Figur
  • Komunitas

© 2026