• Media Kit
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
Selasa, Juni 2, 2026
  • Login
Start News
  • Home
  • Newsline
  • Madina
  • Sumut
  • Nasional
  • Kabar Desa
  • Figur
  • Hiburan
  • Start TV
  • Start FM
No Result
View All Result
  • Home
  • Newsline
  • Madina
  • Sumut
  • Nasional
  • Kabar Desa
  • Figur
  • Hiburan
  • Start TV
  • Start FM
No Result
View All Result
No Result
View All Result

Petarung dari Dalan Lidang

Penulis: Saparuddin Siregar | Pemimpin Redaksi StartNews.co.id

by Redaksi
Senin, 1 Juni 2026
0 0
0
Petarung dari Dalan Lidang

Ilustrasi.

ADVERTISEMENT

KEPULAN asap kopi Mandailing panas bercampur dengan aroma kretek mengudara di sudut Warung Kopi Wak Kumis, Kelurahan Dalan Lidang, pagi itu. Suara dentingan sendok beradu dengan gelas kaca menjadi musik latar khas yang tak pernah absen.

“Paten kali memang kulihat acara penamatan di Pondok Pesantren Darul Ikhlash semalam, bah! Ratusan orang kumpul, merinding juga awak nengoknya,” buka Boja, sang intelektual warung kopi. Berwawasan luas, rajin membaca berita, dan selalu menganalisis isu sosial. Bicaranya lugas tapi tetap dengan logat khas anak Medan.

Boja baru saja menutup layar ponsel usai membaca berita lokal di media online StartNews.co.id.

“Acara yang di Dalan Lidang ini, kan? Yang datang Pak Bupati Saipullah Nasution itu? Ramai kali memang kulihat jalanan. Sampai macet keretaku dibuatnya,” sahut Suaib, pekerja serabutan yang ceplas-ceplos, realistis, dan cenderung skeptis terhadap pejabat. Selalu melihat segala hal dari sudut pandang perut rakyat kecil.

Suaib masih sibuk mengoleskan selai srikaya ke atas roti bakarnya.

“Iya, Bang! Angkatan ke-34 itu. Ada 200 santri kelas enam yang tamat. Mantap kali pidato Pak Bupati semalam. Katanya santri sekarang nggak boleh cengeng, harus jadi petarung!” sambung Roy dengan mata berbinar-binar penuh semangat.

Roy ini pemuda energik yang sangat melek teknologi. Pikiran dan pandangannya selalu tertuju pada masa depan, tren digital, dan peluang usaha.

“Bah, petarung macam mana pula maksudnya? Disuruhnya santri itu main tinju apa cemana? Zaman sekarang ini cari kerja susah, yang penting itu perut kenyang, bukan pandai bertarung,” timpal Suaib dengan nada skeptis, langsung menyela sebelum rotinya masuk ke mulut.

“Makanya dengar dulu kalau orang cakap, Suaib! Jangan asal motong aja kau,” tegur Boja sambil menggelengkan kepala.

“Petarung maksud Pak Bupati itu bukan adu fisik, kedan! Maksud beliau, tamat pegang ijazah itu baru titik awal. Tantangan zaman sekarang ini cepat kali berubahnya. Ada pergeseran budaya, teknologi, sampai geopolitik. Kalau santri cuma diam aja nunggu nasib, ya dilibas zamanlah!”

“Betul apa yang dibilang si Boja itu. Pak Bupati kan didampingi istrinya juga semalam, Ketua TP PKK Ibu Yupri Astuti, sama pejabat eselon dua lainnya. Pesan beliau itu dalam maknanya. Ilmu agama yang didapat di pesantren jangan sampai mengendap sia-sia kalau tak lanjut kuliah,” tambah Fadli yang sedari tadi menyimak sambil menyeruput kopi hitamnya perlahan.

“Maksud Fadli, santri yang nggak kuliah disuruh ngapain rupanya?” tanya Roy yang mulai penasaran.

“Disuruh turun langsung ke tengah umat! Buka pengajian di kampung masing-masing, ajarin ngaji anak-anak. Kata Pak Saipullah, itu bentuk pengabdian paling nyata. Biar ilmu itu tak pudar. Kan mantap itu, jadi pencerah di tengah masyarakat kita yang makin tak jelas arahnya ini,” jelas Fadli dengan nada tenang nan berwibawa.

“Cocok aku rasa itu! Zaman sekarang HP lebih pintar dari manusia. Anak SD pun udah pandai main media sosial. Kalau santrinya gaptek, cemana mau dakwah? Harus bisa santri itu berdakwah pakai TikTok, YouTube, atau Instagram. Biar melek teknologi macam kata Pak Bupati!” seru Roy sambil mengangkat ponsel pintarnya tinggi-tinggi.

“Cakap memang gampang. Tapi, kulihat di berita, Pak Bupati sendiri ngaku kalau anggaran daerah kita terbatas. Cemana mau dukung penuh pesantren kalau duitnya pas-pasan, bah?” sergah Suaib yang tak mau kalah, masih mencari celah dari kebijakan pemerintah.

“Eh, justru bagus beliau jujur bilang anggaran terbatas, daripada janji manis tapi tak ada buktinya,” balas Boja dengan cepat.

“Tapi kan Pemkab Madina tetap komitmen dampingi dunia pesantren. Coba kau pikir, Darul Ikhlas ini udah mencetak 1.600 alumni! Itu aset besar untuk Madina. Pak Bupati itu optimis karena melihat militansi pimpinan pondok dan para gurunya.”

“Iya, lagipula bukan cuma soal anggaran yang bikin pening kepala, Boja. Ada yang lebih ngeri dari kemiskinan di luar pagar pesantren itu,” ucap Fadli dengan raut wajah yang mendadak serius.

“Apa rupanya, Fadli? Pinjol?” tebak Roy asal.

“Bukan! Narkoba!” tegas Fadli sambil mengetukkan jari telunjuknya ke atas meja.

“Kepala BNNK Madina, Pak Syamsul Arifin, semalam juga ngomong keras di depan santri. Narkoba itu harus jadi musuh bersama. Kalau santri sampai kena pergaulan bebas dan masuk jurang narkotika, hancur lebur semua hafalan Al-Quran dan hadis yang dicari bertahun-tahun.”

“Ngeri kali memang kalau udah urusan barang haram itu. Bisa rusak reputasi almamater pesantren,” kata Boja menyetujui pernyataan sang tetua.

“Makanya, betul kata pesantrennya semalam. Mereka berterima kasih sama perhatian Pemkab Madina, dan berharap lulusan Angkatan XXXIV ini bisa jadi generasi Qurani yang berakhlak mulia. Bukan cuma pandai doa, tapi jadi motor penggerak pembangunan buat Madina dan Indonesia,” ujar Fadli menutup penjelasannya dengan senyuman penuh harap.

“Mantaplah kalau kek gitu! Berarti habis dari sini, awak pun harus jadi petarung jugalah! Minimal petarung cari pelanggan jualan online,” celetuk Roy sambil tertawa, memecahkan suasana serius.

“Kalau kau petarung online, aku petarung nyari sewa sajalah hari ini. Udah siang, narik dulu awak ya!” pungkas Suaib seraya berdiri, meneguk habis air putih di gelasnya, dan melangkah keluar warung menuju kenyataan hidup yang harus ia menangkan. (*)

Tags: 'Petarung'BurasDalan Lidang
ShareTweet
Next Post
6,8 Kg Ganja Disembunyikan di Lapas II-B Padangsidimpuan, Empat Tersangka Ditangkap

6,8 Kg Ganja Disembunyikan di Lapas II-B Padangsidimpuan, Empat Tersangka Ditangkap

Discussion about this post

Recommended

Pecahkan Dua Rekor MURI, Atika: Usia Bukan Halangan Jadi Pemimpin

Pecahkan Dua Rekor MURI, Atika: Usia Bukan Halangan Jadi Pemimpin

5 tahun ago
Bupati Madina Salurkan Gaji, Pedagang Pasarbaru Ketiban Rejeki

Bupati Madina Salurkan Gaji, Pedagang Pasarbaru Ketiban Rejeki

4 tahun ago

Popular News

  • Lima Pejabat Eselon II Pemkab Madina Sertijab, Wajah Baru Stok Lama

    Lima Pejabat Eselon II Pemkab Madina Sertijab, Wajah Baru Stok Lama

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Jamin Kecukupan Penumpang Pesawat, Kepala Daerah se-Tabagsel Sepakat Hidupkan Dua Bandara

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Baksos Bakal Warnai HUT ke-5 Komunitas Pecinta Toyota Fortuner Sumut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Batal Kuliah Kedokteran di China, Santri Ini Malah Dapat Beasiswa di Amerika

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kisah Maryam Damim, Tukang Gubah Masjid dan Gonjong Naik Haji

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Contact
  • Home
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi

© 2026

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

error: Copyright Start News Group
No Result
View All Result
  • Home
  • Madina
  • Sumut
  • Newsline
  • Nasional
  • Newsline
  • Kabar Desa
  • Opini
  • Figur
  • Komunitas

© 2026