SEBUAH lopo kopi (warung kopi) di pusat kota Panyabungan. Kepulan asap dari gelas kopi hitam berpadu dengan aroma kretek. Suasana pagi riuh rendah oleh obrolan warga. Di salah satu meja sudut, empat pria tengah asyik membedah kabar terbaru pasca-Idul Adha.
“Paten kali kutengok lembu bantuan Pak Presiden Prabowo itu! Limosin, Bos! Besar kali macam tak muat kuali kupikir pas disembelih di Halaman Bagas Godang semalam,” seru Si Poltak sambil menggebrak meja pelan, matanya berbinar antusias.
Si Poltak ini tergolong pemuda yang antusias, reaktif, dan selalu semangat membahas berita-berita viral atau hal-hal yang besar secara fisik. Sering membaca berita dari permukaan saja.
“Bukan soal besarnya aja yang perlu kau tengok, Tak. Kau perhatikanlah gaya main Bupati kita, Pak Saipullah, pas acara itu. Dia milih Kelurahan Kotasiantar itu bukan asal tunjuk tangan. Pake data dia mainnya, pendekatan demografi. Ada sekitar 6.415 jiwa di situ, makanya tingkat kepadatannya tinggi,” jelas Makmur sambil merapikan letak kacamatanya, nadanya serius seperti dosen yang sedang memberi kuliah.
Makmur dikenal sosok pemikir analitis. Menyukai angka, data demografi, dan pendekatan terukur dalam setiap pengambilan keputusan.
“Ah, baguslah kalau birokrasi sudah mulai main data, tak sekadar seremoni potong pita atau potong lembu saja. Asas keadilan distribusi itu memang yang paling penting. Jangan sampai bantuan daging skala besar begini cuma muter-muter di lingkaran yang dekat kekuasaan atau di pusat pemerintahan saja,” timpal Bang Ucok dengan nada agak sinis namun mengapresiasi, sambil menyesap kopi hitamnya dalam-dalam.
Bang Ucok ini pengamat kritis yang tajam. Gemar menyoroti isu tata kelola pemerintahan, transparansi, dan kebijakan publik. Representasi mata yang selalu mengawasi gerak-gerik birokrasi daerah.
“Betul cakap kau itu, Cok. Realitas di lapangan memang begitu, yang padat penduduknya sering kali kurang jatah. Makanya sewajarnya ditaruh di Kotasiantar. Tapi, jangan kalian lupa juga, Pemkab Madina kita ini lagi pusing mikirin target mereka sendiri,” sahut Wak Leman, pemilik warung kopi yang pragmatis dan tenang. Lebih peduli pada perut rakyat dan realitas di lapangan daripada retorika. Bijak karena pengalaman.
Wak Leman baru saja meletakkan sepiring pisang goreng panas di tengah meja.
“Pusing kek mana maksud Wak? Kan udah banyak itu dagingnya?” tanya Si Poltak, keningnya berkerut bingung.
“Gini, Tak. Target Pemkab itu 21 ekor hewan kurban untuk Idul Adha tahun ini. Tapi, kata Pak Saipullah pas di Masjid Agung Nur Ala Nur, yang terkumpul baru 18 ekor. Rinciannya 14 sapi sama 4 kambing. Masih ngos-ngosan panitia cari tambahan dari pihak eksternal,” jawab Makmur, menyambung penjelasan Wak Leman dengan angka-angka akurat.
“Nah, di situlah letak tantangannya. Mengelola ekspektasi masyarakat itu tak gampang. Tapi, aku dengar Ketua Panitia, si Bahruddin Jualiadi, udah mulai mendistribusikan yang 18 ekor itu sejak Senin malam. Fokusnya cerdik juga dia, langsung dihantam ke desa-desa yang kurbannya minim. Biar pemerataan itu bukan cuma jargon manis di media,” kata Bang Ucok, memberikan analisis tata kelolanya sambil menunjuk pakai sebatang rokok yang belum dinyalakan.
“Makanya yang empat ekor kambing itu dialokasikan khusus ke Kecamatan Panyabungan Timur sana, kan? Kek di Desa Aek Nabara, Banjar Lancat, sama Hutatinggi. Diserahkan bulat-bulat ke masyarakat biar disembelih sesuai syariat. Aman itu, biar merata semua pelosok ngerasain,” tambah Wak Leman sambil mengelap meja dengan serbet basahnya.
“Berarti Pak Bupati mikir panjang juga, ya. Tahun depan katanya mau dicari lagi daerah yang lebih padat. Indikatornya tetap data kepadatan sama tingkat kebutuhan. Mantap kali pun, biar adil!” ucap Si Poltak, kembali bersemangat dan manggut-manggut setuju.
“Ya, kita kawal teruslah kinerja birokrasi ini. Obrolan lopo kopi macam kita ini kan bagian dari pengawasan juga, dari sudut pandang warga. Harapannya memang momen Idul Adha ini betul-betul jadi refleksi. Solidaritas dan kepedulian sosial itu harus terukur, bukan cuma ritual tahunan. Mari kita pantau janji penggunaan indikator data ini untuk tahun-tahun kedepan,” pungkas Bang Ucok, menutup diskusi pagi itu dengan ketukan jari di meja, menuntut komitmen nyata dari para pemangku kebijakan. (*)





Discussion about this post