SEBUAH warung kopi sederhana di sudut taman kota Panyabungan, Kabupaten Mandailing Natal (Madina). Asap rokok kretek mengepul di udara, berbaur dengan aroma kopi hitam pekat. Pagi itu, sisa-sisa kemeriahan Festival Sirondang Bulan masih membekas di alun-alun.
“Paten kali memang acara Festival Sirondang Bulan semalam, kan? Ramai betul alun-alun itu awak nengok. Bergetar jantung ini pas nengok anak-anak SMA itu main Gordang Sambilan. Macam hidup lagi roh leluhur kita di Panyabungan ini!” buka Ucok sambil meletakkan gelas kopinya dengan semangat.
Sebagai pemuda biasa, Ucok memang bicaranya blak-blakan, praktis, dan menyuarakan opini akar rumput. Gaya bicaranya paling kental dengan logat dan slang Medan. Dia menikmati hiburan, tapi juga kritis secara natural.
“Cocok! Apalagi pas Pak Bupati pidato semalam, Bang. Mantap kali komitmen beliau itu. Janji mau siapkan ruang khusus buat anak muda berinovasi, biar adat lokal tak tergerus zaman katanya. Bangga kali awak dengarnya sebagai aparatur negara. Bukti pemerintah kita peduli,” sahut Pak Harahap dengan senyum lebar, membusungkan dadanya sedikit.
Pak Harahap ini pegawai negeri sipil yang berhati-hati. Dia selalu berusaha menjadi tameng dan membela kebijakan pemerintah daerah, meski terkadang argumennya goyah jika dihadapkan pada fakta anggaran.
“Ah, cakap-cakap di bibir ajanya itu! Dari zaman baheula pun begitu terus isi pidato pejabat kalau lagi di atas panggung. ‘Budaya adalah identitas kita!’ Giliran kita orang seni ini minta dana pembinaan sanggar, dibilang kas daerah kosong, defisit anggaranlah, inilah, itulah!” gerutu Tulang Binsar sambil mengembuskan asap rokoknya kuat-kuat ke udara.
Tulang Binsar boleh dibilang budayawan yang idealis dan penjaga garis keras tradisi Mandailing. Karakternya keras, sering bersikap sinis jika melihat kebudayaan hanya dijadikan komoditas politik semata.
“Memang begitulah kalau politik panggung, Tulang. Bapak-bapak ini kan cuma baca rilis humas di Facebook saja. Kelen tahu nggak dari mana aslinya dana acara megah semalam itu?” pancing Bang Lubis, wartawan senior yang selalu bersikap kritis, tajam, analitis, dan selalu berbicara berdasarkan data. Sebagai jurnalis kawakan, dia tidak mudah terbuai oleh retorika pejabat di atas panggung.
“Dari Pemda lah pastinya, Bang! Kan Pak Bupati yang meresmikan. Apalagi Sekda sama kepala-kpala OPD, Ketua DPRD pun turun gunung semua nengok Tari Kreasi Panen Padi itu,” jawab Pak Harahap, membela diri dengan nada yakin.
“Bah, salah kau, Harahap. Jangan kau kira karena bupati yang pidato, lantas duitnya keluar dari APBD. Biar kelen tahu, acara semalam itu sukses terselenggara karena ada dukungan anggaran dari Kementerian Kebudayan pusat! Pemda kita ini minim kali perhatiannya sama seni budaya Mandailing kalau udah urusan anggaran,” ungkap Bang Lubis tersenyum sinis, mengeluarkan sebatang rokok dari bungkusnya.
“Macam mana pula ceritanya itu, Bang? Jadi Pemkab cuma numpang beken aja semalam?” tanya Ucok dengan dahi berkerut, merasa tertipu.
“Bukan numpang beken, Cok. Tapi memang postur APBD kita untuk kebudayaan itu miris nengoknya. Janji bupati mau fasilitasi anak muda berinovasi itu sedap kali didengar. Tapi realitanya? Kalau panitia macam si Dedi Tanjung itu tak pandai-pandai cari tembusan ke Kementerian pusat, tak akan jalan itu teater monolog sama penampilan kesenian yang kelen tengok semalam,” jelas Bang Lubis dengan nada datar namun menohok.
“Eh, jangan gitulah, Bang Lubis. Pemkab kan memfasilitasi tempat. Alun-alun Taman Kota itu kan aset daerah. Itu wujud dukungan juga namanya. Janganlah kelen matikan terus semangat pemerintah daerah ini,” bela Pak Harahap, meski suaranya mulai terdengar tidak seyakin tadi.
“Heh, kalau cuma ngasih izin pakai lapangan, tukang parkir pun bisa, Harahap! Yang kita tuntut ini kebijakan anggaran yang nyata! Jangan pas anak-anak SMA itu sudah berdarah-darah latihan, inisiasi sendiri, turun dana dari Kementerian, baru pejabat datang tepuk tangan di barisan depan sambil kampanye pelestarian budaya. Malu kita sebagai orang Mandailing!” potong Tulang Binsar dengan suara meninggi hingga beberapa pengunjung warung menoleh.
“Pas kali itu, Tulang! Awak sebagai rakyat biasa ini nengoknya pun jadi lucu. Janji mau bikin ‘ruang khusus’ inovasi, tapi ruangannya di mana? Bentuknya macam mana?” tambah Ucok tertawa renyah.
“Itulah tugas kita mengawalnya sekarang, kawan-kawan. Janji bupati semalam itu sudah terekam jadi jejak digital. Kita tagih nanti di pembahasan APBD berikutnya, ada tidak porsi anggaran yang jelas dan berpihak untuk pelestarian adat lokal ini? Kalau porsinya masih nol besar dan cuma mengandalkan proposal ke pusat, berarti memang Festival Sirondang Bulan semalam cuma jadi panggung pencitraan gratisan,” pungkas Bang Lubis menutup perdebatan, menyeruput sisa kopi hitamnya yang mulai mendingin. (*)





Discussion about this post