Seorang jamaah haji lansia asal Kota Medan meninggal dunia di Mekkah akibat sesak napas. Ketatnya tantangan kesehatan yang dihadapi ribuan jamaah lansia lainnya di Tanah Suci menjadi sorotan.
Medan, StartNews – Seorang jamaah haji lanjut usia (lansia) asal Kota Medan bernama Kasiani Sigito Tarmidi (69), meninggal dunia akibat mengalami sesak napas di Mekkah, Arab Saudi. Almarhum diberangkatkan melalui Kelompok Terbang (Kloter) 8 pada akhir April 2026.
Almarhumah Kasiani yang berangkat pada 30 April 2026 tersebut mengembuskan napas terakhirnya pada Rabu, 13 Mei 2026. Almarhum dimakamkan di pekuburan Soraya, Mekkah, dengan penanganan yang dipastikan sesuai prosedur resmi pemerintah Arab Saudi.
Kasus meninggalnya jamaah haji lansia itu menjadi peringatan bagi kesiapan posko kesehatan, mengingat struktur demografi jamaah Embarkasi Medan tahun ini memiliki kerentanan yang tinggi.
Dari total 5.972 jamaah dan petugas yang terbagi dalam 17 Kloter, jumlah jamaah perempuan mendominasi, yaitu sebanyak 3.550 orang. Sementara jamaah laki-laki berjumlah 2.422 orang. Sebagian besar di antaranya masuk dalam kategori usia senja.
Kerentanan faktor kesehatan ini sudah terlihat sejak proses pemulangan dan sterilisasi jamaah di Tanah Air sebelum terbang. Tercatat 18 orang yang gagal berangkat sesuai jadwal, dengan rincian delapan jamaah terpaksa ditunda karena mendadak jatuh sakit, empat jamaah batal berangkat sebelum masuk asrama akibat kondisi fisik yang memburuk, serta menyisakan enam kursi kosong atau open seat pada manifest penerbangan Garuda Indonesia.
Untuk mengantisipasi risiko fatalitas pada jamaah lansia ini, Embarkasi Medan menyiagakan 68 petugas haji pengawal. Komposisi ini menempatkan 34 orang Tim Kesehatan Haji Indonesia (TKHI) sebagai garda terdepan di lapangan, didampingi 17 orang Tim Pemandu Haji Indonesia (TPHI) dan 17 orang Tim Pembimbing Ibadah Haji Indonesia (TPIHI) yang disebar rata untuk mengawasi sekitar 358 hingga 360 jamaah di setiap Kloternya.
Meskipun pengawasan medis di setiap Kloter sudah diperketat dengan porsi tim kesehatan yang lebih banyak, kondisi kelelahan dan komorbiditas bawaan jamaah tetap menjadi faktor penentu yang membutuhkan perhatian ekstra selama fase ibadah di Tanah Suci.
“Faktor kesehatan masih menjadi tantangan terbesar dalam penyelenggaraan haji, karena mayoritas jamaah merupakan lanjut usia dan memiliki risiko kesehatan tertentu,” ujar Kasubbag Humas Kanwil Kementerian Haji dan Umrah Provinsi Sumatera Utara Suci Ramadhani, Jumat (15/5/2026).
Reporter: Sir




Discussion about this post